The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 88



Kailla terduduk lemas ditemani Bella yang terus menyemangati di teras rumah. Ibu si kembar tidak bisa berbuat banyak, hanya diam memikirkan kabar putra bungsu yang hilang entah ke mana. Sedangkan Bara dan Sam tampak berlari keluar untuk mencari tahu melalui rekaman CCTV dari pihak perumahan.


"Boo, bagaimana dengan Kent?" Tatapan sendunya tertuju pada Kinara yang menangis. Di sebelah, Binara sedang mendekap si sulung, Bentley.


Suasana kediaman Bara mendadak ricuh, para pekerja dikerahkan untuk mencari keberadaan Kentley.


"Boo, bagaimana ini? Kent masih ASI. Dia akan menangis kalau tidak tidur bersamaku."


"Sabar, Kai. Suamimu sudah dihubungi?"


Kailla menggeleng.


"Mana ponselmu? Aku hubungi Om Pram. Lebih cepat suamimu tahu, lebih baik. Mungkin saja Om Pram bisa bertindak." Bella membongkar tas tangan Kailla.


Melihat kondisi temannya yang terguncang, Bella yakin kalau saat ini Kailla tidak akan bisa melakukan apa pun. Sembari menghubungi Pram, ia memerintahkan asisten rumah untuk menyiapkan segelas teh manis untuk menenangkan semua tamunya.


Jujur saja, Bella juga merasa bersalah. Kejadian terjadi di kediamannya, tentu saja ia harus ikut bertanggung jawab.


Nada sambung mengalun pelan, Bella terlihat gugup. Mondar-mandir dengan ponsel menempel di telinga, ia berusaha merangkai kata agar Pram tidak terkejut. Tak lama berselang, suara maskulin menyapa lembut. Bella tersentak mendengar panggilan manis Pram dari seberang.


"Ya, Sayang. Ada apa?" Suara tenang suami Kailla sanggup meredupkan nyali Bella. Susunan kata yang dirangkainya tiba-tiba lenyap dalam sekejap.


"O ... om, i ... ini Bella." Terbata-bata, mommy dari lima orang anak itu menoleh pada temannya.


"Oh, ada apa, Bell? Kailla sedang di tempatmu?" Suara Pram masih terdengar tenang. Andai tidak sedang dalam situasi tegang, Bella yakin akan terhanyut dengan suara lembut yang terdengar manis dan penuh pengertian. Sungguh jauh berbeda dengan suaminya.


"Be ... begini, Om. Kent hilang." Gugup mendominasi, Bella butuh kekuatan lebih untuk mengabari Daddy si kembar.


"HAH!" Tersentak, Pram berusaha memastikan kalai ia tidak salah dengar. "Apa yang terjadi?"


"Tadi, aku dan Kailla sedang mengobrol di dalam rumah. Kent bersama pengasuh dan Sam di halaman rumah. Kebetulan gerbang depan itu terbuka lebar, seseorang berlari masuk dan merampas Kent dari tangan pengasuhnya." Bella bercerita sembari menahan gugupnya. Pandangannya tertuju pada Kailla yang masih termenung tak berdaya.


"Aku segera ke sana!" putus Pram sebelum mematikan sambungan telepon.


"Kai, suamimu dalam perjalanan ke sini." Bella berjalan mendekat, dipeluknya erat sembari memberi kekuatan. Bella jadi tidak tega melihat kondisi temannya.


"Boo, aku bisa dibunuh suamiku karena sudah menghilangkan putra kesayangannya."


***


Duduk di teras rumah Bara, Kailla tidak bisa berbuat banyak. Ia bisa melihat teman baik suaminya itu dan beberapa pria tak dikenal termasuk Sam berjalan ke sana kemari mencari jalan keluar. Kailla hanya diam, memeluk Bentley yang hampir tertidur di pelukannya saat mobil Pram melaju kencang dan masuk ke pekarangan rumah.


Bentley hitam masuk disusul dua mobil berwarna senada lainnya. Kailla semakin panik saat mendapati sang suami turun dari dalam mobil dengan wajah tak bersahabat. Di mobil belakang, tampak Bayu, Ricko dan Tom ikut turun dan mencari tahu.


Pram berbincang sejenak dengan Bara yang baru saja menghubungi salah satu temannya untuk membantu mencari keberadaan Kentley. Sekitar sepuluh menit berbincang dengan pemilik rumah, ia berjalan ke arah istrinya.


"Apa yang kamu lakukan, Kai?" Pria paruh baya itu harus bersusah payah menahan amarahnya agar tak terlihat orang luar.


"Maafkan aku. Ini kesalahanku." Kailla tidak berani menatap suaminya, tertunduk dan memeluk Bentley dengan erat.


"Setelah aku memaafkanmu ... apa putraku akan kembali?" tanya Pram lagi. Kedua tangannya terkepal, menjuntai di kiri dan kanan tubuhnya. Tatapan tajam itu begitu mengiris, tak seorang pun berani beradu pandang dengannya.


"Maaf," cicit Kailla pelan, mengusap dahi berkeringat Bentley yang kini sudah terlelap.


"RICKO! Bawa Bent dan pengasuhnya pulang. Minta Mama dan Donny berjaga di rumah," titah Pram, masih menatap tajam ke arah istrinya.


"Dan kamu, urusan kita belum selesai." Ucapan sinis itu ditujukan pada Kailla. Napas Pram naik turun menahan emosi. Ia tidak bisa berpikir jernih lagi, saat ini ia ingin memukul seseorang. Andai tidak ada orang lain bisa saja Sam dan Kailla jadi tempat pelampiasannya.


"Aku tidak masalah andai kamu yang diculik, tapi ini Kentley. Bayangkan saja, putraku itu bahkan belum genap setahun. Bagaimana kamu menjaga anakmu, Kai." Pram meremas rambutnya melampiaskan kemarahannya.


"Sudah, Pram. Kita lapor polisi." Bara menenangkan.


Terdengar helaan napas berat. "Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku sebelum Kentley ditemukan. Aku tidak akan memaafkanmu kali ini, Kai!" ancam Pram, berbalik dan meninggalkan Kailla yang tertegun, tak banyak bicara.


Untuk pertama kalinya, Pram mengucapkan kata-kata yang menyakitkan di depan semua orang.


"Sudah, Kai. Pulang saja. Dengarkan suamimu. Jangan sampai memperkeruh suasana. Om Pram sedang panik saja. Dia tidak serius dengan kata-katanya." Bella jadi iba melihat sahabatnya yang menahan tangis dan berusaha terlihat tegar.


***


Maaf, update tersendat. Tinggal beberapa bab lagi tamat. Aku sedang fokus dengan kisah cinta Tesla RD. Pratama dan The Real Wirayudha yang baru dirilis 2 bab. Terima kasih.