
“Sayang, apa yang terjadi?”
Kailla panik saat mendapati suaminya menangis. Hal yang sangat jarang dilakukan Pram. Bahkan di saat tersulit pria itu akan menahan diri dan berusaha terlihat tegar.
Namun, detik ini berbeda. Suaminya bersembunyi dari semua mata dan menangis di salah satu sudut dunia. Wajah berhias garis keriput di pojok mata itu basah oleh cairan kristal menyiratkan putus asa dan luka.
“Sayang.” Kailla melangkah maju. Ibu hamil itu mengatur jarak saat Pram tak bereaksi seperti biasa. Hanya menatapmu nanar dan membuang pandangan ke arah lain.
“Maafkan aku.” Kailla berbisik pelan. Kedua tangannya saling menggenggam di depan.
Wajah sembab itu ikut terluka, apalagi saat sang suami masih belum mau memaafkan dengan sukarela.
“Maafkan, Sayang. Bukan mauku. Aku juga sama sepertimu, mengkhawatirkan Kent. Dia juga putraku.” Kailla tertunduk, menggigit bibir bawahnya.
Sedetik, semenit, hampir sepuluh menit senyap menyapa. Pasangan suami istri itu tak saling bicara. Komunikasi hanya satu arah. Kailla terus bicara dan Pram hanya diam, entah menyimak atau menganggap ucapan sang istri bagai angin lalu.
Deru mesin pendingin ruangan terdengar pelan, mengiringi langkah kaki Pram yang bergerak, mendekat dan berdiri di hadapan Kailla dengan kedua tangan terlipat di dada.
“Sebut saja apa kesalahanmu, Kai?” Suara serak terdengar dari bibir Pram. “Setelah mengabsen kesalahanmu, mungkin saja aku bisa memaafkanmu,” lanjut Pram menatap tajam.
“Maafkan aku. Kesalahan terbesarku karena tidak membawa Tom dan Ricko. Padahal aku tahu mereka dipekerjakan untuk menjaga si kembar. Mungkin ini tidak terjadi andai Tom bersamaku.” Kailla menelan ludah setelah berhasil mengurai kesalahan pertamanya.
Pram menyimak dalam diam. Sorot matanya begitu mengerikan, siap mencabik-cabik dan mengoyak semua orang.
“Hmm, apa lagi?”
“Sebagai ibu, aku seharusnya mengutamakan kepentingan anak-anakku. Selalu mengawasi di mana pun putraku berada. Walau ada Kinara, tetap saja tanggung jawab utama ada di pundakku.” Kailla mengurai kembali alasan sehingga ia merasa pantas disalahkan.
“Lalu?” Pram mengangguk.
“Em ....” Kailla terlihat berpikir keras sebelum menjawab pertanyaan suaminya. “Harusnya aku tidak memberi izin pada Kinara untuk menemani Kentley bermain di luar.” Kailla tertunduk setelah membeberkan aib dan dosanya.
“Lalu?” Pram masih dingin.
“Maafkan aku, Sayang. Aku janji tidak akan mengulangi ....” Kalimat Kailla terpotong , Pram sudah lebih dulu menyela.
“Maafkan aku, Sayang.” Kailla memelas.
“Apa setelah aku memaafkanmu ... anakku akan ditemukan?” tanya pria 45 tahun itu menantang.
“Maafkan aku, Sayang.” Kailla memberanikan diri mendekat. Setelah tidak mempan dengan penjelasannya, ia berharap Pram bisa lunak dengan sentuhannya.
“Tapi, Sayang ....”
“Tidak ada tapi-tapian. Pulang dan renungkanlah.”
“Bagaimana dengan Kent?” Kailla masih bersikeras.
“Pulang sekarang dan tunggu kabar. Aku tidak mau kejadian ini juga menimpa putra sulungku. Bentley masih di rumah, butuh perhatianmu,” usir Pram dengan angkuhnya.
“Jangan sampai aku melimpahkan semuanya padamu. Pulang sekarang!” usir Pram.
“Tapi bagaimana dengan Kentley?”
“Itu urusanku. Cukup urusi Bent, aku tidak mau semuanya semakin berantakan.”
Kailla menurut setelah memastikan kalau Pram tak memberinya kesempatan untuk saat ini. Berbalik tanpa pamit, Kailla melangkah keluar ruang kerja suaminya. Pikirannya tak tenang, terbayang nasib putranya sebagai ASI.
Melewati koridor sepi, Kailla melalui ruang-ruang yang gelap gulita. Hingga saat tertinggal beberapa langkah lagi mencapai ruangan Pieter, Kailla mendengar sesuatu yang tak wajar. Rahasia yang diucapkan dengan suara tertahan.
Ruang milik wakil RD Group itu masih terang benderang. Suara pria terdengar silih berganti membahas masalah penculikan.
“Bay, Pram memintaku menghubungi Ditya Halim Hadinata lagi. Cari tahu mengenai paman Kailla yang kini di tangannya. Kita harus mengorek semua informasi dari pria bernama Reino.” Pieter memerintah pada Bayu dan beberapa orang rekannya.
Deg—
Kailla menghentikan langkahnya di waktu yang tepat. Terlihat ia menempelkan telinga di dinding untuk bisa mendengar semuanya. Nama Reino yang tiba-tiba menjadi perbincangan menbuatnya penasaran.
“Reino adalah pamannya Nyonya Kailla.” Pieter dengan kruk di tangan berjalan mondar-mandir sembari berbagi cerita. Ia ingin semua orang di dalam ruangan itu bisa menarik kesimpulan sebelum bergerak dan menjalan misi.
Bayu terlihat mengangguk dan mengerti.
“For your information, Istri Ditya Halim Hadinata adalah sepupu dari Nyonya Kailla, istrinya Pak Pram. Mungkin penyelidikan bisa dimulai dari sana. Kalian bisa meminta bantuan asisten Ditya, Rahmat Hidayat. Dari data yang aku dapatkan Ditya dan istrinya sedang berada di London, menunggu detik-detik kelahiran anak pertama mereka."
Jantung Kailla bergemuruh saat mendengar berita penting yang selama ini disembunyikan semua orang darinya. Ibu si kembar itu yakin seyakin yakinnya, kalau ia tidak salah dengar. Pieter menegaskan kalau ia masih memiliki saudara yang tidak diketahuinya selama ini.
Tubuh Kailla merosot. Kejutan datang bertubi-tubi dan tak memberinya kesempatan bernapas.
“Ternyata aku tidak sendirian. Aku masih memiliki keluarga.” . Bola mata Kailla memanas, tak lama cairan bening pun mendesak keluar, membasahi pipi.