
Hening menyapa sepasang suami istri yang tampak mesra meskipun sedang tak bertegur sapa. Kailla duduk menyamping di atas pangkuan suaminya, menatap jauh ke depan. Sedangkan sang suami, sibuk membujuk dengan berbagai cara.
"Jangan marah lagi.” Pram mengencangkan pelukannya di pinggang ramping istrinya.
Kailla diam.
“Apa tidak lelah, sudah hamil bayiku, ditambah masih marah-marah lagi. Bagaimana kalau marahnya dilanjutkan setelah melahirkan?” tawar Pram, senyum-senyum sendiri. Sudah lama sekali tidak memeluk dan memangku istrinya seperti ini. Ia sudah merindukan semua hal, termasuk banyak hal gila yang biasanya dilakukan wanita cantik di pangkuannya.
Kailla terlihat menggembungkan kedua pipinya. Ibu hamil muda itu masih cemberut.
“Kamu tidak merindukaku?” Pram berbisik pelan di telinga istrinya.
Wanita cantik yang masih setia merengut itu menggeleng.
“Tidak rindu milikku?” Pram membenamkan wajahnya di rambut panjang Kailla yang beraroma buah-buahan.
“Hmmm.” Kailla masih bungkam dan masih diam seribu bahasa.
“Jangan marah lagi. Kalau kamu memang tidak rindu padaku, setidaknya bayi kita merindukan sentuhan Daddy. Tolong pertimbangkan, Sayang. Ini untuk kebaikan kita bersama.” Bujuk rayu itu masih dilancarkan, Pram tetap gigih berjuang untuk menyelesaikan semua permasalahannya dengan Kailla. Ia sudah lelah dengan perang dingin berkepanjangan.
Kailla diam-diam menyimak.
“Ah, Kailla. Kenapa kamu tampak manis sekali?” Pram mendekap erat Kailla, mengunci tubuh istrinya dengan posesif.
“Tahukah kamu, Kai. Rinduku menumpuk selama ini. Aku lebih suka kamu mengomel, membuat masalah, kalau perlu hancurkan semua mobilku di garasi. Aku tidak keberatan, tidak juga protes. Tapi jangan diam seperti ini.” Pram menyibak rambut panjang istrinya dan mengecup dalam leher jenjang menggoda, meninggalkan jejak memerah.
Ibu si kembar menggigit bibir. Pertahanan dirinya hampir runtuh, tubuhnya ikut bereaksi akan sentuhan suami yang diam-diam dirindukannya. Terlalu gengsi, Kailla tidak mau takluk dengan mudah kali ini. Kehamilan membuat harga dirinya sedikit lebih tinggi dari biasa.
“Kai, apa aku boleh ....” Suara Pram terdengar semakin berat.
Sentuhan tangan pria itu pun membuat Kailla hampir melayang, lupa dengan ego yang dijunjungnya tinggi belakangan ini. Kedua tangan saling meremas di atas pangkuan, Kailla hampir hilang kendali saat Pram mencium belakang telinganya tanpa permisi. Tidak ingat waktu, lupa dengan pekerjaan kantor yang menunggu. Bahkan saat ini Kailla lupa anak-anaknya masih menanti kehadirannya di luar.
“Sayang, boleh?” Pram mengembuskan napasnya, suaranya terdengar pelan, bergumam di telinga.
“Kamu tidak kerja?” Akhirnya Kailla menyerah. Lelah dengan kebungkamannya, ia bersuara setelah menyadari kekalahannya yang akan datang di depan mata.
“Tidak masalah. Saat ini Kailla Riadi Dirgantara yang terpenting. Sudahi pertengkaran kita, aku mohon. Kamu juga merindukanku, kan?” tebak Pram tersenyum, menyadari kemenangannya tinggal selangkah lagi.
“Aku sebenarnya sudah memaafkanmu. Jauh-jauh hari, aku sudah memaafkanmu. Aku mengenal suamiku dengan baik, aku tahu perhatian, sikap dan uang yang kamu keluarkan itu untuk apa. Tapi setiap mengingat betapa lemahnya pertahanan dirimu sekarang, aku kesal. Dulu ....” Kailla menarik napas. Terbayang bibir dan tubuh suaminya yang disentuh wanita lain, kesalnya mengumpul.
“Di mataku Keisya bukan wanita, tetapi seorang anak kecil yang tersesat dan butuh bimbingan jalan pulang.”
Kailla menoleh ke arah suaminya. “Tetap saja dia seorang gadis, punya perasaan. Makanya dia jatuh cinta padamu,” gerutu Kailla.
“Jatuh cinta padaku itu cuma perasaan tersesatnya. Dia tidak benar-benar yakin dan hanya terkejut dengan kehadiranku di dalam kehidupan mereka. Saat kita menegaskan padanya, terbukti Keisya mengerti dan tidak berulah lagi sampai hari ini. Fokus dengan sekolahnya dan mulai belajar banyak hal. Ini juga pelajaran berharga untuknya. Ke depan, aku yakin Keisya akan berpikir berulang kali sebelum bertindak. Namanya anak-anak, kamu juga pernah di posisinya. Dia hanya anak kecil yang salah mengartikan perasaan dan kenyamanannya.” Pram menjelaskan.
“Tapi, tetap saja sulit untuk menerima.” Kailla mendengus kesal.
“Aku mengerti. Aku tahu sulitnya memaafkan. Apa yang kamu rasakan sekarang, pernah aku rasakan dan ....” Pram tidak dapat melanjutkan kata-katanya, Kailla sudah membungkam bibirnya.
“Aku tahu aku salah saat itu. Tidak perlu mengingatkanku. Aku sudah melupakan dewa Yunaniku, tolong jangan mengungkitnya lagi.” Kailla cemberut.
“Keberanianmu dan Keisya hampir sama. Apa kamu sadar?” Pram bertanya setelah berhasil menyingkirkan tangan Kailla yang menutup paksa mulutnya.
“Tidak semua orang memiliki keberanian itu. Sudahlah, aku minta maaf. Tolong lupakan semuanya. Kamu sedang hamil lagi sekarang dan aku tahu kehamilanmu kali ini sangat berat.” Pram tersenyum.
“Baiklah, kali ini aku memaafkanmu.” Kailla mencoba berdamai.
“Jadi ... aku tidak dilockdown lagi?” tanya Pram, memainkan alisnya.
“Tetap saja harus prokes. Aku sedang hamil muda, sedang tidak ingin menjamu tamu.” Kailla tergelak saat wajah suaminya meredup dan putus asa.
“Tega kamu, Kai.” Pram baru saja berhasil menggulingkan istrinya di atas sofa saat ponsel di saku celananya berdering.
“Tunggu sebentar.” Pram menarik tubuhnya dan duduk kembali. Merogoh ponsel mahalnya dari kantong celana, pria itu mengerutkan dahi.
“Ditya?” Pram mengalihkan pandangan pada Kailla yang berbaring dengan wajah pasrah.
“Siapa?” tanya Kailla tanpa suara. Hanya gerak bibir yang bisa terbaca.
“Aku ada sedikit masalah, kita lanjutkan nanti saja.” Pram mengecup bibir Kailla sekilas dan buru-buru melangkah keluar dari kamar.
“Ya, ada apa?” tanya Pram sesaat menutup pintu kamar.
“Orangku sudah menemukan jawaban untuk pertanyaanmu. Kapan ada waktu? Aku juga ingin bicara denganmu.” Ditya membuka pembicaraan.