
"Mama memasak untukku?" Kailla kaget begitu sampai di rumah, semua makanan enak sudah tersaji di atas meja makan. Hanya tersisa dua piring kosong yang sedang menunggu diisi dengan menu mi goreng panjang umur dan ayam rebus putih yang sedang dalam proses.
"Ish, Mama tidak bisa memasak. Jangan membuat Mama malu." Ibu Citra sedang memangku si bungsu Kentley, duduk mengawasi asisten rumah, dua orang pengasuh dan Kinar bertempur di depan kompor.
Bentley dan Diadra ditinggalkannya di ruang bermain bersama Tom. Mau tidak mau, Ibu Citra harus mengerahkan semua orang agar masakannya bisa selesai secepatnya. Semuanya mendadak, begitu mengetahui menantunya berulang tahun, Ibu Citra segera putar otak dan merencanakan semuanya.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Mama doakan kamu mendapatkan yang terbaik." Ibu Citra tersenyum. Dalam posisi memangku Kentley, ia tidak bisa memeluk Kailla.
"Terima kasih, Ma." Kailla membungkuk, menghadiahkan kecupan di pipi keriput Ibu Citra.
Kailla terharu. Hubungannya dengan sang mertua tidak bisa dibilang baik. Ada saja hal-hal yang membuat keduanya selisih paham, berbeda pendapat. Terkadang saling menyakiti dan menjatuhkan. Pram, pria 45 tahun itu selalu menjadi tempat mencurahkan keluh kesah keduanya.
Andaikan Kailla dan Ibu Citra bisa seperti sekarang, bisa dikatakan Pram adalah sosok sukses yang mengantarkan hubungan keduanya tetap berjalan bersisian di dalam perbedaan.
"Aku mencintaimu, Ma. Hadiah ulang tahunmu lebih hebat dari apa pun." Kailla tiba-tiba mendekap Ibu Citra dan menempelkan pipinya pada pipi mama mertuanya.
"Sudah. Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang kamu lakukan untuk Mama. Kamu sudah melahirkan dua orang cucu untuk keluarga Pratama." Ibu Citra menepuk pelan pipi Kailla dan tersenyum hangat.
"Loh, bukannya kamu pulang terlambat, Kai? Pram ikut pulang bersamamu?" Ibu Citra mencari tahu saat teringat ucapan Pram di telepon sebelumnya.
"Tidak Ma, aku pulang duluan." Kailla meraih tubuh Kentley dan menggendongnya. "Bent ... di mana, Ma? Aku tidak melihat anak itu sejak tadi." Kailla mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari keberadaan si sulung.
"Di ruang bermain. Mama titipkan bersama Tom. Diadra juga di sana."
"Ya sudah. Aku menemui anak-anakku dulu. Terima kasih untuk semuanya, Ma."
Ibu Citra menatap Kailla yang sedang menggendong Kentley menjauh darinya. Bola matanya berkaca-kaca.
"Mama hanya berharap ... kamu tetap seperti ini, Kai. Mama sudah tua, Mama hanya bisa menitipkan putra Mama padamu."
***
Keesokan harinya.
Kailla duduk termenung di depan cermin meja riasnya, masih mengenang kebahagiaan yang dilewatinya semalam. Makan malam untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 25.
Lebih spesial, karena kali ini sang mama mertua yang menyiapkannya. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Kailla merayakan di restoran.
"Kamu sedang apa?" Tiba-tiba Pram memeluk Kailla yang tengah menggenggam pensil alis di tangan kanannya.
"Ah, kamu mengejutkanku, Sayang." Kailla protes.
"Ayo bersiap. Bukannya kamu harus ke kampus? Aku juga mau ke kantor sebentar lagi. Ada rapat pagi, siangnya mau menemui Ibu Keisya." Pram mengecup pipi Kailla sekilas kemudian menegakan tubuhnya yang membungkuk.
Kailla tersenyum, menatap sosok gagah suaminya yang sedang mengancingkan lengan kemeja dari pantulan cermin. "Ada masalah apa dengan Ibu Keisya?" Kailla bertanya.
Pram menggeleng. "Aku tidak tahu, makanya nanti siang mencari tahu. Jujur saja ... aku kasihan padanya. Suaminya sudah pergi, dia sendiri sakit-sakitan dan tidak bisa bekerja. Keisya masih sekolah. Mereka membutuhkan uluran tanganku untuk bisa bertahan hidup." Pram menjelaskan.
"Aku percaya padamu, Sayang." Kailla sudah berdiri dan meraih dasi Pram. Seperti biasa, tugasnya setiap pagi bukan hanya membuatkan sarapan untuk suaminya dan si kembar, Kailla juga harus memasangkan dasi dan memastikan penampilan suaminya tetap sempurna.
"Kamu sudah mencoba mobil barumu?" tanya Pram, melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping istrinya.
"Apa aku boleh menyetir mobil baruku sendiri?" Kailla yang sudah selesai memasangkan dasi tampak bergelayut manja di leher Pram.
"Tidak. Kamu tidak mahir menyetir, biarkan Tom atau Ricko membawanya untukmu. Aku bahkan tidak percaya pada Sam. Asistenmu itu sebelas dua belas denganmu." Pram tergelak saat melihat wajah istrinya kian cemberut. Sebuah kecupan berlabuh di hidung mancung Kailla. "Love you."
***
"Ibu berniat pulang kampung." Ibu Keisya tengah duduk bersandar di kursi plastik, menyambut Pram dengan secangkir kopi panas dan gorengan.
"Ada apa?" tanya Pram, duduk di seberang perempuan tua. Wajah renta itu tirus dan berkeriput, kulit-kulit tangannya kasar dengan urat menonjol. Belum lagi bibir mengatup yang jarang tersenyum, selalu mendesah lelah saat bicara dengan napas pendek.
Melihat kondisi Ibu Keisya, ia teringat pada mamanya. Sewaktu pertama kali menemui Ibu Citra di Bali, kondisinya tidak jauh beda dengan Ibu Keisya.
"Di sini biaya hidup lebih besar. Ibu takut ...."
"Tidak perlu khawatir untuk biaya hidup. Aku akan menjamin sampai Keisya menyelesaikan kuliahnya dan mendapat pekerjaan yang layak." Pram menegaskan. "Atau mau bekerja di perusahaan. Aku tidak masalah," lanjut Pram, melirik ke arah Keisya yang keluar dari dapur sederhananya dengan semangkuk mi instan rebus.
"Sya, kamu makan mi instan lagi." Pram mengomel.
"Aku sudah lama tidak makan ini, Om. Lagi pula tidak ada makanan. Aku lapar, belum makan siang," keluh Keisya, menjatuhkan bokong di samping ibunya.
Pram kembali fokus pada topik pembicaraan. Ia tidak mau berdebat dengan Keisya.
"Aku tidak setuju. Bukankah Ibu masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sebaiknya tetap di Jakarta saja. Aku lebih mudah memantau perkembangan kesehatan Ibu. Di sini obat-obatan lebih mudah didapatkan dan Ibu sudah cocok dengan dokter yang sekarang. Lagi pula, Keisya masih sekolah. Akan repot kalau harus pindah sekolah." Pram menjelaskan alasan penolakan.
Perempuan tua itu menghela napas dalam, tatapan sendunya tertuju pada Keisya. Sejak beberapa hari ini, ia berdebat dengan putrinya. Keisya menolak pulang kampung dan lebih memilih tinggal di Jakarta.
"Aku tidak mau merepotkan Pak Pram lagi." Ibu Keisya mengungkapkan alasannya.
"Aku tidak masalah. Ini bentuk tanggung jawabku atas kehilangan keluarga Ibu. Bahkan apa yang aku lakukan sekarang tidak sebanding dengan almarhum Bapak. Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan. Tidak mungkin mengembalikan suami dan ayah Keisya, tetapi aku masih bisa mengambil alih tanggung jawabnya. Memastikan Ibu dan Keisya baik-baik saja," sahut Pram, sembari menyesap kopi hitam.
Pram melirik jam di pergelangan tangannya. Ia harus kembali ke kantor. "Sya, habiskan makananmu. Kita harus kembali ke kantor."
Berdiri mendekat, Pram berkata pelan. " Tetap tinggal di Jakarta. Sungguh ... aku tidak keberatan, Bu. Kalau memang membutuhkan sesuatu, jangan sungkan-sungkan meminta. Fokus pada kesehatanmu, Bu." Pram menepuk pundak Ibu Keisya yang tertunduk malu.
"Sya, aku tunggu di luar, selesaikan makananmu." Pram mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia sedang memerhatikan kontrakan sederhana yang sekarang ditempati Keisya dan ibunya.
Hampir lima belas menit berdiri di teras kontrakan dengan kedua tangan terselip di saku celana, Pram menatap ke arah jalan setapak di depan kediaman Keisya. Ada anak-anak sedang bermain sepeda, ibu-ibu mengobrol di warung tak jauh dari rumah Keisya, berbisik-bisik menatap ke arahnya.
Pram tersenyum. "Aku pikir istri dan mamaku saja yang suka bergosip, ternyata sama saja," gumam Pram pelan.
Bibir Pram baru saja mengatup saat ia merasakan ada yang membentur punggungnya dari belakang.
Bruk!
Deg-- Pram terkejut saat merasakan sesuatu menempel di punggungnya seiring dengan dua tangan memeluk pinggangnya dari belakang.
"Om, terima kasih, ya. Kalau Om tidak menjelaskan pada Ibu, aku pasti sudah dibawa pulang ke kampung. Dinikahkan dengan anak kepala desa seperti di sinetron-sinetron." Keisya berkata pelan.
Pram tergelak, mengurai belitan tangan Keisya di pinggangnya. Pria itu berbalik. "Sya, jangan memeluk Om sembarangan. Om sudah memiliki istri, dilihat orang lain bisa menimbulkan salah paham. Kamu bukan anak kecil lagi, orang bisa berpikiran macam-macam." Pram menyentil dahi Keisya sebelum bergegas menuju ke mobilnya yang terparkir di jalan raya.
Keisya berlari menyusul. Sambil tersenyum malu-malu. "Ternyata itu rasanya memeluk Om Pram," ujarnya berlari menuju ke mobil. Keisya merasa ada seseorang yang begitu peduli dan menjaganya.
-
-
-