
Sam tengah berbincang dengan Pak Rudi dan seorang pria asing yang tidak dikenalinya. Ketiganya mengobrol di halaman rumah Bara sembari menunggu Kailla dan anak-anaknya mengobrol ngalor ngidul tak karuan.
Asisten itu sudah paham betul setiap menemani majikannya ke tempat Bara tidak akan kenal waktu. Bisa dikatakan kalau tidak diusir, Kailla tidak akan sadar diri.
Senja memerah di ufuk barat saat bunyi sepatu Kentley yang baru saja bisa berjalan itu terdengar nyaring di halaman rumah. Ditemani pengasuhnya, putra bungsu Reynaldi Pratama dan Kailla itu berjalan tertatih-tatih, menyeimbangkan tubuhnya.
"Kin, hati-hati. Jangan sampai jatuh." Sam mengingatkan di sela obrolannya.
"Ya."
"Jangan main di dekat jalan. Kita tidak membawa Tom dan Ricko. Terjadi sesuatu, tamat riwayatku." Kembali Sam mengingatkan.
"Siap." Kinara tersenyum. Ia sudah paham dengan tugasnya menjaga si kembar bersama temannya, Binara.
Sam melanjutkan obrolannya, sesekali memastikan pengasuh dan putra majikannya itu aman. Ia tidak mau sampai lalai. Mengikuti Kailla sejak dulu, ia sudah paham sekali dengan kondisi majikannya yang selalu menjadi incaran semua orang. Masa lalu Riadi berimbas pada anak dan cucunya.
Hampir lima belas menit mengobrol dengan para pekerja Bara, ketenangan Sam terusik dengan jeritan Kinara yang kini berdiri di tepi jalan sembari menahan tubuh si kecil Kentley.
"Tolong ...!"
"Tolong, aku. Siapapun tolong aku." Kinara berteriak sembari mempertahankan Kentley agar tidak dirampas oleh pria asing yang mengenakan topi dan masker hitam. Penampakannya tinggi dengan, berkulit hitam dengan wajah yang tak bisa dikenali.
Sam, Pak Rudi dan pria teman mengobrol mereka itu berlari untuk membantu. Namun, belum sampai di tujuan mereka melihat Kinara ditendang hingga terpental. Kentley yang menangis pilu itu dibawa pergi. Kedua tangan mungil putra bungsu Kailla itu terulur, meminta bantuan.
"Aaaaahhhh!" Pekik Kentley tidak berdaya di dalam dekapan pria asing yang menguasainya.
"KENT!" Sam berteriak dan berlari ke jalanan. Pemandangan terakhir yang dilihatnya adalah Kentley yang digendong masuk ke dalam mobil APV hitam. Dalam sekejap, tangis bocah itu menghilang bersama deru mobil yang berlari kencang.
Sam panik, terbayang apa yang akan terjadi ke depannya. Bukan hanya nasib Kentley yang terancam, nyawanya pun pasti melayang.
Terlalu bingung, asisten itu termenung di tepi jalan dan tak bisa berbuat apa-apa. Semuanya terjadi begitu cepat, ia tidak bisa berbuat banyak selain menatap mobil hitam yang merampas putra majikannya itu menjauh dan hilang di balik tikungan.
"SAM!" Kailla berteriak. Terlihat di belakang Kailla, Kinara yang berjalan pincang sembari meremas perut.
Dari arah dalam rumah tampak Bara dan Bella berlari keluar disusul Binara dengan Bentley di dalam gendongan.
"Apa yang terjadi, Kai?" Napas Bella naik turun. Ia baru saja menyusul suaminya di lantai dua untuk membantu. Kejadian begitu mendadak, ia dan Kailla sedang mengobrol saat mendengar jeritan minta tolong Kinara.
Kailla menggeleng. Tatapannya masih tertuju pada Sam.
"Ma-maaf, Non. Aku tidak bisa menyelamatkan Keken. Putramu diculik." Sam ketakutan.
Tubuh Kailla merosot, kedua kakinya melemas. Ia tidak sanggup bersuara. Pikirannya tertuju pada putra bungsunya yang kini entah di mana, menangis dan pasti ketakutan.
"Kai, tenang." Bella buru-buru memeluk tubuh sahabatnya yang jatuh di tanah. "Kai, bangun. Ayo kita cari Kentley. Jangan seperti ini." Bella menatap suaminya, memohon bantuan pria dewasa itu agar mengambil tindakan. Ia sama seperti Kailla, tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kai, jangan seperti ini. Ayo masuk. Mas Bara akan mengurusnya."
Kailla diam.
"Kai, ayo bicara. Jangan membuatku takut." Bella menepuk wajah sahabatnya dengan kencang agar ibu si kembar segera sadar dari keterkejutan.
"Kai, ayo. Bersuara, menangis. Jangan diam!" Bella panik saat mendapati Kailla yang biasanya banyak bicara itu hanya diam. Tubuh lunglai itu seakan tak bernyawa.
"Kai, aku mohon. Jangan begini." Bella menangis sembari memeluk sahabatnya.
"Boo, suamiku pasti akan membunuhku. Bagaimana nasib Kent. Aku tidak ...." Kailla terbata-bata.
***
Detik-detik menuju ending, ya.