The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 63



Kailla tertegun, pandangannya tak lepas dari tubuh renta yang kini jatuh tak sadarkan diri. Tergolek tak berdaya di atas lantai. Jujur, Kailla menciut. Ia memang kesal, marah, sakit hati dan sampai detik ini masih belum bisa menerima dan memaafkan Keisya, tetapi kondisi wanita tua yang tampak memprihatinkan itu membuat hati kecil Kailla tersentuh.


Keisya menghambur, menangis, mendekap tubuh lemah ibunya. Bayu, seperti biasa asisten itu paling siaga satu setiap bertemu hal genting. Pria dewasa yang terkenal setia pada majikannya itu berusaha bersikap tenang, menghubungi Pram yang masih menunggu kabar di tempat parkir apartemen.


“Bos, bisa ke atas sebentar? Ibunya Keisya jatuh pingsan.” Bayu melapor.


"Hah! Bagaimana dengan Kailla. Apa istriku baik-baik saja?" Pram panik. Berlari keluar dari mobil dan segera mendatangi unit Keisya. Ia tidak bisa membiarkan Kailla menghadapinya sendirian.


"Baik, Bos." Bayu menjawab singkat sebelum mematikan sambungan telepon.


Baru saja melepas gawai dari telinga, Bayu sudah mendapat perintah dari Kailla.


“Bay, tolong.” Kailla menunjuk ke arah Keisya dan ibunya. Ia masih punya hati walau di tengah permasalahannya dengan gadis remaja yang membuat hatinya teriris-iris dan memendam kesal.


“Baik, Non. Bawa ke rumah sakit saja, ya?” tanya Bayu, meminta pendapat. Mengingat selama ini Ibu Keisya yang sakit-sakitan, tidak mungkin membiarkannya menunggu sadar di rumah saja. Bayu khawatir wanita tua itu butuh pemeriksaan lebih lanjut dan sentuhan petugas medis.


Bayu baru saja berjongkok, hendak menggendong tubuh Ibu Keisya dan membawanya keluar saat Pram muncul dengan wajah panik, tampilan berantakan di pintu apartemen.


“Kailla.” Kedua tangan Pram tertahan di pintu, berusaha mengatur napasnya. Ia berlari buru-buru saat mengetahui apa yang terjadi. Baru bernapas lega saat memastikan dengan matanya sendiri kalau istrinya baik-baik saja.


“Sayang.” Pram berjalan mendekat dan memeluk Kailla yang masih mematung. “Kamu baik-baik saja?Jangan khawatir, Bayu akan mengurusnya dan membawa ke rumah sakit.” Pram menenangkan sang istri yang tampak terguncang, membeku dan tidak bisa berbuat banyak.


Kailla diam, menatap pergerakan Bayu yang menggendong Ibu Keisya keluar unit apartemen dan Keisya yang mengekor di belakangnya.


“Sudah, tidak apa-apa. Bayu bisa mengurusnya.” Pram mencoba menjelaskan.


Kailla menggeleng di dalam dekapan hangat suaminya. “Tidak, Bayu tidak bisa mengurusnya. Kalau terjadi sesuatu dan harus diambil tindakan, Bayu tidak akan bisa mengambil keputusan,” cerocos Kailla.


‘Aku mau ke sana untuk memastikan kalau Ibu Keisya baik-baik saja. Aku tidak bermaksud membuat kekacauan, tetapi aku hanya ingin memberi Keisya pelajaran. Ibunya harus mengetahui kebenarannya, mengetahui kelakuan putrinya.” Kailla berkata pelan.


***


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Kailla bungkam. Duduk di samping suaminya yang memegang kemudi, ibu si kembar merapatkan bibir dan tidak banyak bicara. Ia belum bisa memaafkan Pram begitu saja.


“Kai, sudah. Jangan marah lagi. Aku minta maaf, Sayang.” Pram meraih tangan Kailla yang melemas di pangkuan. Pria dewasa itu berusaha membujuk melalui sentuhan dan kata-kata lembut. Biasanya berhasil, tetapi sekarang kemampuannya membujuk sang istri sudah berkurang, Kailla belum tersentuh sama sekali.


“Jangan sentuh aku!” Kailla menghempaskan tangan Pram. Ia masih kesal dan belum bisa memaafkan semudah itu. Ia kesal, bagaimana Pram yang biasaya bisa bertindak tegas pada makhluk yang namanya wanita, saat ini bisa selemah itu menghadapi Keisya dan membuat dirinya terjerembap di dalam pelukan dan ciuman gadis ingusan tidak tahu diri.


Keadaan tidak berpihak pada Pram masih berlanjut saat di rumah sakit. Kailla selalu menghindar setiap diajak bicara, walau tidak menolak disentuh.


“Jangan marah lagi, Sayang.”Pram sedang bersandar manja di pundak Kailla, keduanya berdiri menatap pintu kaca ruang IGD tempat ibu Keiysa sedang diperiksa.


“Jangan membahasnya sekarang.” Kailla menoleh ke sebelah, mengirim tatapan tajam pada suaminya. "Aku mengizinkanmu bersandar di pundakku hanya demi menunjukkan pada remaja itu kalau hubungan rumah tangga kita baik-baik saja. Aku tidak mau dia bahagia melihat kita bertengkar dan berpikir dia sudah menang," gerutu Kailla setengah berbisik.


"Terserah padamu saja, aku menurut, Nyonya." Pram melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kailla. Pria itu benar-benar memaanfaatkan keadaan dengan sikap diamnya sang istri.


Keisya terlihat bercucuran air mata, bersandar di dinding, di samping pintu ruangan IGD. Ia menyesali semua yang dilakukannya, bahkan jauh-jauh hari sebelum Kailla melabraknya, gadis remaja itu sudah menyesali semua kesalahannya. Dulu, ia bahagia mendapat perhatian Pram, walau hanya sebatas menanyakan bagaimana sekolahnya. Sejak kejadian di apartemen, Pram mengabaikannya, bersikap tidak peduli.


Bunyi pintu ruangan terbuka membuat semua orang yang menunggu dalam cemas segera bereaksi.


“Bagaimana Ibu saya, Dok?” Keisya bergerak mendekati pria paruh baya berjas putih yang tersenyum ramah dengan stetoskop masih menggantung di leher.


“Kondisi pasien sudah stabil. Tekanan darah ibunya menurun, tetapi sekarang sudah sadar dan bisa dipindahkan ke ruangan perawatan. Kami akan terus memantau sampai kondisi pasien benar-benar stabil, mengingat ibu memiliki riwayat penyakit lain. Kalau tidak ada masalah, sore ini bisa pulang atau kalau tidak besok pagi. Nanti akan ada petugas yang mengabari kalau memang sudah bisa dipastikan pasien baik-baik saja.” Dokter itu tersenyum, tatapannya tertuju pada Pram dan Kailla yang saling berpegangan tangan.


***