
“Kamu mau membawa anak-anak ke tempat Bara?” tanya Pram ketika memastikan kailla sudah memutuskan panggilannya. Istrinya sudah berjalan kembali ke meja makan memandang mamanya penuh rasa iri.
“Ya.” Suara Kailla terdengar lemah. Memilih duduk di sebelah si sulung, Bentley, Kailla tersenyum dan meminta mangkuk bubur dan menghabiskan waktu sarapan dengan menyuapi putranya.
“Bawa semua pengasuh dan Tom untuk menjaga anak-anak. Aku tidak mau kejadian lalu terulang lagi.” Pram memberi perintah.
“Dulu itu bukan salah si kembar, Real yang memecahkan vas antik peninggalan kerajaan Majapahit milik keluarga Barata Wirayudha. Om Bara saja yang terlalu sensitif.” Kailla menjelaskan kembali. Ia tidak mau anak-anaknya disalahkan.
“Aku berdebat dengan Om Bara karena dia memarahi Real di depan si kembar. Aku tidak masalah, cuma jangan dilakukan di depan putra-putraku yang belum mengerti apa-apa. Tahu sendiri kalau Om Bara marah, mulutnya seperti apa. Si kembar menjerit saat mendengar suara Om Bara yang seperti halilintar, menggelegar.” Kailla mengomel, teringat perdebatannya dengan Bara.
“Anak-anak Om Bara kalau main ke rumah kita juga pasti ada saja yang dipecahkan. Aku biasa saja, tidak seheboh Om Bara. Namanya juga anak-anak. Kalau tidak mau terjadi sesuatu, diikat saja anaknya di kursi.” Kailla terpancing emosi. “Atau barang antiknya disimpan di tempat aman. Jangan dipajang di tengah ruangan,” lanjut Kailla.
“Ya sudah. Yang terpenting hati-hati.” Pram tidak enak hati kalau sampai bermasalah dengan Bara karena anak-anak. Ia tidak mungkin membatasi pergaulan Kailla dan anak-anak, bagaimanapun anak dan istrinya perlu bersosialisasi, perlu bergaul dan bertemu orang. Ia tidak bisa seperti Bara yang mengurung anak dan istri di rumah.
***
“Kai, kamu terlihat pucat.” Reaksi pertama Bella saat bertemu dengan sahabatnya. Ibu dari lima orang anak itu tampak menggendong putri bungsunya, Queen Bella Wirayudha.
“Masa sih? Belakangan ini ... aku memang sedang tidak enak badan. Sakit kepala, mual, muntah. Mungkin karena itu ....” Kailla menjelaskan sembari mencolek pipi gembul Baby Queen yang tampak menggemaskan.
“Kamu tidak sedang hamil, kan?” tanya Bella menebak. Duduk di teras samping menikmati semilir angin, ia bisa melihat jelas wajah Kailla yang tampak berbeda dari biasa.
Deg—
Tatapan Kailla beralih pada putra kembarnya yang tengah melihat ikan di kolam kecil tak jauh darinya. Bentley dan Kentley di temani kedua pengasuhnya. Keduanya begitu bahagia melihat ikan-ikan berenang ditemani Princess Bella Wirayudha.
“Aku tidak tahu.” Suara Kailla terdengar lemah. Ia tidak siap hamil lagi. Masih terbayang detik-detik sebelum naik ke meja operasi. “Doakan saja semoga tidak. Aku tidak mau hamil dan melahirkan lagi. Kamu tahu, Boo. Suntikannya berulang kali. Di tangan, di lengan, di punggung bawah. Ssshhh.” Cukup membayangkan saja, Kailla bergidik ngeri. Ia benar-benar tidak mau lagi kalau harus diminta melahirkan secara caesar.
“Normal saja, Kai. Hanya menahan sakit perut sebelum melahirkan saja, setelah bayinya keluar, semua sakit itu hilang. Saat aku melahirkan Ella dan Queen, benar-benar dimudahkan. Keduanya lahir tidak ditemani Mas Bara karena proses begitu cepat. Pecah ketuban, masuk rumah sakit dan melahirkan. Saat Mas Bara datang, bayinya sudah keluar.”
“Berbeda dengan Real, yang harus dirangsang dan menahan sakit berjam-jam.”
“Entahlah. Aku masih terbayang rasa sakitnya. Apalagi keesokan harinya, Boo. Saat kateter dilepas dan kita diminta belajar berjalan ke toilet, belajar duduk. Beuh!” Kailla mengembuskan napas dari mulutnya. Nyeri dan perih saat harus belajar duduk dan berjalan di tengah luka sayatan yang belum sembuh itu masih membekas di ingatan Kailla “Aku tidak mau lagi, Boo.”
Bella tergelak. Namun, buru-buru ia menutup mulutnya saat tawanya mengusik lelap putri bungsunya.
“Aku takut dengan jarum suntik, aku takut membayangkan saat perutku disayat-sayat. Memang seharusnya dulu aku melahirkan normal saja. Tapi, mengingat anakku kembar dan Pram tidak mau mengambil risiko. Jadi diputuskan operasi. Padahal aku sudah melewati tahap sakit perut seperti ibu-ibu lainnya.” Tatapan Kailla menerawang.
“Coba saja dicek dulu, Kai. Masalah melahirkan nanti masih lama. Bisa dibicarakan dengan doktermu. Apa bisa dengan jarak kehamilan yang tidak terlalu jauh untuk melahirkan normal setelah kelahiran pertama secara caesar.” Bella memberi saran.
Kailla menyimak. Tak lama, ia tergelak. “Boo, kamu bicara seolah-olah di dalam perutku sudah ada isinya saja. Sampai sejauh ini ... aku masih berjaga-jaga. Sepertinya kecil kemungkinan hamil. Selalu mengenakan pengaman dan kalau tidak pun tidak ditumpahkan ....” Belum selesai Kailla bicara, terdengar jeritan Real yang baru saja pulang sekolah.
“ONTY KAILLA!”
“High five, Jagoan. Sepertinya kamu bertambah tinggi.” Kailla mengangkat tangannya, melakukan high five dengan Real.
“Loh, Mas. Bukannya sopir yang menjemput?” Bella heran melihat kehadiran suaminya yang mengekor di belakang Real. “Tidak bekerja?” lanjutnya lagi.
“Ini sedang bekerja. Memastikan keadaan aman dan kondusif.” Bara tersenyum. Pandangannya beralih pada Kailla.
“Apa kabarmu, Anak nakal?” tanya Bara, tergelak.
“Ah, Om. Selalu begitu. Jangan suka marah-marah. Nanti ketampananmu berkurang.” Baru saja Kailla menyudahi ucapannya, dari arah kolam ikan terdengar suara teriakan dan riak air seperti ada yang tercebur.
Sedetik kemudian, terdengar teriakan Bara.
“REAL!” Bara kesal melihat Real yang masuk ke dalam kolam ikan dengan seragam sekolahnya yang masih lengkap.
“Real, apa yang kamu lakukan, Nak.” Bella hanya bisa mengelus dada saat melihat tingkah Real yang berlebihan. Bentley dan Kentley terkekeh sembari bertepuk tangan melihat aksi Real menceburkan diri ke dalam kolam ikan.
“Maaf, Pak. Anaknya tiba-tiba sudah masuk. Cepat sekali, tidak bisa dicegah.” Rikka berusaha menjelaskan. Ia tengah memegang Ella.
“Onty Kai, aku ada ikan baru. Sebentar aku akan menangkapnya untuk menunjukkannya padamu, Onty.” Real tidak peduli, membungkuk dan berusaha menangkap ikan yang dimaksud.
“Sayang, keluar, Nak. Tidak perlu ditangkap keluar, Onty Kai yang akan ke sana melihatnya.” Bella bergegas menghampiri. Ia tidak mau Bara kembali mengomel setiap anak laki-lakinya membuat masalah.
“Sudah aku duga. Pasti ada saja kelakuan Real setiap Kailla bertamu.” Bara menggeleng kepala, berkata dalam hati.
Ini baru permulaan, entah apa lagi yang akan terjadi sampai tamu tidak diundang ini pulang." Bara membatin lagi.
***
Setelah mendengarkan saran Bella, akhirnya Kailla pun mampir ke apotek untuk membeli test pack. Ia masih yakin kalau tidak mungkin hamil, tetapi tidak ada salahnya juga melakukan pengecekan.
Berdiri menunggu hasilnya di depan wastafel, Kailla terlihat santai tanpa beban sembari berselancar dengan ponselnya.
Ibu muda itu masih bersenandung, tubuhnya pun bergoyang mengikuti irama lagu yang keluar dari bibirnya. Namun, senyum di wajah Kailla lenyap saat melihat test pack yang mulai menampilkan hasilnya.
“Ya Tuhan, aku tidak tahu harus berterima kasih atau protes. Kenapa kamu begitu baik padaku. Di saat aku tidak meminta, kamu memberinya dengan sukarela.” Kailla berdiri dengan kedua tangan bertekuk di pinggang.