
“Aku akan mengecoh dua orang itu dengan berpura-pura pingsan dan kamu manfaatkan kesempatan itu untuk keluar dari pintu sebelah.” Wanita asing itu berbisik pelan.
Kailla hampir tertidur sembari mendekap putranya. Ia mulai bisa percaya pada makhluk feminin yang menjaganya selama disekap. Terbukti beberapa kali wanita itu menolongnya dengan memohon pada kedua penjaga. Ia bisa bebas tanpa terikat pun karena bantuan sang wanita.
“Kamu harus keluar secepatnya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu besok. Suamiku sakit, bisa saja dia menyakitimu dan putramu saat kewarasannya hilang. Bahkan sampai detik ini aku tidak paham tujuannya menculik bayimu,” lanjut wanita itu lagi.
Kailla mengangguk.
“Mumpung anakmu terlelap. Jadi tidak akan membuat langkahmu terhambat. Pastikan kamu tidak salah jalan. Di dalam hutan banyak binatang buas, kalau kamu melihat pohon-pohon semakin tinggi dan lebat artinya kamu tersesat dan masuk ke dalam hutan,” lanjutnya memberi arahan.
“Baik.”
“Kamu harus bisa keluar, aku tidak bisa menemanimu lebih lama di sini. Sejak semalam suamiku sudah memintaku pulang. Anak-anakku pun tidak ada yang menjaga. Hanya dititipkan ke tetangga rumah untuk melihat-lihat mereka.” Ia menyunggingkan senyuman. Diam-diam, digenggamnya tangan Kailla. “Maafkan suamiku, aku juga tidak mau terjadi hal buruk menimpamu.”
Kailla mengangguk.
Tak lama drama yang dirancang sejak semalam pun dimainkan. Kailla bisa melihat wanita yang duduk di sebelahnya terkapar. Tiba-tiba menggelepar, terbaring di lantai. Matanya melebar, menatap langit-langit gudang tua yang dipenuhi sarang laba-laba.
“Tolong ... dia pingsan!” teriak Kailla, mengusik kenyamanan dua penjaga.
Pria-pria menyeramkan itu berlari mendekat dengan wajah menahan kantuk. Kailla menyingkir sembari memeluk erat Kentley.
“Bagaimana ini? Bos masih di luar, kan?”
“Masih, sepertinya sedang mabuk.”
“Panggilkan saja kalau begitu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada istrinya. Sudah aku katakan sejak kemarin kalau membawa wanita ini akan membuat masalah.” Keduanya mengobrol di tengah kepanikan.
Kailla menatap dari kejauhan. Ia bisa melihat kode lirikan mata wanita yang berpura-pura sakit itu kejauhan. Seakan memintanya untuk pergi sekarang, memanfaatkan kepanikan semua orang.
“Pergi sekarang.” Ucapan tanpa suara itu terbaca Kailla.
Mengendap-endap sembari membaca situasi, Kailla berjalan mundur. Ia bisa melihat satu persatu pria masuk dari pintu depan. Semuanya panik. Apalagi ia bisa mendengar wanita yang membantunya itu mengerang kesakitan dan menjerit kencang.
Saat semua orang lengah dan berpusat pada satu titik, Kailla memanfaatkan kesempatan kabur. Namun, nasib baik tidak berpihak padanya. Baru saja melangkah keluar, Kentley menangis kencang karena tidurnya terusik.
“Mama ... mama.”
“Aduh!” Kailla panik. Apalagi saat melihat ke belakang, salah seorang pria berbadan tegap menyadari dan mengejarnya.
“Tawanannya kabur!” teriaknya memanggil rekannya untuk membantu.
Berlari tunggang langgang ke sembarang arah, Kailla tidak tahu lagi jalan yang ia ambil. Semua informasi yang dibagi wanita baik hati semalam, lenyap dalam sekejap. Ia tidak bisa berpikir. Saat ini yang ada di otak Kailla adalah berlari sejauh mungkin dan menghindari para pemburunya. Ia tidak mau tertangkap lagi. Bagaimanapun, ia harus menyelamatkan putranya.
Jantung Kailla berdetak kencang, ia memilih masuk ke dalam semak belukar dan bersembunyi untuk sementara. Dibekapnya mulut sang putra agar tangisan Kentley tidak terdengar lagi.
“Sssstt, maafkan Mommy, Nak. Jangan menangis, Nak. Kita harus keluar dari sini secepatnya.” Kailla berbisik pelan. Ia bisa mendengar derap langkah orang-orang yang mengejarnya disertai letusan senjata.
Dorrr ... dorrr.
"Ya Tuhan, aku tidak tahu kalau mereka memiliki senjata." Kailla bergidik. Kembali membekap mulut mungil Kentley yang mulai menangis lagi karena terkejut dengan suara letusan senjata api.
"Sayang, tolong diam. Bantu Mommy, Nak." Kailla panik. Tak punya cara lain, terpaksa harus menyusui putranya di tengah kondisi terdesak.
"Kita bersembunyi di sini dulu, Nak." Sembari menyodorkan sumber ASI yang terekspos ke bibir putranya. Hanya ini yang bisa dilakukan untuk menenangkan bayinya.
Duduk di tanah basah di balik pohon besar, dipandangnya wajah Kentley yang mulai tenang. Hari masih terlalu pagi, hutan itu masih tampak remang-remang.
“Sssstt, kita di sini dulu, Nak. Kent minum susu dulu. Bobok dulu. Nanti sudah aman kita pulang.” Kailla tersenyum di tengah napasnya yang tersengal-sengal.
***
Matahari telah menyingsing dari ufuk timur saat Bayu membangunkan majikannya yang tertidur di mobil.
“Bos, informasinya satu kilometer di depan ada gudang tidak terpakai. Sedikit masuk ke area hutan. Kemungkinan Non Kailla dan Kent disekap di sana.” Bayu berdiri di samping mobil membagi informasi yang didapatkannya.
"Informasi dari penduduk kampung yang mencari kayu bakar, banyak orang asing masuk ke sana beberapa hari ini."
Wajah mengantuk Pram tiba-tiba bersemangat. “Ayo, kita berangkat. Semakin cepat, makin baik, Bay. Kita harus menyelamatkan keduanya.
Tanpa menunggu lama, Pram memacu mobilnya menuju tempat yang dimaksud. Ia berharap kali ini bisa menemukan istri dan anaknya dalam keadaan selamat.
“Ya Tuhan, jaga Kailla di manapun dia berada. Kailla wanita kuat dan tak mudah menyerah.” Pram menggenggam kemudi dengan kencang. Pandangannya lurus ke depan.
Menghentikan laju mobilnya di tepi jalan, Pram bersama Bayu dan orang-orangnya menatap ke arah jalan setapak yang dipenuhi tanaman liar.
"Akses masuknya seperti ini." Bayu memandang pohon-pohon besar dengan semak-semak menghalangi jalan.
Pram tak banyak bicara, berlari masuk ke dalam hutan. Entah kenapa, perasaannya mengatakan kalau Kailla dan Kentley ada di dalam. Dorongan itu begitu kuat dan membuat kakinya tak mau berhenti melangkah.
Benar saja, lima belas menit menyusuri jalanan yang kian sempit dan sulit dilewati, ia bisa mendengar derap langkah kaki dan bunyi letusan senjata api di depannya. Samar-samar, indra pendengarannya pun menangkap suara tangisan.
"Itu suara Kent, Bay!" Pram berlari masuk diikuti Bayu dan orang-orangnya.
Menembus semak, tanaman berduri, dan ranting-ranting pohon, Pram bisa melihat lima puluh meter di depannya Kailla berlari memeluk Kentley yang menangis.
"Kailla!" teriak Pram melesat menghampiri anak dan istrinya. Saat jarak kian dekat, ia bisa melihat beberapa pria sedang mengejar keduanya.
"Tolong selamatkan Kent!" Kailla berteriak dan menyodorkan putranya pada Bayu yang juga ikut berlari bersama dengan Pram.
"To ... tolong bawa anakku secepatnya!" Kailla memohon.
"Baik, Non." Bayu berlari ke arah mobil, meninggalkan Pram yang tengah berjuang menyelamatkan istrinya dari kejaran.
Langkah kaki asisten itu belum terlalu jauh saat mendengar suara letusan beruntun di belakangnya.
Dorr ... dorrr.
Masih dengan mendekap Kentley, ia memerintahkan anak buahnya untuk menjaga Pram dan Kailla.
"Tolong lindungi keduanya!" titah Bayu memeluk Kentley yang terus menangis. Ia harus segera tiba di mobil dan meminta bantuan.
***
Yang tidak paham, bisa buka lagi kisah Pram & Kailla season 2. Di sana ada kisah Pram yang menyelamatkan Kailla dari kecelakaan dan berujung dengan Pram koma beberapa bulan. Nah, part2 penghujung ini adalah terbongkarnya siapa yang menabrak, siapa dalangnya. Yang kemarin2 pada mikir kalau pelakunya Dennis.