
Semilir angin laut berembus sepoi-sepoi, mengiringi arunika yang memancar indah di ufuk timur. Cahaya kemerahan itu terlihat menyembul di garis cakrawala.
Suasana pagi itu di kediaman Reynaldi Pratama masih sepi. Penjaga gerbang berseragam hitam baru saja bertugas, menggantikan pekerja yang berjaga di malam hari. Beberapa asisten tampak mengobrol sembari menikmati kopi di dermaga kecil belakang rumah, ditemani jajanan pisang dan singkong goreng buatan dua asisten rumah, Ibu Ida dan Ibu Sari.
Di taman belakang, Binara dan Kinara terlihat kewalahan membujuk si kembar yang rewel semalaman. Kedua bayi itu merindukan Kailla, tepatnya aroma dan sentuhan sang mommy yang selama tujuh bulan menjadi candu untuk mereka.
Beralih ke gerbang depan, suara klakson mobil berteriak memecah pagi. Beberapa penjaga terlihat berlari menuju pintu dan mendorong gerbang setelah memastikan pemilik rumah yang telah kembali setelah semalaman menginap di luar.
Tak lama kemudian, Kailla tampak keluar dari mobil yang berhenti sempurna di halaman rumah.
"Pagi, Nyonya." Penjaga gerbang menyapa Kailla sembari memamerkan senyuman cerah.
"Pagi." Kailla menjawab ketus dengan wajah cemberut. Nyonya pemilik rumah itu tampak mengentak kaki ke tanah, membuang kesalnya. Entah apa yang membuat wanita bergaun indah dengan jas hitam menggantung di pundak itu kesal.
Menyusul, Pram ikut turun dari sisi mobil yang lain. Rona wajah pria dewasa itu berbeda jauh dengan sang istri. Tersenyum ramah, menyapa penjaga rumah.
"Bagaimana?" tanya Pram, mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Aman, Bos."
"Baiklah." Pria dengan kemeja putih berantakan itu menepuk lengan atas pekerjanya dan menyusul istri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Pram tahu, Kailla tengah marah padanya. Sepanjang malam menghabiskan waktu berdua menjelajah jalanan ibu kota, pasangan suami istri itu berakhir di ranjang hotel bintang lima.
Menghabiskan sisa malam dengan saling memeluk di balik selimut. Keduanya melebur di dalam lautan cinta yang membawa terbang ke awang-awang. Berbagi rasa, bercampur peluh dan bertukar desah, dua insan itu berlomba-lomba saling memanjakan lewat dekapan, belaian dan usapan. Cinta memang membuat orang gila, sampai logika pun ikut menguap.
"Kai."
"Kai."
"Sayang, maaf." Pram berulang kali memanggil istri yang sudah melangkah jauh di depannya. Ia tahu, Kailla sedang marah padanya karena tidak menepati janji.
"Sayang, maafkan aku." Pram mengejar Kailla dan meraih lengan istrinya di ruang tamu rumah mereka.
"Maafkan aku, Kai." Pram berusaha membujuk.
"Kelewatan!" gerutu Kailla.
"Maaf. Aku lalai, istriku terlalu nikmat," rayu Pram, tersenyum sambil menunggu reaksi Kailla.
"Maafmu percuma! Nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah katakan ... aku tidak mau hamil lagi. Cukup si kembar saja. Sakitnya masih lengkap di ingatanku," gerutu Kailla, kian kesal.
"Ya, maafkan aku." Pram menghadang. Berdiri di depan istrinya, pria itu memasang tampang memelas.
Maafmu percuma, Sayang. Tidak akan mengubah keadaan. Aku tidak mau hamil lagi. Titik, tidak pakai koma," tegas Kailla.
"Tidak akan hamil. Aku janji, Sayang." Pram mengulum senyuman. Setelah berjuang sekian bulan, akhirnya ia berhasil membobol pertahanan Kailla dan menyemburkan benihnya ke rahim sang istri. Kali ini tanpa pengaman, tanpa dibuang keluar.
Ia memanfaatkan kelalaian sang istri yang terlanjur terlena dengan buaiannya sampai melupakan hal terpenting di tiap penyatuan mereka.
"Sayang, maaf. Aku sudah tua ... jadi gerakanku sudah melamban. Tidak selincah saat masih muda. Bukan aku sengaja mengerjaimu." Pram beralasan, menutupi dustanya. Selama ini, ia selalu mencuri kesempatan, tetapi Kailla selalu sadar di detik-detik penting dan ia harus menelan kegagalan berulang kali.
"Sayang ...."
"Kai ...."
"Sayang, jangan marah lagi. Andaikan jadi bayi juga tidak apa-apa, kan? Kita sudah menikah dan aku mengakui itu bayiku." Pram tergelak, buru-buru mendekap pinggang Kailla dengan posesif. Ia tidak mau istrinya makin kesal.
Kailla menghela napas. "Bukannya aku tidak mau. Rasa sakit setelah caesar itu membuatku berpikir dua kali. Itu lebih sakit dari mulas yang kurasakan saat menunggu kelahiran si kembar." Kailla bercerita pengalamannya beberapa bulan yang lalu.
Pram menyimak.
"Saat efek pembiusannya hilang, kateter dilepas dan aku harus berjalan sendiri ke kamar mandi. Ya Tuhan ... setiap kakiku melangkah rasanya perutku diiris-iris. Aku tidak mau lagi merasakan itu, Sayang." Kailla bergidik ngeri membayangkan rasa sakit yang masih melekat di ingatannya.
"Maafkan aku. Tapi, yakinlah ... pengalaman melahirkan tiap anak itu pasti berbeda. Bisa saja saat melahirkan kedua kalinya ... malah kamu tidak merasakan sakit sama sekali." Pram berusaha membujuk.
"Aku tidak mau. Aku bisa menahan rasa sakit apapun, tetapi tidak saat kulitku dilukai. Itu mengerikan. Jangankan pisau bedah, membayangkan kulitku ditusuk jarum saja sudah sangat mengerikan," tegas Kailla.
"Nanti-nanti saja. Jangan sekarang. Aku mau melahirkan normal saja nanti. Aku tidak mau di-caesar lagi. Bayangkan, bekas lukaku saja masih belum sembuh. Masih nyeri dan harus hamil lagi. Aku tidak mau," tolak Kailla, bergegas mencari kedua putra kembarnya.
***
Pram bersandar di kursi belakang mobil bersama Keisya yang duduk di sebelahnya. Siang itu, ia sengaja memanfaatkan jam makan siang untuk melihat-lihat rumah dan apartemen yang akan ditinggali Keisya dan ibunya.
Bayu yang mulai aktif bekerja, mengintip penghuni kursi belakang dari kaca spion. Ia merasa khawatir dengan kedekatan Pram dan sang gadis remaja. Ia tidak meragukan Pram, tetapi sejak awal Bayu menangkap sesuatu yang berbeda dari pandangan Keisya pada pemilik RD Group itu.
"Bos, mau mampir makan siang?" tanya Bayu sembari mencengkeram kemudi. Waktu sudah menunjukan pukul 12.15 siang.
"Em ...."
Belum sempat menjawab pertanyaan Bayu, ponsel di saku celana Pram berdering. Senyum merekah di bibir Pram saat memastikan Kailla yang menghubunginya.
"Ya, Sayang." Suara Pram terdengar manja dan manis.
"Aku sedang menuju ke kantormu. Kita makan siang bersama. Aku membawakan makanan kesukaanmu, Sayang."
Deg -- Pram menoleh ke samping, Keisya sedang menatap ke arahnya.
"Kamu di mana, Sayang?" tanya Pram.
"Aku di perjalanan. Kalau tidak macet, lima belas menit lagi sampai di kantor."
Pram menelan saliva, memandang Keisya seakan meminta pengertian.
"Ok, aku menunggumu, Sayang. Hati-hati di jalan. Love you," putus Pram.
Pram mengalihkan pandangannya pada Keisya. Gadis remaja itu tengah cemberut, bereaksi akan kata-kata Pram yang ia tahu jelas apa maksudnya. Pram hendak membatalkan kepergian mereka untuk melihat apartemen karena kedatangan Kailla yang tiba-tiba.
"Sya, tunda besok, ya. Istriku dalam perjalanan ke kantor." Pram menjelaskam sebelum memerintah Bayu melajukan mobil kembali ke kantor.
Keisya tetap cemberut.
"Maaf, Sya. Besok saja kita baru melihat-lihat rumah." Pram menepuk pelan pucuk kepala Keisya yang masih tidak terima. Terlihat ada aura kecewa yang jelas terlihat di wajah gadis berseragam abu-abu itu-itu.
-
-
-