
Sebelum baca, mohon perhatiannya. Silakan follow instagram untuk jadwal up novel, supaya tahu setiap ada kendala seperti bab ini yang tertahan lama di proses review Noveltoon. Instagram : casanova_wetyhartanto
***
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22.30 malam saat Pram menutup laptop di hadapannya. Tubuhnya mulai merasa penat, demikian juga matanya. Usia membuat fisiknya tidak setangguh dulu lagi. Di masa muda, Pram bisa kerja tanpa istirahat, berjam-jam di depan komputer atau membaca angka-angka tanpa sakit kepala. Namun, tidak lagi untuk usianya sekarang.
Memijat pangkal hidung, kemudian merenggangkan otot-ototnya, Pram mulai merindukan sosok Kailla. Ia rindu Kailla yang dulu. Yang selalu menyusulnya setiap terlambat masuk ke kamar, yang menggodanya tanpa malu-malu.
“Sampai kapan situasi ini akan berakhir.” Pram berkata lirih. Ingatannya tertuju pada kehamilan sang istri.
“Ya sudah, kalau dia tidak mau datang padaku lagi, itu artinya aku yang harus menurunkan egoku dan datang padanya. Toh, ini rumah tangga, aku dan Kailla adalah suami istri, bukan lawan atau musuh. Tidak ada yang menang atau kalah dalam pertengkaran ini. Andai perang dingin usai, bukankah ini kemenangan bersama.” Pram tersenyum, menutup laptop dan menyeret kakinya keluar dari ruang kerja.
Tak lama, pria itu sudah berdiri di depan kamar tidurnya. Terlalu lama tidur terpisah dan berhari-hari melewatkan malamnya di ruang kerja, Pram hampir lupa dengan empuk tempat tidurnya.
“Kai, kamu sudah tidur?” Ketukan di sela panggilan Pram itu terdengar pelan. Ia tidak mau teriakannya mengejutkan si kembar yang berada di kamar sebelah.
“Sayang, apa aku boleh masuk? Aku mengantuk sekali.”
Senyap. Tidak terdengar pergerakan apalagi sahutan dari dalam kamar. Hampir sepuluh menit berdiri di depan pintu, Pram yang tak kenal lelah dan putus asa kembali mengetuk.
“Kai, aku masuk sekarang. Aku rindu ....” Pram terkejut. Lidah Pram kelu saat pintu di hadapannya bergerak dan terbuka. Kailla muncul dengan wajah mengantuk dan lingerie merah menyala, tampil menggoda seperti biasa.
“Ya Tuhan, dia pasti sengaja mengerjaiku," ucap Pram dalam hati.
“Ada apa?” tanya Kailla dengan mata setengah terpejam, bersandar di pintu. Kaki mulus tanpa alas kaki itu bergerak kecil, mengacaukan konsentrasi Pram yang memang sudah terusik sejak awal.
Dia benar-benar sedang menguji imanku.
Menelan saliva, Pram hanya bisa berkata dalam hati.
“Apa aku boleh tidur di dalam?” tanya Pram dengan polosnya. Tatapan pria dewasa itu sudah seperti singa kelaparan yang disuguhi daging segar.
“Terserah.” Kailla berkata ketus. Berbalik badan dan mengulum senyuman. Ia yakin Pram sedang bertarung di dalam hati, melangkah masuk ke dalam perangkapnya atau memilih tetap tidur di luar.
Pria 45 tahun dengan wajah lelah itu melangkah masuk. Menutup pintu kamarnya pelan-pelan, Pram tersenyum bahagia, merayakan pencapaiannya malam ini. Setelah banyak malam tidur sendirian, kedinginan dan kesepian, malam ini ia bisa mendekap istrinya.
“Bayiku memang pengertian. Harusnya memang seperti itu, Nak. Buat Mommy tak bisa lepas dari Daddy seperti kedua kakak kembarmu yang begitu pintar memainkan emosi Mommy.” Pram berkata pelan.
“Kita masih bertengkar. Kamu masih ingat, kan?” Kailla memasang wajah serius.
Pram mengangguk.
“Kita masih harus jaga jarak. Ikuti anjuran pemerintah. Tidak boleh ada kontak fisik.” Kailla memainkan lingerie merahnya, memasang wajah nakal dengan lirikan menggoda. Belum lagi suara merdu mendayu Kailla membuat pertahanan diri pria dewasa itu hampir runtuh.
"Maksudnya, Kai?"
"Kita tidak boleh tidur bersama sampai situasi aman terkendali. Ini masih zona merah."
"Aku tidak paham." Pram menggeleng.
"PPKM, Sayang."
"Hah!" Pram terbelalak dengan aturan-aturan yang diterapkan Kailla.
"Pelan Pelan Kamu Mengerti, Sayang." Kailla sudah ingin tergelak saat melihat wajah Pram yang memelas.
Hmm, dia sedang menguji dan mengerjaiku.
Pram diam-diam menelan ludah saat melihat Kailla yang tampil luar biasa. Dirinya yang telah lama dipaksa untuk berpuasa, kini sedang dikerjai.
“Kamu yang memaksa tidur di dalam. Aku tidak akan melarangmu. Silakan nikmati malam panjangmu, Sayang. Jangan sampai mengeluh, apalagi menyesal. Ini pilihanmu, tidak ada yang memaksamu tidur di dalam kamar.” Kailla menunjuk ke arah sofa. Tak lama, ia berjalan dengan gemulai menuju ke tempat tidur, mengambil sebuah bantal dan menyerahkannya kepada sang suami.
“Selamat malam, Sayang.” Kailla menyapu bibirnya dengan lidah sembari mengedipkan mata. “Ingat, jaga jarak. Jangan menodai kepercayaanku.” Kailla berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan diri. Tak lama, terlihat ia membungkus tubuhnya rapat-rapat ke dalam selimut tebal.
“Cepat tidur. Semoga mimpi indah, Sayang.” Kailla mengulum senyuman. Ia bahagia saat mendapati Pram berdiri memeluk bantal tanpa bisa berkata apa-apa.
Baik, kita lihat saja nanti. Malam ini kamu sendiri yang datang padaku, Kai.
Setelah berpikir, Pram tersenyum saat ide usil melintas di otaknya.
***