The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 94



Pria dewasa itu tersentak, diam, dan kehabisan berkata-kata. Dalam hitungan detik semuanya hilang, tertarik keluar dari otaknya. Ia baru saja memulai rapatnya pagi ini setelah hampir dua hari tidak mengurusi pekerjaan karena kasus penculikan Kentley yang sampai detik ini belum ada titik terang. Namun, Kailla menambah masalah baru untuknya.


Terdengar helaan napas panjang keluar dari bibir dan hidung bersamaan.


“Koordinasikan dengan Bayu sebentar. Aku tidak bisa meninggalkan rapat hari ini walaupun pun aku bisa. Perusahaan membutuhkanku. Ada ribuan nyawa bergantung padaku saat ini.” Pram mendesah lelah.


“Ba ... baik, Pak.” Sam bingung. Kemarahan Pram yang dinantikan tidak terjadi.


“Aku baru bisa menyusul satu jam lagi. Tolong minta Bayu mengurusnya. Dia sudah mengerti apa yang harus aku lakukan.” Pram memerintah.


Tak sedikit pun kemarahan ditunjukkannya. Pram terlalu lelah untuk marah. Energinya masih dibutuhkan untuk hal-hal lain yang lebih berguna. Bukan tidak menyayangi Kailla, hanya saja ia bukan milik keluarganya. Ada ribuan orang menggantungkan hidup padanya. Terkadang ia harus mengorbankan banyak hal untuk keluarganya, tetapi di sisi lain ia juga harus mengorbankan keluarganya untuk menjaga perusahaannya.


“Baik, Pak.”


Sambungan telepon dimatikan sepihak, Pram bergegas masuk ke dalam ruang rapat dan berbisik pada wakilnya, Pieter.


“Pieter, aku hanya bisa sebentar saja, tidak bisa menyelesaikan rapat. Setelah bertemu dan menyapa klien penting kita, mungkin aku harus pergi. Tolong kamu urus untukku.” Pram menepuk pelan pundak Pieter dari belakang.


“Tapi, Pram. Ini sudah diundur dua hari. Mereka ingin kehadiranmu di sini. Bagaimana kalau mereka membatalkannya. Kamu tahu sendiri berapa lama perjuangan kita untuk mendapatkan proyek ini. Kerja keras, waktu, dan pikiran, semuanya berjuang untuk mendapatkan mega proyek ini. Semua orang pasti kecewa kalau harus gagal saat kemenangan sudah di dalam genggaman....”


“Kailla mungkin diculik, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Tolong bantu aku.”


Kalimat terakhir Pram sanggup membungkam Pieter. Sang wakil tak lagi melayangkan protes dan mencoba mengerti. Kalau harus gagal, ia juga tidak bisa menyalahkan Pram. Sahabatnya sudah berusaha sebisanya.


***


Pondok Indah, Jakarta Selatan.


Mobil Pram baru saja masuk ke pelataran hunian mewah milik mendiang mertuanya. Dua hari ini ia terpaksa tidur di sana sambil menunggu laporan dan ikut mencari putranya.


“Don, aku sudah meminta Dave untuk menyiapkan tempat tinggal Singapura. Sore ini aku akan mengirim mamaku dan Bentley ke sana. Tom dan Binara juga akan ikut. Ambil paspor mereka di tempat Pieter.”


Donny mengangguk.


“Jangan katakan apapun pada mamaku. Biarkan Mama menganggap ini adalah perjalanan wisata. Aku sudah menyiapkan orang di sana untuk membantu dan menjaga mereka selama aku belum bisa menyusul.”


“Baik, Pak.” Donny menunduk. Ia tahu beratnya beban Pram saat ini. Pria 45 tahun itu harus mengerahkan segala tenaga dan pikiran untuk menjaga semua orang.


Berlari masuk ke dalam rumah, Pram sudah disambut Bayu dan beberapa anak buah.


“Bagaimana Bay?”


Bayu menggeleng sembari menunjukkan rekaman CCTV yang didapatnya dari restoran. Pram hanya memandang dengan wajah datar. Tak ada ekspresi sama sekali. Tidak ada kemarahan, tidak ada emosi, hanya wajah lelah dan tak berdaya.


“Tolong bantu aku. Temukan Kailla dan Kent secepatnya. Istriku sedang hamil. Ingat kehamilan pertama di mana Kailla harus keguguran. Aku tidak mau terulang lagi.” Pram menjatuhkan tubuhnya di sofa. “Coba hubungi Matt, mungkin dia bisa membantu.” Terlihat pemilik RD Group itu duduk bersandar, memejamkan mata sambil memijat pelipis.


“Siap Bos.”


“Bagaimana? Apa sudah ada berita baik dari kepolisian?” tanya Pram mencari tahu.


“Belum, Pak. Tapi, kasus Non Kailla ini bisa membantu. Orang-orangku bisa melacak nomor mobil yang digunakan untuk membawa Non Kailla dari CCTV halaman restoran. Mudah-mudahan tidak bodong, jadi pihak kepolisian lebih mudah menelusuri.”


Pram mengangguk.


“Orangku tengah mencari tahu siapa pelaku yang membawa Non Kailla pergi. Sedang dilakukan pencocokan ciri-ciri fisik dengan orang-orang yang diduga terlibat. Aku juga akan menemui Reino. Mungkin bisa membantu un ....”


“Aku yang akan menemuinya,” potong Pram. “Buatkan janji untuk bertemu, aku akan menemuinya sendiri. Dia Om Kailla, berarti dia juga keluargaku,” tegas Pram.


“Siap, Bos.”


“Kalian boleh pergi. Aku mau istirahat sebentar,” titah Pram.


Sudah dua malam ia tidak tidur dan ikut melakukan pencarian. Sebentar lagi tubuhnya pasti tumbang andai tidak diistirahatkan. Merebahkan diri di sepanjang sofa, ia tak banyak bicara. Tak juga murka seperti biasa.


Bayu yang mengetahui apa yang dirasakan Pram saat ini hanya bisa menyingkir. Atasannya sudah berada di puncak kelelahan dan amarah. Sampai tidak sanggup melampiaskan pada orang lain. Mencoba memberi ruang, asisten sekaligus orang kepercayaan Reynaldi Pratama itu segera menyingkir. Namun, langkah lebarnya harus terhenti saat atasannya kembali bersuara.


“Bay, tolong bangunkan aku setengah jam lagi. Aku butuh tidur untuk mengumpulkan tenaga mencari anak dan istriku.”


“Ya, Bos.”


“Aku lelah sekali. Aku harap ini yang terakhir kalinya. Aku sendirian, Kailla tidak bisa diandalkan.” Dua bulir air mata menetes dan jatuh di pelipis dari matanya yang terpejam.


“Dari dulu sampai sekarang Kailla tidak berubah. Menganggap remeh semuanya. Dia tahu bagaimana kehidupannya. Berulang kali aku mengingatkan untuk berhati-hati. Tapi Kailla tetaplah Kailla. Dia tidak pernah takut pada apapun, tidak pernah memusingkan apapun. Aku khawatir, Kailla bukan perempuan lemah yang akan takut digertak. Dia pasti berontak dan tidak bisa terima saat terinjak-injak. Ia tidak sadar kemampuannya tidak akan sanggup melawan. Itu membuatku benar-benar mengkhawatirkannya. Dia lebih suka menggunakan otot dibandingkan otak.” Pram tergelak untuk pertama kali setelah dua hari hanya menekuk wajahnya.