
Tidur Pram terusik saat merasakan pergerakan di ranjang empuknya. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa menikmati kembali fasilitas kamar mewahnya. Perdamaiannya dengan Kailla membuatnya bisa kembali memeluk sang istri sepanjang malam, melepas kerinduan yang ditahannya berhari-hari.
“Kai, kamu mau ke mana?” Pram menepuk sisi ranjangnya yang sudah kosong. Telungkup di atas tempat tidur, Pram menutup tubuh telanjangnya dengan
“Sudah siang. Aku harus menyiapkan sarapan untukmu dan si kembar.” Kailla memungut gaun tidur dan mengenakannya buru-buru. Terlambat sedikit, Pram akan membuatnya kewalahan lagi. Berhari-hari puasa, ia paham betul dengan semangat suaminya yang tak kenal lelah meskipun usia tak muda lagi.
“Kai, aku tidak butuh sarapan. Aku membutuhkanmu. Cukup kamu tanpa gaun tidurmu.” Pram berbalik dan tergelak melihat sang istri mengenakan gaun tidur tergesa-gesa.
“Mau ke mana?” Pram tiba-tiba bangkit dan meloncat turun dari tempat tidur. Dalam hitungan detik sudah mengunci tubuh istrinya, memeluk dari belakang.
“Jangan gila. Aku lelah semalaman meladenimu. Sementara ini aku izinkan kamu melampiaskannya pada kedua guling itu.” Kailla tertawa sembari menunjuk guling.
“Tidak ada rasanya. Guling tidak bisa mendesah sepertimu, Sayang,” bisik Pram menggigit kecil daun telinga istrinya.
“Nanti malam saja, ya. Hari ini aku sudah tidak sanggup. Anak-anak sebentar lagi bangun dan pasti mengganggu. Coba bayangkan ... di saat-saat penting, tiba-tiba kita dirazia Satpol PP kecil. Itu tidak enak sekali, Sayang.” Kailla mengingatkan.
“Ah, kamu membuatku down.” Pram melepaskan pelukannya dan menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur.
Kailla tersenyum usil, berjalan mendekat. Ibu hamil muda itu sudah melompat naik di atas tubuh polos suaminya.
“Aw, Kai. Asetku satu-satunya.” Pram menggeleng ketika Kailla duduk nyaman di atas tubuhnya.
Tertawa cengengesan, Kailla seakan tak peduli. Ia merasa terhibur saat Pram tersiksa.
“Menolakku tetapi suka sekali mengerjaiku. Apa maumu, Kai?”
“Tak ada.”
Merengkuh pinggang ramping istrinya, Pram menggulingkan ibu dari anak-anaknya itu agar berbaring di sampingnya.
Pekikan keterkejutan menggema, mengusik senyap. “Aaaaah.”
“Kamu yang mengejutkanku.” Kailla menggerutu.
“Sudah, aku hanya bercanda.” Pram menoleh ke samping. Dirapikannya rambut Kailla yang berantakan. Ingin rasanya menghentikan waktu dan bisa menikmati detik-detik ini dengan bebas. Tak perlu memusingkan pekerjaan, tak khawatir dengan anak-anak.
“Kai, aku ingin anak-anak cepat dewasa. Saat itu kita akan menghabiskan waktu berdua. Hanya kamu dan aku. Menjalani hari-hari tanpa dipusingkan dengan banyak hal.”
Kailla menoleh. “Ya sudah, ini kehamilanku yang terakhir. Setelah itu, kita buat mereka dewasa secepatnya dan kirim mereka sejauh mungkin. Jadi tak ada yang mengganggu hari-hari kita. Hanya ada aku dan kamu.”
“Janji?” Pram mengukir senyuman di wajah tampannya.
“Tidak perlu berjanji. Suatu saat anak-anak memang akan dewasa. Saat itu tiba, anak-anak dengan sendirinya memilih menjauh dari kita. Aku ingin saat mereka dewasa dan belajar banyak hal, kita tidak perlu ikut campur. Aku ingin anak-anak menikmati kebebasan dan mengambil keputusan untuk mereka sendiri. Aku tidak mau mereka merasakan apa yang aku rasakan. Anak-anakku harus menikmati kemerdekaan yang tak pernah aku dapatkan selama ini.” Tatapan Kailla meredup, memandang langit-langit kamar.
“Ya, aku mengerti.” Pram tersenyum. Direngkuhnya pundak sang istri dan dibenamkannya di dalam pelukan
“Oh ya, hari ini aku akan menghabiskan siangku bersama Bella. Anak-anak akan aku bawa bersamaku.”
“Apa ada acara penting?” Pram mengernyit.
“Tidak. Aku bosan di rumah. Setidaknya aku bisa mengobrol, menghabiskan waktu mengusili Real.”
“Baiklah. Jam berapa?”
“Mungkin siang.” Kailla terlihat berpikir.
“Kalau aku sedang tidak banyak pekerjaan, aku akan menjemputmu dan anak-anak,” jelas Pram sembari melabuhkan kecupan di pucuk kepala istrinya.
***