The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 49



Di sebuah restoran tak jauh dari lokasi lahan yang akan dibangun hotel, dua pasangan terlihat duduk mengelilingi meja. Pram duduk bersebelahan dengan istrinya dan Panji duduk bersisian dengan sang calon istri.


Tak jauh dari mereka, terlihat Bayu sedang mengobrol dengan Sam sambil menikmati kopi dan roti panggang. Berbeda dengan dua pengawal Panji, pria-pria berpakaian hitam itu berdiri kaku beberapa meter di belakang tuannya.


Kailla bergidik saat melihat senjata yang mencuri keluar dari pinggang salah satu pengawal Panji. Ibu si kembar buru-buru mengalihkan pandangannya pada Ellena. Gadis itu tertunduk di samping calon suaminya, tak banyak bicara.


Kailla menggeleng, pikirannya mengembara membayangkan berada di posisi Ellena. Ia tidak akan sanggup berada di dekat pria-pria menyeramkan. Kesetiaan dan vitamin mata itu dua hal yang berbeda. Walau ia setia pada suaminya, tetapi netranya juga membutuhkan asupan. Tidak mungkin memandang patung bernapas dengan garis wajah mengeras setiap saat.


Tak lama, terlihat dua orang gadis muda berseragam hitam berjalan sambil mendorong rak berisi makanan dan minuman pesanan. Bola mata Kailla hampir keluar saat melihat salah seorang pengawal berjalan mendekat dan meraih sendok berukuran kecil dan mencicipi semua pesanan majikannya. Steak dan sausnya, bahkan pelengkap di sisi piring ikut dicecapnya termasuk kopi panas yang masih mengepul.


Setelah memastikan aman, barulah pengawal itu mengizinkan makanan itu disajikan di depan Panji. Yang membuat Kailla heran, perlakuan itu hanya untuk Panji, tidak untuk Ellena.


"Sayang, pria di depan kita ini keturunan raja mana? Jangan katakan kalau dia pangeran yang sedang menyamar." Kailla berbisik di telinga Pram.


"Hush." Pram memilih tidak meladeni ucapan Kailla. Ia sibuk dengan dua piring steak di depannya. Ia harus memotong daging milik istrinya, baru bisa menikmati steak miliknya. Sudah menjadi kebiasaan Pram sejak zaman Kailla kecil hingga sekarang.


"Coba, kamu perhatikan ... pengawalnya memiliki senjata. Sangat jauh dibandingkan dengan Sam." Kailla berbisik sembari merebahkan kepala di pundak suaminya.


"Jangan mengurusi orang lain. Pengawal Panji itu diambil dari Genghis. Sekolah pengawal terbaik di China. Mereka sudah dibekali ilmu beladiri dan kemampuan menggunakan senjata. Bahkan otaknya lebih pintar darimu." Pram menjelaskan.


"Wah!" Mulut Kailla ternganga.


"Hebat sekali mereka." Kailla menutup mulutnya yang terngaga dengan tangan. Wajahnya penuh kekaguman.


"Kalau begitu memang tidak bisa dibandingkan dengan Sam. Sam saja otaknya masih satu digit di bawahku." Kailla menahan tawa.


Seakan tak ada puasnya, Kailla kembali bertanya. "Apa pekerjaan Panji? Dia bisnis perhotelan, kah?"


"Elsan Hotel itu dibangun khusus untuk Ellena. Elsan diambil dari nama lengkap Ellena Sandra. Aku juga diminta merenovasi hotel Radja milik Papa Ellena."


Pram menoleh sejenak pada Kailla. "Bertanya lagi ... aku akan menciummu di depan semua orang," ancam Pram, meletakan piring steak milik Kailla yang sudah dipotongnya kecil-kecil.


"Sayang, aku masih ingin tahu banyak." Kailla mendesak. Keduanya saling berbisik.


"Perusahaannya bergerak di bidang perhotelan, property dan telekomunikasi. Memiliki beberapa mal, resor dan vila di Bali dan Lombok. Konon katanya, dia memiliki kasino di luar negeri dan beberapa bisnis gelap yang tidak terekspos." Pram menjelaskan sambil berbisik pelan.


"Dia mafia." Kailla kembali dibuat terkejut. Daging yang sudah ditusuknya dengan garpu tanpa sengaja terjatuh ke piring. Pandangannya beralih pada wajah ayu Ellena.


"Bagaimana mungkin pria seperti Panji memilih gadis sederhana seperti ini. Padahal Panji bisa saja memilih model, artis atau gadis-gadis dengan penampilan spektakuler." Kailla tidak habis pikir.


Lain Pram, lain juga perlakuan Panji. Pria dewasa itu terlihat mengaduk-aduk pasta milik Ellena dan mencicipinya sebelum memastikan makanan itu aman dikonsumsi sang calon istri. Andai nyawanya di tangan para pengawal, untuk keamanan Ellena, Panji turun tangan dan memastikannya sendiri.


Kehidupannya terlalu keras dan beresiko. Ancaman itu tidak hanya berlaku untuknya seorang. Adik-adiknya dan kini Ellena juga menjadi incaran semua musuh-musuhnya.


"Makanlah, Ilen. Wajahmu pucat sekali." Panji menggeser piring pasta ke depan calon istrinya. Sesuap pasta dimasukannya ke dalam mulut Ellena sebelum akhirnya melepas sendok itu dan membiarkan Ellena menikmati makanannya sendiri.


Pasta itu baru saja meluncur turun ke dalam perut, saat Ellena merasakan mual bergejolak di lambungnya. Gadis itu mencengkeram lengan Panji sembari menutup mulut dengan tangan lainnya.


Panji baru akan menikmati makanannya dibuat terkejut. "Ada apa?" Panji menoleh.


Ellena menggeleng. "Mual."


Pria itu tersenyum, memajukan wajahnya dan berbisik di telinga Ellena.


"Perasaan selama ini aku hanya mencium keningmu. Semudah itukah dirimu hamil, Ilen." Panji tergelak hebat sembari mengusap punggung Ellena.


"Jangan menertawaiku, Kak. Ini tidak lucu." Ellena mencubit paha Panji dan cemberut. Ekspresi menggemaskan yang membuat Panji tak bisa berhenti tertawa.


Suara tawa pria itu begitu mengejutkan, Kailla yang sibuk dengan piring pastanya segera menaikan pandangan. Untuk pertama kalinya Kailla melihat Panji tertawa. Pria itu terlihat menawan di wajahnya.


"Dia memang limited, Ste. Sayang sekali nasibmu tidak sebaik gadis ini." Kailla membatin.


"Sayang ...." Kailla kembali berbisik. Suaminya sejak tadi tampak serius, seolah tidak terpancing dengan apa yang terjadi.


"Sayang sekali dia sudah memiliki calon istri, kalau tidak ...."


"Kenapa? kalau tidak, kamu mau menawarkan diri?" cerocos Pram mulai kesal. Sejak tadi perhatian Kailla tak lepas dari pasangan di depannya. Istrinya sampai tak menikmati makan siang, sibuk memperhatikan Panji dan Ellena.


"Ah, jangan cemburu, Sayang. Kailla melepaskan garpu dan memeluk lengan Pram dengan mesra.


"Kamu itu tidak ada duanya, Sayang."


"Tidak perlu merayu, Kai. Habiskan makananmu. Aku sudah menamatkan banyak hal tentangmu. Bahkan isi kepalamu ini aku tahu."


***


Seminggu berlalu.


Siang itu, Pram baru saja menyelesaikan rapatnya dan bersiap pulang kantor. Dia ada janji dengan Bayu yang dimintanya untuk membantu proses pindahan Keisya dan ibunya di apartemen yang baru dibelinya.


Tampak pria matang itu bergegas merapikan barang-barangnya dan tak lama keluar ruangan tergesa-gesa.


"Ste, aku pulang lebih cepat. Keisya sudah pulang?" tanya Pram saat melintas di meja sekretarisnya. Ia sengaja mengizinkan Keisya pulang lebih awal dari biasanya


"Sudah, Pak.Tadi bersama-sama Bayu."


"Ya sudah. Kalau ada yang mencariku, atur jadwal besok saja. Aku ada keperluan." Pram berlari menuju lift. Ia harus segera menemui Bayu.


Setengah jam mengemudi mobilnya, Pram akhirnya tiba di apartemen baru yang akan ditempati Keisya dan ibunya.


Siang itu suasana apartemen terlihat tidak begitu ramai. Pram yang tidak memegang kartu akses menghubungi Keisya untuk menjemputnya di lobi. Ia tidak bisa naik ke unit apartemen Keisya sembarangan.


Sepuluh menit menunggu, Keisya muncul dengan pakaian santai dan rambut dikuncir kuda. Gadis remaja itu hanya mengenakan celana super pendek dan kaus santai menggantung, memamerkan perut ratanya.


"Ya Tuhan, Sya. Pakaian apa yang kamu kenakan ini?" tanya Pram menggeleng kesal.


"Ini pakaian anak muda, Om." Keisya tersenyum genit. Belakangan gadis itu mulai berani. Berbekal ilmu yang didapat dari teman sebayanya sembari mencari tahu dari dunia maya, Keisya merubah dirinya perlahan. Dari gadis biasa tak peduli penampilan, Keisya kini tampil modis dan terbuka.


Melangkah masuk ke dalam apartemen, Pram mengernyit heran saat tidak melihat Bayu dan beberapa pekerja yang diminta untuk membantu proses pindahan. Tidak ada siapa-siapa, sebagian barang masih berantakan di lantai, perabotan pun banyak yang belum terpasang sempurna.


"Loh, mereka ke mana, Sya?" tanya Pram heran. Mengecek satu per satu ruangan di dalam apartemen.


"Mereka istirahat, Om. Tadi tidak sempat makan siang." Keisya menjawab santai.


Pram melangkah masuk ke dalam kamar utama, memastikan kamar yang nantinya akan ditempati ibu Keisya itu sudah sempurna.


"Ibumu kapan akan mulai menempati apartemen ini, Sya?" Terlihat pria itu puas akan desain di dalam kamar. Berdiri sambil bertolak pinggang, Pram tersenyum.


Namun, senyum di wajah Pram hilang saat merasakan dua tangan sedang memeluk erat pinggangnya dari belakang. Begitu erat dan posesif. Pram bisa merasakan tubuh yang menempel rapat di punggungnya.


"Aku menyayangimu, Om."


"Sya, lepas. Jangan melewati batasanmu," tegas Pram, mengurai belitan tangan Keisya di perutnya.


Bukannya menurut, Keisya makin menjadi. Keberanian di dalam dirinya makin terpancing saat Pram menolaknya, ucapan para sahabat di grup chat membuat semangatnya berkobar.


Berdiri menantang di depan Pram, Keisya terlihat serius. "Aku mau jadi pacar Om." Keisya tersenyum sebelum menghambur memeluk erat Pram yang mematung. Bahkan, gadis itu berjinjit dan mencium bibir Pram yang tidak sempat mengelak karena terkejut.


-


-


-