
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Kailla lebih banyak diam. Duduk di sisi kiri, ibu si kembar bersandar di kaca mobil untuk menahan sakit kepala yang enggan pergi sejak pagi.
"Kai, kamu baik-baik saja?" tanya Pram. Pria itu resah saat mengetahui Kailla sedang tidak baik-baik saja. Istri yang biasa cerewet, bawel dan suka mengomel, tiba-tiba hari ini jadi senyap.
"Hmm." Kailla bergumam, memejamkan matanya. Ia tengah menikmati guncangan kecil saat mobil menabrak jalanan yang tidak rata.
"Apa kita ke rumah sakit saja?" tawar Pram.
Kailla menggeleng, sembari membenturkan kepalanya di kaca mobil untuk menghilangkan sakit kepalanya.
"Sayang ...." Pram menggeserkan duduknya. Biasanya ia tidak berani mendekat, tetapi saat ini Kailla membutuhkan pundaknya untuk bersandar. Direngkuhnya tubuh sang istri agar merebah di dadanya, didekapnya agar bisa berbagi kehangatan.
"Sayang, di mana sakitnya?" tanya Pram lagi. Pria dewasa itu mengulum senyuman saat merasakan Kailla tidak menolak seperti biasa. Istrinya malah memeluk erat lehernya dan mulai mengendus aroma tubuhnya seperti dulu lagi.
"Kepalaku sakit." Kailla berkata pelan, membenamkan dirinya di dalam dekapan hangat sang suami.
"Mau aku pijat?" tawar Pram.
Kailla tidak menjawab, tetapi ia tidak menolak saat suaminya mengusap kedua pelipisnya. Jari tengah dan telunjuk Pram terlihat lincah, membuat gerakan memutar dan sedikit menekan.
"Begini terasa enak?" tanya Pram lagi.
Kailla mengangguk. Namun, beberapa detik kemudian, ia merasakan gelombang pasang di lambungnya. Buru-buru menutup mulut dengan telapak tangan, Kailla berusaha menghentikan sesuatu yang mendesak keluar dari dalam perutnya.
"Sayang," panggil Pram saat melihat wajah Kailla memucat.
"Kai, kamu kenapa?" tanya Pram. Ia panik saat Kailla menegakkan duduk dan tampak gelisah. Ia bisa melihat istrinya sedang menahan mual.
"Bay, tolong hentikan mobilnya. Kailla sedang tidak enak badan." Pram memerintah setelah memastikan apa yang terjadi.
Ya, Bos. Sebentar lagi. Di sini dilarang parkir." Bayu menjelaskan. Kepalanya menengok ke kiri dan kanan jalan, mencari tempat pemberhentian.
"Sayang ...." Perasaan Pram semakin tak karuan, memijat tengkuk sang istri. Tak sampai di sana, pria itu buru-buru melepas jas kerjanya dan meletakkan di atas pangkuannya.
"Muntahkan saja. Tidak apa-apa. Akan lebih baik begitu," Pram mengusap punggung Kailla yang menunduk ke arahnya dan memuntahkan semua isi perut ke atas jas hitamnya.
Kailla ragu.
"Ayo, muntahkan saja di sini." Pram membujuk sembari menepuk pahanya.
Ibu si kembar membungkuk, menyemburkan isi perutnya tanpa ragu-ragu. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Gelombang di perutnya begitu menyiksa hingga membuat dadanya sakit.
Pria menuju paruh baya itu memejamkan mata saat cairan bercampur sarapan pagi Kailla berhamburan di depan matanya. Pram bisa merasakan celana panjangnya menghangat beberapa detik kemudian, disusul suara muntahan Kailla beberapa kali sampai akhirnya berhenti.
"Sayang, sudah." Suara Kailla terdengar lemah.
"Hmm, sudah merasakan enak?" tanya Pram memastikan. Ia merapikan jas hitamnya dan menutupi bekas muntahan Kailla kemudian meletakkannya di lantai mobil. Jujur saja, Pram merasa jijik. Namun, istrinya sedang sakit, ia harus mengesampingkan rasa itu dan mengorbankan jas mahalnya.
Bertepatan dengan itu, laju mobil yang ditumpangi keduanya berhenti di sebuah taman. Setelah bersusah payah mencari tempat, akhirnya Bayu berhasil menemukan tempat straregis.
"Baik, Bos. Ada lagi?" Bayu bersiap membuka pintu mobil.
"Tidak. Itu saja ... kamu butuh sesuatu, Kai?" tanya Pram pada istrinya.
Kailla menggeleng.
"Itu saja, Bay. Tolong cepat sedikit. Gunakan uangmu dulu, nanti aku akan menggantinya."
Pandangan Pram beralih pada Kailla. "Sudah merasa enak?" tanyanya sembari membersihkan sudut bibir Kailla yang basah.
"Hmm." Kailla mengangguk.
"Kamu yakin tidak mau ke dokter?" tanya Pram lagi.
"Ya, aku tidak mau ke mana-mana."
"Selalu begitu. Aku mengkhawatirkanmu. Kalau begini ... bukankah sebaiknya beristirahat di rumah saja." Pram tersenyum. Tangannya tengah mengeringkan celananya yang basah.
Kailla menggeleng.
Pram tergelak, saat menangkap raut manja Kailla yang menolak ucapannya.
"Aku tidak akan macam-macam, Kai. Tolong percaya lagi padaku. Kamu mengorbankan kuliahmu hanya untuk hal tidak penting seperti ini. Mengikuti ke mana langkahku. Bukannya aku tidak suka. Aku suka melihatmu mencemburuiku. Itu artinya kamu memiliki cinta yang besar untukku, tetapi bukan begini caranya, Sayang."
Kailla cemberut.
"Jangan marah. Aku tahu ... aku bersalah padamu untuk masalah Keisya. Sudahlah, Kai. Tolong lupakan semua dan kita mulai dari awal lagi. Coba saja lihat dirimu, sudah kurus kering seperti ini. Kelelahan dan sepanjang hari mengawasiku."
"Aku belum bisa percaya padamu!" ucap Kailla ketus.
"Sampai kapan? Aku harus bagaimana?" tanya Pram, menunggu jawaban.
Kailla menggeleng.
"Mulai besok jangan mengikutiku lagi. Aku tidak suka melihatmu sakit seperti ini."
Suara ketukan di kaca mobil mengejutkan Pram. Pria itu berbalik dan menoleh.
"Bos ...." Bayu mengangkat kantong belanjaan.
Pram menurunkan kaca mobil. "Terima kasih."
***
Maaf, singkat. Aku sedang sibuk belakangan ini. Terima kasih. Typo dll, nanti aku revisi ya. Sedang berlomba dengan waktu.