
Kailla mendengus kesal setelah berhasil mengusir halus mama mertua dari kediamannya. Masih banyak hal yang harus diluruskannya bersama Pram dan sampai sejauh ini, ia belum bisa menerima.
“Kin!” Ibu si kembar berteriak sembari melempar tas ke sofa ruang tamu.
“Bin!” teriak Kailla. Wajahnya tampak memerah, menahan amarahnya sejak tadi. Ia harus bersandiwara di depan mama mertuanya demi menyembunyikan aib Pram.
“Kai, sudah. Jangan marah lagi, Sayang. Katakan padaku, apa yang kamu inginkan? Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maafmu.” Pram meraih pergelangan dan menghentikan langkah istrinya.
“Tidak!” tegas Kailla.
“Sayang, katakan kamu mau apa? Aku akan mengabulkannya. Berhenti marah-marahnya, Sayang,” pinta Pram dengan mimik wajah memelas.
“Aku ingin nyawamu. Bisa?” tanya Kailla. Berbalik, wanita muda itu menatap suaminya dengan kedua tangan melipat di dada.
Pram menciut. Raut wajah Kailla menunjukkan kalau saat ini belum ada kata damai.
“Sayang ....”
Kailla tidak menjawab, hanya menggeleng. Dari arah teras samping, Kinara berjalan masuk dan menghampiri Kailla dengan raut keresahan.
“Ya, Bu. Ada apa?” tanya gadis muda yang biasa memegang dan bertanggung jawab pada si bungsu Kentley.
“Mana Binara dan anak-anak?” tanya Kailla, wajahnya sedikit melunak. Suaranya pun terdengar biasa.
“Di taman samping bersama anak-anak.” Kinara menjawab dengan sopan.
“Siapkan anak-anak, bawakan makanan mereka dan ASI. Aku akan meminta Tom dan Donny mengantar kalian ke rumah Tante Kinar. Anak-anak sudah lama tidak bertemu Diadra. Nanti, mama mertuaku akan menemani kalian. Tadi aku sudah meminta pada Mama.”
“Baik, Bu.”
Pram hampir putus asa. Ia tahu kalau sebentar lagi akan dihukum Kailla. Inilah yang ditakutkannya sejak awal andai Kailla mengetahui kenakalan dan kekhilafan Keisya. Pram juga tahu, Kailla tidak akan mengampuni remaja itu.
“Kai, aku mohon. Jangan seperti ini, Sayang.” Pram memohon.
“Lalu?” Kailla menantang.
“Sayang ....” Pram masih berusaha membujuk.
“Aku tidak akan melakukan hal yang sama sepertimu dulu. Menggugat cerai?” cerocos Kailla. “Oh, tidak. Kamu tenang saja, Sayang.”
“Ssstt, pelankan suaramu, Sayang.” Pram kembali meminta. Pria itu tidak ingin pertengkaran mereka diketahui orang. Rumah mereka dihuni banyak asisten, dari dapur sampai ke gerbang depan.
“Tidak perlu meminta padaku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.” Ibu si kembar itu berbalik dan melangkah menuju kamar tidurnya tanpa peduli dengan permintaan suaminya.
***
Setelah memastikan mama mertua dan anak-anaknya sudah meninggalkan rumah, Kailla memulai pertengkaran kembali. Masuk ke dalam kamar dengan tampang mengerikan, Kailla mengeluarkan koper hitam dari dalam lemari pakaian dan membukanya lebar-lebar dan bersiap mengisinya.
“Sayang, jangan begini. Aku minta maaf kalau sudah menyakitimu. Tapi ini murni hanya salah paham. Aku tidak mengkhianatimu, Sayang. Ini hanya kenakalan gadis remaja yang salah jalan dan salah pergaulan."
“Bukan urusanku. Masalahnya aku tidak terima milikku disentuh orang lain,” tegas Kailla.
“Kailla ....” Pram memeluk erat istrinya. Kemarahan Kailla sudah tidak bisa dibendung dengan kata-kata.
“Lepas!” titah Kailla.
“Katakan dulu ... apa yang ingin kamu lakukan? Jangan katakan kamu mau pergi membawa anak-anak dan meninggalkanku.” Pram menatap koper hitam yang terbentang di atas tempat tidur.
“Oh, aku tentu tidak sebodoh itu, Sayang.” Kailla berusaha melepaskan diri dari dekapan sang suami.
Pria 45 tahun itu bisa melihat Kailla membuka kasar pintu lemari dan mengeluarkan pakaian miliknya dengan tidak kalah kasarnya.
“Sayang ....” Pram bersuara saat melihat Kailla menghempaskan pakaiannya ke dalam koper.
“Aku tidak bodoh. Kalau ada yang harus pergi dari rumah, itu adalah kamu ... bukan aku.” Kailla menatap tajam ke arah suaminya. “Jangan khawatir, Sayang. Aku tidak akan menceraikanmu. TIDAK AKAN!” tegas Kailla.
“Sayang, jangan marah lagi.” Pram mencoba berjalan mendekat, membujuk dan merayu Kailla seperti biasa.
“Aku tidak akan melepaskanmu, Sayang. Tidak, kamu tenang saja. Aku tidak akan menceraikanmu dan melepaskan apa yang menjadi milikku pada wanita lain. Aku istri sah dari Reynaldi Pratama, aku memiliki hak yang sama untuk semua aset dan harta kita, termasuk hak untuk memilikimu. Aku dan anak-anak akan tetap di sini untuk mempertahankan apa yang menjadi hak kami.” Kailla tersenyum.
“Kai, jangan marah lagi. Aku mohon, Sayang,” bujuk Pram.
“Tidak semudah itu. Aku tidak akan pernah pergi dari sisimu dan menyerahkan tempatku pada wanita lain. Terlalu mudah untuknya kalau aku menyerah. Dia akan tersenyum bahagia melihat kita bertengkar, pisah rumah apalagi sampai bercerai.” Kailla menyeringai.
Pram lega, setidaknya sang istri masih pintar dan berpikir dengan logika. Tidak hanya bisa menangis dan meratapi nasib kemudian diam-diam pergi seperti istri-istri kebanyakan.
“Jangan tersenyum. Aku tidak akan membuat hidupmu mudah. Aku akan membuatmu dan ja'lang kecil itu hidup seperti di neraka. Ingat itu! Aku Kailla Riadi Dirgantara.”
“Kailla Riadi Dirgantara Pratama, Sayang.” Pram mencoba mengingatkan.
“Aku tidak akan menceraikanmu dan membuatmu bebas berlari ke tempat Keisya. Tidak!” Kailla menutup kasar koper dan membiarkan pakaian Pram berantakan di dalamnya. “Keluar sekarang!” usir Kailla.
"Jangan pernah mencoba membawa apa pun dari rumah ini. Termasuk mobil-mobilmu. Ingat, sewaktu kamu menceraikanku dulu, semuanya sudah menjadi milikku.”
“Sayang, jangan begini.” Pram mencoba menahan langkah Kailla yang menyeret koper keluar.
“Aku ingin melihatmu menderita! KELUAR!” Kailla bergegas ke arah teras rumah dan melempar koper berisi pakaian suaminya.
“Sayang, kenapa harus begini?” tanya Pram, menatap koper yang terguling di halaman rumah.
“Mana semua kunci mobilmu? Mana dompetmu?” Kailla menyodorkan tangannya pada Pram.
"Aku harus tidur di mana?" tanya Pram memelas.
"Tidur di luar rumah, jangan melewati gerbang. Jangan coba-coba menumpang di rumah mama. Tamat riwayatmu!" ancam Kailla.
Pria matang itu hanya sanggup menelan saliva. Ia baru paham kenapa Kailla mengusir mamanya dan anak-anak ke tempat Kinar.
“Mana? Serahkan padaku!” pinta Kailla.
Pram mengalah. Menghela napas dan mencoba bersabar. Ia tidak ingin menjadi tontonan bawahannya dan memperpanjang masalah. “Baiklah, kita bicarakan di dalam,” ucap Pram, meraih pergelangan tangan Kailla dan membawa istrinya masuk.
***
“Katakan apa yang kamu inginkan, Kai? Aku akan menurutinya. Kalau kamu merasa aku salah dan mengkhianatimu, aku minta maaf,” ucap Pram sesaat setelah masuk ke ruang kerjanya berdua dengan Kailla.
“Tidak ada. Aku hanya ingin marah, mengamuk dan membunuh orang!” ungkap Kailla. Ia duduk di depan Pram yang sedang menatap sedih ke arahnya.
“Perusahaan? Aku akan menggantinya menjadi namamu. Tapi berhenti marah padaku, jangan bersikap seperti ini,” pinta Pram.
Berjalan mendekati Kailla, pria itu bersimpuh dan menggenggam tangan istrinya.
“Aku minta maaf. Tolong maafkan aku. Aku benar-benar tidak memiliki perasaan padanya, Kai. Jangan marah-marah seperti ini. Ya?”
Kailla menggeleng. “Ceritakan padaku semuanya. Apa saja yang sudah terjadi? Aku tidak ingin tahu apa yang sudah kamu berikan padanya. Itu tidak penting untukku. Apa yang sudah dilakukannya pada suamiku?”
***