The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 38



Keisya keluar dari ruangan Pram dengan wajah cemberut. Niat awal ingin mengambil berkas yang sudah ditandatangani, tetapi Keisya keluar dengan tangan kosong. Ia mendengus kesal saat menghempaskan bokong kembali duduk di depan sekretaris sang pucuk pimpinan.


"Huh!" Keisya masih mengenyahkan kesal dengan caranya sendiri, memancing tanya besar di dalam benak Stella.


"Ada apa?" tanya Stella, bingung. "Mana dokumennya?" lanjut gadis dewasa dengan setelan kerja berwarna kuning muda itu.


"Tidak jadi. Aku belum sempat meminta pada Om. Tiba-tiba ada yang menerobos masuk dan menguasai Om yang tengah berbaring di sofa. Dasar tidak tahu malu." Keisya menggerutu, teringat ciuman panas yang masih berputar-putar di otaknya dan enggan pergi.


Stella tertawa. "Makanya, aku katakan ketuk pintu dulu sebelum masuk."


"Ini bukan salahku, harusnya perempuan genit itu yang mengetuk pintu dan jangan menerobos masuk. Tidak sopan!" Keisya kesal. Teringat Pram mengabaikannya saat Kailla datang. Ia seperti tidak terlihat dan dianggap.


Selama ini, Pram selalu perhatian padanya. Senakal apapun ia bersikap, Pram sabar meladeninya. Namun, saat Kailla datang, semua berubah. Biasanya, Pram akan menyambut dengan senyuman hangat, tetapi tadi Pram mengabaikannya.


Kembali tergelak, Stella menyentil dahi Keisya. Terkadang anak magang itu menyebalkan, tetapi tak jarang Keisya juga terlihat lucu saat mengeluh.


"Hush! Perempuan genit itu istrinya Pak Pram. Jangan berlebihan, Kei." Stella masih menasehati.


"Ya, aku tahu. Aku melihatnya tadi." Pundak Keisya melemas.


"Apa yang kamu lihat?" Stella mengulum senyuman. Tanpa bertanya pun, ia sudah bisa menerka apa yang dilihat Keisya. Ia sudah lama menjadi sekretaris Pram, sudah kenyang melihat kemesraan pasangan suami istri yang memancing iri.


Keisya mengangkat pandangan, netranya beradu dengan perempuan dewasa di hadapannya.


"Perempuan itu ...."


"Nyonya. Panggil dia Nyonya. Pak Pram lebih suka orang-orang kantor memanggil istrinya dengan sebutan Nyonya atau Ibu," potong Stella, menjelaskan.


"Aku melihat, perempuan itu meloncat naik ke atas tubuh Om Pram yang sedang berbaring di sofa. Seperti anak kecil saja. Lalu ... kamu tahu Bu Bos ...." Keisya memajukan wajahnya dan berbisik, menceritakan apa yang dilihatnya di dalam tadi. Gadis berseragam abu-abu itu bergidik, mengingat bagaimana Kailla menguasai dan melahap suaminya sampai tidak berkutik.


"Makanya, lain kali kalau sedang berhadapan dengan Pak Bos dan Bu Bos segera menyingkir. Keduanya memang begitu." Stella mengingatkan.


"Anak kecil sepertimu belum paham hubungan seperti itu. Mereka sudah menikah, sah-sah saja. Apalagi, ini kantor Pak Pram. Selagi mereka melakukannya di tempat tertutup dan tidak mengganggu kepentingan umum," lanjut Stella.


Keisya menunjukan wajah datar, berusaha mencerna nasehat Stella untuknya.


"Perempuan itu ... maksudku istrinya Om Pram, siapa namanya?" Keisya dengan lancangnya.


"Kailla. Kenapa? Jangan bersikap tidak sopan padanya. Pak Pram tidak suka. Kamu tahu, Pak Pram sangat menyayangi istrinya. Apa saja yang diminta Nyonya, pasti dituruti. Nyonya Kailla itu dimanja dan mendapat cinta yang luar biasa dari Pak Pram."


Keisya menyimak.


"Mobil baru di depan ... kamu sudah melihatnya? Itu hadiah dari Pak Pram untuk istrinya. Belum lagi, tas, sepatu, perhiasan."


"Bagaimana kamu bisa tahu, Bu Bos?" tanya Keisya mulai terseret. Penasaran membuat gadis itu banyak bertanya.


"Aku yang selalu diminta untuk mencarikannya. Pasti tahu semua tentang selera Nyonya yang berkelas. Pak Pram tidak akan segan-segan mengeluarkan uang untuk istrinya. Mobil di depan itu, kamu tahu berapa harganya?"


Keisya menggeleng.


"Aku mencicil seumur hidup pun tidak akan sanggup dengan gajiku yang sekarang. Bisa-bisa aku melanjutkan cicilannya sampai ke akhirat." Stella tergelak.


Keisya terbelalak. "Pantas saja, Om Pram tidak pernah mempermasalahkan setiap aku meminta uang saku. Bahkan ibuku sakit, Om Pram menanggung semua biaya. Termasuk biaya hidup kami dan sekolahku. Om Pram juga berjanji akan membiayai kuliahku." Keisya bercerita dengan bangganya.


Stella yang ganti terbelalak. Selama ini, ia tidak tahu menahu sampai sedetail ini. "Serius?"


Keisya mengangguk. "Berarti ... uang Om Pram banyak sekali."


Stella mengangguk setuju.


Keisya tersenyum. Ia tidak pernah bermimpi bisa memiliki kehidupan seperti ini. Tiba-tiba, ayahnya mengalami kecelakaan dan dalam hitungan detik, kehidupannya berubah. Masuk ke dunia Pram yang bergelimang harta, tidak memusingkan uang untuk makan dan sekolah. Naik turun mobil mewah, di mana Pram sendiri yang menyetir dan ia berkesempatan duduk di sebelahnya.


Tidak ada yang protes andai ia bolos sekolah, tetapi Pram tidak. Pria dewasa itu akan mengomelinya. Tidak ada yang mengeluh andai ia tidak sopan, tetapi Pram beda. Pria itu akan mengingatkannya dengan sabar. Ia merasa ada seseorang yang menyayanginya. Bahkan ayahnya dulu tidak peduli dengan semua kenakalannya. Hanya bisa mengomel.


"Istri Om Pram kerja apa?" tanya Keisya mencari tahu.


"Masih kuliah."


"Pantas saja, usianya tidak jauh berbeda dariku. Ternyata dia masih muda." Keisya mengangguk. Kembali ia teringat dengan ciuman panas Pram dan Kailla di sofa.


"Jangan berpikiran macam-macam. Kalau tidak mau hidupmu menderita. Istri Pak Pram kalau mengamuk lebih mengerikan dari singa kelaparan." Stella lagi-lagi menyentil dahi Keisya. Senyum gadis di hadapannya terlihat nakal dan usil.


***


"Apa yang terjadi? Kenapa berbaring di sofa, Sayang?" Kailla turun dari atas perut Pram.


"Kepalaku pusing, Kai. Sudah seminggu ini sering pusing." Pram menegakan duduknya.


"Sayang, kamu sudah makan?" tanya Kailla duduk di samping Pram dan menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.


"Sudah. Tadi makan di restoran langganan kita. Aku mengajak Keisya juga bersamaku." Pram bercerita dengan jujur.


"Oh ya, ke mana anak nakal itu? Tadi, aku melihatnya berdiri di sana." Kailla mengarahkan telunjuknya ke tempat Keisya berdiri. Ia ingat jelas dan sempat menyenggol bahu Keisya saat berlari masuk.


Kailla terlampau bahagia sampai melupakan keberadaan Keisya.


"Biarkan saja." Pram meraih pundak Kailla dan membawanya ke dalam dekapan hangat.


Keduanya duduk bersisian, menatap lurus ke depan. "Ibu Keisya sudah baikan? Masih dirawat di rumah sakit?" tanya Kailla lagi.


"Sudah jauh lebih baik. Hanya saja setiap minggu masih harus kontrol ke rumah sakit. Tapi, Donny yang mengurusnya. Aku hanya sesekali mengunjunginya."


"Kamu tahu, Kai. Terkadang, aku melihat dirimu di dalam dirinya. Kenakalanmu yang dulu, kini beralih padanya. Jujur, aku bisa saja menutup mata dan mengabaikan Keisya dan ibunya. Tapi, aku teringat diriku yang dulu. Aku juga pernah susah dan hidup di jalanan, jauh lebih menyedihkan dari mereka. Aku bisa seperti sekarang, karena Riadi yang mengangkatku. Dan, aku pikir ... tidak ada salahnya kalau aku melakukan kebaikan yang sama. Anggap saja sedikit berbuat baik, tidak akan mengurangi apa yang kita miliki saat ini." Pram menghela napas panjang. Ia berharap Kailla mengerti jalan pikirannya.


"Aku percaya padamu. Mungkin kamu suamiku, tetapi seorang Pram juga sudah seperti ayah untukku. Andai suami bisa menyakiti istrinya, seorang ayah tidak akan menyakiti anaknya." Kailla memalingkan wajahnya, menatap Pram. Sedetik kemudian, ia memeluk dan mengecup pipi suaminya.


"Aku tidak peduli apa yang kamu lakukan di luar sana. Aku memberi kepercayaan penuh padamu, Sayang. Tapi, jangan membuat aku, Mama dan anak-anak tersisihkan. Silakan berbuat apa pun yang kamu anggap baik. Aku tahu ... suamiku bukan hanya milikku seorang. Reynaldi Pratama milik orang banyak."


"Suamiku hanya milikku saat dia berperan sebagai suamiku. Ketika berduaan dan berbagi selimut di atas tempat tidur. Tapi di saat-saat tertentu ... suamiku juga milik mertuaku. Apa aku harus marah dan cemburu saat melihat suamiku dipeluk dan dicium ibu mertuaku? Apa aku juga harus tidak terima kalau suamiku memenuhi semua keinginan mertuaku? Apa aku harus cemburu saat suamiku membagi cintanya untuk ibu mertuaku?"


Pram terbelalak mendapati pernyataan Kailla.


"Apa aku harus cemburu saat melihatmu terkurung di ruangan ini berduaan dengan Stella sepanjang hari. Bahkan semobil berdua, makan di restoran berdua menunggu klien. Bahkan aku tahu, Stella melayanimu selama di kantor, menyiapkan makanan dan minumanmu, merapikan jas kerjamu. Bahkan keseharianmu lebih banyak bersama Stella dibandingkan denganku."


Pram tersenyum, mengecup pucuk kepala Kailla.


"Benarkah? Kenapa istri kecilku jadi sedewasa ini? Di satu sisi aku bahagia, tetapi di sisi lain aku tidak rela. Aku rindu membujukmu di saat marah. Aku rindu melihat wajah ini cemberut dan protes padaku."


"Aku hanya mencoba mencintai diriku sendiri dengan berpikiran positif dan menghindari dugaan-dugaan yang belum terbukti kebenarannya. Aku mencoba menjaga rumah tanggaku dengan menempatkan cemburuku pada tempatnya. Aku tidak bisa hidup di dalam kecemburuan yang berlebihan."


Pram tiba-tiba memeluk Kailla dengan erat. Ada haru menyesak di dadanya saat mengetahui kepercayaan yang begitu besar diberikan Kailla padanya.


"Tapi jangan sampai membuatku kecewa!" ancam Kailla di sela dekapan Pram.


"Ya, Sayang." Pram mengeratkan pelukannya. Tidak bisa diungkapkan dengan kalimat, seberapa besar cintanya untuk Kailla.


"Sayang, kenapa aroma parfummu beda? Baunya aneh dari biasanya." Tiba-tiba Kailla menyela.


***


Tbc