The Journey of Love

The Journey of Love
Bab 9 Hak Dan Kewajiban



Seminggu sudah Pak Andi pergi meninggalkan Aghnia untuk selama nya. Dan seminggu pula Rey masih belum terbangun dari koma.


Dokter menyatakan Rey koma, setelah selama dua hari remaja itu tetap tidak sadarkan diri.


Julian setiap malam akan menunggu Rey di rumah sakit. Sementara Bu Laras yang akan menjaga Rey di siang hari ketika Julian berangkat ke Cafe nya.


Selama seminggu pula Julian dan Aghnia hanya bertemu ketika Julian pulang ke rumah untuk berganti pakaian dan mengantarkan Aghnia ke sekolah.


Sehingga beberapa orang yang mengenal Julian pun menjadi bertanya-tanya kenapa Julian setiap hari mengantar Aghni ke sekolah.


Dan Meta pun menjadi salah seorang yang bertanya kenapa Aghni di antar Julian setiap hari ke sekolah.


"Aku tinggal di rumah Bu Laras Ta. Kata Bu Laras lebih baik Aku tinggal di rumah nya saja. Beliau khawatir kalau Aku tinggal sendiri di rumah Aku tanpa ada yang mengawasi Aku. Lagi pula Kak Cafe Kak Julian kan nggak jauh dari sekolah, jadi nya Bu Laras meminta Aku berangkat bareng Kak Julian" Alasan itulah yang Aghni berikan kepada Meta dan beberapa teman nya ketika mereka bertanya alasan Julian mengantar Aghni ke sekolah.


"Kak Rey masih belum sadar?" Aghnia menggelengkan kepala nya menjawab pertanyaan Sisil, salah seorang teman Aghnia di sekolah selain Meta, Vania dan Wiwid.


"Jadi Kak Rey masih koma?" Kali ini Aghnia menganggukkan kepala nya menjawab pertanyaan Wiwid.


"Masih untung di kasih koma, nggak sekalian aja di Dia mokat" Aghnia, Wiwid, Vania dan Sisil langsung beristighfar bersamaan mendengar ucapan Meta.


"Kenapa?. Benerkan apa yang Gue bilang?. Dengan koma dia masih punya kesempatan hidup!" Ujar Meta kesal.


"Lo kalau ngomong jangan asal jeplak aja Ta!" Ternyata ucapan Meta terdengar oleh Ricko sahabat Rey hingga memancing kemarahan di para teman Rey dan membuat mereka menghampiri meja Aghnia dan Meta.


"Kenapa emang nya?. Salah kalau Gue ngomong kaya gitu buat orang seberengsek Kak Rey?" Ucap Meta tak kalah sengit.


"Kalian cuma mikir nasib si Kak Rey doang yang udah ketauan salah ngebut bawa motor sport lawan arus. Tapi nggak mikir nasib Aghnia yang harus kehilangan Ayah nya gara-gara ulah nya Kak Rey!" Lanjut Meta berucap yang langsung membungkam para teman-teman Rey.


"Udah tiap hari kerjaannya ngebully sekarang di tambah lagi status nya jadi P E M BU N U H!" Ricko dan teman-teman menatap tajam kearah Meta yang terlihat santai setelah menekan kata yang membuat para teman-teman Rey semakin tersinggung, dan membuat Aghnia merasa sedih.


"Meta udah Met. Kasian Aghni kalau Lo terusin lagi" Pinta Sisil agar Meta berhenti membahas masalah Rey.


"Biarlah urusan Kak Rey menjadi urusan Aghnia dan keluarga Kak Rey. Kita jangan menambah kesedihan Aghnia lagi!" Ucap Vivian mencoba menjadi penengah bagi Meta dan para teman-teman Rey.


"Maafiin omongan Gue Nia. Gue kesel aja, mentang-mentang sahabat nya, mereka seolah buta kalau ada Elo yang lebih menderita di bandingkan sahabat mereka" Ucap Meta yang akhir nya memilih untuk tidak melanjutkan pertikaian dengan teman-teman Rey.


"Iya. Lain kali jangan begitu lagi ya Ta. Mungkin ini udah jadi takdir Aku dan juga Ayah" Ucap Aghnia lirih.


Jam pelajaran pun telah usai. Aghnia hari ini menolak ajakan Meta untuk mengantarkan nya pulang ke rumah Julian karena hari ini Julian lah yang akan menjemput Aghnia sekolah untuk membahas beberapa hal.


Suara klakson mobil membuat percakapan Aghnia dan Meta pun terhenti.


" Kak Julian udah jemput. Aku duluan ya" Pamit Aghnia yang di angguki Meta.


"Salah buat calon imam Gue" Bisik Meta seraya mengembangkan senyuman kearah Julian yang tengah tersenyum kepada nya dan Aghnia.


Setelah pamit dengan Meta, Aghnia pun bergegas menghampiri mobil Julian lalu masuk kedalam kursi penumpang mobil.


"Assalamu'alaikum Aa" Salam Aghnia saat masuk ke dalam mobil yang lalu mencium punggung tangan kanan Julian dengan takzim.


"Waalaikumsalam Neng" Balas sapa Julian seraya mengusap lembut kepala Aghnia yang berkepanjangan dua.


"Gimana sekolah nya hari ini?" Tanya Julian saat kendaraan nya melaju dan sempat terjadi keheningan beberapa menit setelah Julian menjalankan mobil nya meninggalkan sekolah Aghnia.


"Alhamdulillah lancar A" Jawab Aghnia singkat.


"Itu muka kenapa murung begitu?" Julian mengajukan pertanyaan kepada Aghnia. Pasal nya sejak masuk kedalam mobil, wajah Aghnia terlihat muram.


"Ah nggak ada apa-apa kok A" Balas Aghnia berucap seraya tersenyum kecil guna menutupi sedikit rasa kesal nya ketika mengingat ucapan Meta.


"Kalau ada masalah cerita sama Aa ya Neng. Kan sekarang Neng udah menjadi tanggung jawab nya Aa dunia dan akhirat" Ujar Julian dengan nada lembut yang di angguki oleh Aghnia.


"Jadi kenapa muka nya murung?" Aghnia berdecak pelan mendengar Julian mengulangi pertanyaan yang sama.


"Aa dapay titipan salam dari calon makmum" Akhir nya Aghnia mengungkapkan hal yang membuat wajah nya terlihat murung di hadapan Julian.


Ucapan Aghnia justru membuat Julian kebingungan.


"Neng nitip salam ke Aa?" Tanya Julian bingung yang di balas helaan nafas pelan namun panjang oleh Aghnia.


"Bukan Neng yang titip salam ke Aa. Tapi Meta!" Ucap Aghnia dengan nada kesal yang justru membuat Julian bersyukur dalam hati.


Pria itu bersyukur karena dari nada bicara Aghnia, seperti nya gadis itu tengah cemburu, sehingga membuat seulas senyuman pun terbit di wajah Julian.


"Sampaikan salam balik ke Meta. Bilang sama Meta kalau Imam nya udah sold out". Aghnia kembali berdecak pelan menanggapi ucapan Julian, apalagi ketika dengan sengaja Julian mnegusak lembut rambut Aghnia.


"Udah dong muka nya jangan muram lagi ah" Cetus Julian karena wajah Aghnia masih saja terlihat murung.


"Kenapa?. Karena muka nya Neng jelek gitu?" Kedua alis Julian saling bertautan mendengar ucapan merajuk nya Aghnia yang baru pertama kali di dengar nya dan memaksa nya menghentikan laju kendaraan nya di sisi kiri jalan.


"Nggak usah Aa kasih tau juga Neng udah tau dan sadar diri kalau Neng itu cupu, buluk, je_em em em" Bukan hanya ucapan nya saja yang berhenti, kedua bola mata Aghnia pun membulat dengan sempurna ketika tanpa sepengetahuan nya Julian sudah membuka seatbelt nya dan langsung membungkan bi*** Aghnia dengan bi*** nya hingga Aghnia menahan nafas nya.


Julian melepaskan pangu*** nya saat menyadari Aghnia cukup lama menahan nafas nya lalu menyatukan kening nya dengan kening Aghnia, hingga wajah polos nan cantik milik Aghnia itu semakin dekat dan terlihat jelas di hadapan Julian.


Saling bertatapan dan jarak yang sangat dekat, bahkan ujung hidung mereka pun saling berdekatan membuat masing-masing dari mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.


"Jangan pernah bicara lagi hal jelek seperti itu, Aa nggak suka. Kalau sampai Aa dengar Neng ngomong begitu lagi."