The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 44



Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam saat Kailla kembali dari toilet sembari menyeret gaun panjangnya.


"Sayang, aku melihat Naina pingsan di toilet." Kailla berjalan tertatih-tatih, kedua kakinya lecet karena sepatu hak tinggi.


"Hah?" Pram sedang duduk memangku si sulung, terkejut akan informasi yang disampaikan Kailla.


"Pieter tahu?" tanya Pram lagi.


Kailla mengangguk. "Aku memberi tahu Pieter. Dan ... saat aku kembali ke toilet, Naina sudah digendong keluar oleh seorang pria tampan. Aku lupa namanya ... tapi menurut Pieter itu mantan suami Naina." Kailla menghempaskan tubuhnya di kursi, tidak sanggup berdiri terlalu lama.


Pram terlihat berpikir sejenak. "Lupakan saja, bukan urusan kita."


"Ya ...." Kailla menarik gaun panjangnya, memamerkan kedua kaki yang mulai bengkak, memerah dan perih.


"Sayang, kakiku sakit." Kailla mengeluh dengan manjanya.


Pram tersenyum. "Sudah aku katakan sejak awal," ujar Pram, menyerahkan Bentley pada Binara.


Pria matang itu terlihat menggeser kursi agar lebih dekat dengan sang istri. Tanpa malu, mengangkat kedua kaki Kailla agar naik ke atas pangkuannya supaya ia bisa melihat lebih jelas.


"Di mana yang sakitnya?" tanya Pram, melepas high heels sebelah kiri dan menjatuhkannya di dekat kaki kursi.


"Di ujungnya, itu terjepit. Jadi bengkak semua. Kalau bagian tumitnya sedikit lecet," keluh Kailla dengan nada manja.


"Yang satunya juga, Sayang," lanjut Kailla, makin besar kepala saat Pram mulai memijat jari-jari kakinya. Ia tersenyum, memandang Pram penuh cinta. Suaminya tanpa malu-malu memanjakannya walaupun beberapa pasang mata tengah memandang ke arah mereka.


"Sudah aku katakan sejak awal, masih saja membantah. Penyakit wanita itu hampir sama, rela tersiksa untuk tampil cantik." Pram menggerutu sembari melepas high heels yang lainnya.


"Dandanan tebal, bibir merah. Mau makan saja susah, belum lagi setiap bergerak takut rambutnya rusak. Ckckck ... ditambah lagi ini, sepatu tinggi, gaun menyiksa seperti ini," lanjut Pram, teringat sepanjang acara Kailla menarik atasannya takut turun dan melorot.


"Maaf ...." Kailla mengulum senyuman.


"Ya sudah, kita pulang saja. Acaranya juga sudah selesai. Sebagian juga sudah pada pulang" Pram menurunkan kedua kaki Kailla, berdiri dan menenteng sepasang high heels yang tergeletak di lantai.


"Tapi ... kakiku kotor, Sayang." Kailla melambaikan tangan meminta Pram mendekat.


"Apalagi?" tanya Pram, memandang kaki telanjang Kailla yang sedang bergerak-gerak.


"Ayo, berdiri di dekat sini, berputar dan hadap ke sana," titah Kailla.


Belum sempat Pram berputar, Kailla sudah menggerakan tubuh Pram agar berdiri membelakanginya. Tanpa permisi, ibu si kembar itu sudah bergelayut di punggung Pram.


"Aduh, Kai!" protes Pram, tiba-tiba Kailla sudah menempel di punggungnya.


"Ssstt, gendong aku. Dengan begini ... kakiku tidak akan kotor, Sayang." Kailla tersenyum bahagia. Sudah lama rasanya tidak menikmati hal-hal gila bersama suaminya.


Pram tersenyum. Jujur saja, ia merindukan kegilaan Kailla yang seperti ini. Belakangan, hidup mereka terlalu teratur dan mengikuti aturan. Ia rindu melakukan banyak hal gila yang jarang dilakukan pasangan lain.


"Kai, bagaimana kalau kita kabur dan menghabiskan malam ini di jalanan?" tawar Pram. Tanpa ragu-ragu, menggendong Kailla di punggungnya dan berjalan menuju lift. Ia bisa melihat mamanya protes dari kejauhan lewat gelengan kepala dan tatapan tajam.


"Sstt, Mama sedang melotot pada kita." Kailla berbisik.


"Hah!" Sontak Kailla memukul pundak Pram, buru-buru mengeratkan belitan tangan di leher suaminya agar tidak terjatuh. Kailla tersenyum memandang gaunnya yang naik ke paha dan menampilkan kaki telanjang yang kini tengah ditahan Pram agar tidak terjatuh.


"Yang benar saja." Kailla protes sesaat setelah mereka masuk ke dalam lift kosong. "Turunkan aku sekarang," pinta Kailla.


"Bukannya kakimu kotor?" tanya Pram heran.


"Nanti ada yang masuk," bisik Kailla. "Aku sudah jadi ibu dari dua bayi kembar. Rasanya, urat maluku mulai berfungsi sempurna," ujar Kailla meloncat turun.


Pram tergelak, sembari meraih ponsel dan menghubungi mamanya. Ia serius dengan ucapannya. Pria itu kembali tertawa kecil saat Kailla berdiri dan menginjak kedua kakinya yang terbungkus pantofel hitam mengkilap.


"Begini lebih romantis," ucap Kailla, mendekap pinggang suaminya. Dalam posisi berhadapan seperti ini, ia bisa melihat wajah Pram dari dekat. Garis-garis mulai nyata di wajah suaminya saat tersenyum. Apalagi dua kerutan di sudut mata yang tidak bisa berbohong.


Terdengar Pram bicara di telepon sambil tersenyum. Pria itu sedang menikmati omelan Ibu Citra karena kegilaan yang baru saja mereka lakukan.


"Ma, aku titip anak-anak. Malam ini tidur di rumahku, temani si kembar sebentar."


"Hah? Kalian tidak pulang?"


"Tidak, Ma." Pram tersenyum, menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara sang mama bagai petir menggelegar dari ujung telepon.


Baru saja menutup sambungan telepon, akvitas keduanya terhenti saat pintu lift terbuka. Mereka sudah sampai di lobi, Bayu dan asisten lainnya sudah menunggu.


"Bay, tolong kunci mobilnya. Malam ini aku yang akan menyetir sendiri."


"Bos tidak pulang?" tanya Bayu menatap Pram yang berdiri dengan menenteng sepatu istrinya. Kailla terlihat memeluk lengan suaminya, berjinjit saat telapak kaki merasakan dinginnya lantai marmer.


"Tidak, aku dan Kailla akan menginap di luar malam ini. Aku titip mama dan anak-anakku. Menginaplah di tempat Mama malam ini." Pram menepuk lengan Bayu.


"Baik, Bos."


Setelah menyelesaikan urusannya dengan para asisten, Pram membungkuk dan menyodorkan punggungnya pada Kailla.


"Ayo, bukannya kakimu kotor," ujar Pram.


"Aku sudah tidak mau lagi. Tadi saja ... aku sudah menanggung malu saat di dalam." Kailla tergelak. "Aku menyadarinya sekarang, aku tidak bisa seenaknya lagi. Aku sudah menjadi ibu dari dua bayimu. Apa kata orang yang melihatnya nanti." Kailla mengungkapkan apa yang dirasakannya. Belum lagi tatapan sinis mama mertuanya.


Pram menegakan tubuhnya dan berbalik menatap istrinya. Senyum terukir di bibirnya. "Aku bahagia untuk kemajuan cara berpikirmu. Memang setiap orang akan bertumbuh seiring waktu. Tapi bisakah tetap menjadi Kailla yang dulu. Tidak perlu memusingkan apa kata orang, selagi kamu tidak merugikan orang lain dan kamu yakin kalau yang kamu lakukan itu bukan suatu kesalahan."


Kailla mengernyit.


"Ada berapa banyak orang yang harus kamu ubah pikirannya, Sayang. Tiap orang itu memiliki satu kepala, satu pemikiran. Hidup saja menurut apa yang kamu yakini, tidak perlu memusingkan kata orang. Kita yang menjalani, kita yang menikmati. Kita yang tau cara bahagia itu seperti apa. Kalau ingin bahagia, hiduplah mengikuti kata hatimu, jangan menuruti kata orang. Orang lain tidak tahu apa yang kita rasakan dan jalani. Intinya, nikmati saja hidupmu. Tidak perlu mengurusi masalah orang lain dan tidak perlu mendengar apa kata orang yang terkadang hanya untuk menjatuhkanmu. Yang baik diterima, yang tidak baik anggap saja angin lalu."


Kailla tertegun sejenak. "Baiklah, aku akan melupakan mama mertuaku yang cerewet dan menyebalkan itu sejenak. Mari kita bersenang-senang," ucap Kailla, meloncat naik ke atas punggung Pram.


-


-


-