The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 83



"Sayang, aku ada sedikit urusan. Kita lanjutkan pertengkarannya setelah pekerjaanku selesai." Pram masuk ke dalam kamar, meminta izin istrinya.


"Mau ke mana?" Kailla merapikan pakaiannya yang berantakan dan menatap heran.


"Aku harus menemui seseorang, ada sedikit masalah." Pram berjalan mendekat, menghadiahkan kecupan di bibir istrinya tiba-tiba. "Aku segera kembali," bisik Pram lagi.


Pria itu berencana tidak bekerja hari ini. Ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Kailla hingga tuntas. Tidak mau membiarkan semuanya berlarut-larut di tengah kehamilan istrinya. Pram ingin bisa menemani Kailla di kehamilan kali ini membayar ketidakhadirannya dulu saat mengandung si kembar.


"Harus sekarang?" Kailla mengerutkan dahi. Hari masih terlalu pagi untuk berkunjung atau membuat janji pertemuan.


"Aku harus ke kantor merapikan berkas-berkas penting. Setelahnya baru menemui rekanku."


"Baiklah." Kailla mengangguk pelan.


***


Siang itu, cuaca kota Jakarta lumayan panas. Teriknya sinar matahari terasa menyengat kulit. Tampak Pram tiba lebih dulu, menunggu di restoran tempat ia membuat janji pertemuan dengan Ditya.


Rasanya sudah tidak sabar. Orang-orangnya tidak berhasil mencari tahu kebenaran, tetapi ia berharap Ditya bisa memberinya informasi dan mengungkap tabir yang selama ini tersembunyi.


Duduk menunggu sembari menyesap kopi hitam, Pram bisa tersenyum saat melihat asisten Ditya melangkah masuk dari arah pintu. Pria yang usianya lebih muda darinya itu bukanlah orang asing, selama ini Pram sudah beberapa kali bertemu.


"Maaf, membuatmu menunggu Pak Pram."


Asisten Ditya bernama Matt itu melepas kaca mata hitam dan menurunkan ritsleting jaket kulitnya. Menarik kursi, memilih duduk tepat di depan Pram.


Pram heran, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak tampak Ditya, hanya asistennya saja yang muncul dan menemuinya.


"Ehem." Matt berdeham pelan. "Maaf sebelumnya, Pak Bos kecil masih di London."


Pram mengangguk.


"Kemarin, Pak Bos memintaku membagi semua informasi yang aku dapatkan mengenai masa lalu istri Pak Bos dan mantan pacar ...." Matt buru-buru merapatkan bibirnya saat menyadari kekhilafannya.


"Ya, bagaimana?" Pram menegakkan duduknya, menyimak.


Jemari Matt tampak mengusap layar ponsel, kemudian menunjukkan pada lawan bicaranya.


"Ini Reino, pamannya Nyonya Frolline. Bisa dikatakan ini juga pamannya Nyonya Kailla." Matt memulai.


Pram memperhatikan foto pria tua dengan perut besar dan rambut memutih. Guratan keriput tampak jelas di kulit wajahnya yang gelap.


"Nyonya Frolline sudah menyatakan kalau dia masih memiliki sepupu yang lain. Kembar perempuan, diperkirakan berusia lebih muda, belasan tahun. Seingat Nyonya, sewaktu sepupu kembarnya lahir sempat mau dititipkan di keluarga mereka. Karena pada saat itu istrinya Om Reino meninggal saat melahirkan. Hanya saja, ekonomi keluarga sedang tidak baik, jadi ditolak mendiang Gunawan, mertuanya Pak Bos kecil." Matt menyudahi informasi dan tersenyum.


"Ada lagi?" Pram masih berharap mendapatkan informasi lebih.


"Nyonya Frolline tidak mengenali gadis muda yang di foto Pak Pram sebelumnya, tetapi ia yakin kalau pria tua itu adalah Om Reino."


Dahi Pram berkerut, terlihat berpikir. "Aku bertemu dengan seorang gadis yang wajahnya sama persis dengan wajah gadis di foto, tetapi ayahnya bukan Reino."


"Bisa saja, sejak kecil salah satu putri kembarnya diberikan pada orang lain. Mendengar informasi yang dibagi Nyonya, kalau Reino memang sedang mengalami kesulitan ekonomi."


"Kalau Pak Pram tidak keberatan, bisakah aku bertemu dengan gadis itu?" Matt bertanya.


Pram mengangguk. "Oke."


"Bos kecil memintaku mencari tahu dan memastikan kalau gadis yang kini di tempat Pak Pram adalah sepupu istrinya."


"Reino dan Masya sekarang berada di bawah pengawasan Pak Bos kecil. Kalau memang benar gadis yang di tempat Pak Pram ada saudara kembar Non Masya, Bos kecil bersedia membiayai."


"Masya? Pram heran dengan nama asing yang diucapkan Matt.


"Putri Reino yang di foto itu namanya Masya." Matt menjelaskan.


Pram mengangguk. "Aku tidak masalah dengan biayanya. Aku hanya ingin mencari tahu kebenarannya." Pram menegaskan.


Matt tersenyum. "Kalau Pak Pram mengizinkan, Pak Bos meminta dilakukan tes DNA."


Terlihat Pram berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Ya, cara termudah untuk memastikan semua misteri ini hanya melalui tes DNA."


"Berikan aku alamatnya, Pas Bos memintaku mengurus semua masalah ini." Matt bersuara.


Memanggil pelayan restoran untuk meminta pena dan secarik kertas, tak lama Pram menggoreskan alamat tinggal Keisya. "Em, nanti Bayu akan menemanimu. Sebisa mungkin jangan terlalu kentara. Bagaimana pun, Keisya tidak tahu apa-apa dan mengenai masalah ini ... aku akan coba bicarakan dengan ibu yang merawatnya selama ini."


Matt mengangguk.


"Baiklah, aku permisi." Pram berdiri sembari menyodorkan kertas berisi alamat tinggal Keisya.


Ia harus pulang secepatnya, tidak mau membuat Kailla berburuk sangka.


"Oh ya, Pak." Matt menghentikan langkah kaki Pram.


"Ya, ada apa?" Pram berbalik.


"Wiraguna sudah keluar dari penjara. Tolong berhati-hati. Dia sangat berbahaya. Aku diminta Pak Bos menyampaikannya pada Pak Pram."


***


Setelah menyelesaikan pertemuannya dengan Matt, Pram memilih pulang. Ia sudah tidak sabar hendak menemui Kailla dan anak-anaknya. Begitu Bentley hitamnya berhenti di halaman rumah, Pram heran. Sepi menyapa, tidak seperti biasanya.


Para pekerja dan asisten yang biasa berkumpul di pos security tak tampak.


"Ke mana orang-orang?" Pram mengernyit heran, mengedarkan pandangan untuk mencari tahu.


"Mungkin di halaman belakang, Bos." Bayu masih bersikap santai. Namun ketenangan yang dijaganya sejak tadi terusik saat mendengar teriakan kencang dari halaman belakang rumah.


"Bos, suara apa itu?" tanya Bayu, memasang telinga sembari berlari menuju ke halaman belakang.


Pram menyusul, ikut berlari untuk mencari tahu apa yang terjadi saat pendengarannya pun menangkap suara keramaian.


Langkah Bayu terhenti, saat matanya melihat pemandangan luar biasa di pinggir dermaga. Demikian juga Pram, pria dewasa itu ternganga menyaksikan apa yang terjadi. Para asisten berkumpul, menatap ke atas pohon mangga.


"Mama ...."


"Kailla, kegilaan apalagi yang kalian lakukan?" Suara Pram menghilang, buru-buru berlari.


***


Maaf, aku slow update sampai ending. Aku sedang menyiapkan judul baru yang akan rilis bulan September nanti, BITTERSWEET PROMISE OF REVENGE.


Informasi lain, bisa cek di instagram: casanova_wetyhartanto.