The Journey of Love

The Journey of Love
Bab 40 Terpuruk



Julian menatap dengan sendu Aghnia dari kejauhan. Sudah hampir satu minggu ini Aghnia masih menolak untuk bertemu dengan nya dan memilih tinggal di klinik yang juga rumah Dokter Adelia bersama dengan Meta.


Selama seminggu ini pula Julian selalu mengawasi Aghnia. Selepas sholat shubuh pria itu akan mulai berangkat menuju klinik Dokter Adelia, menunggu nya keluar untuk berangkat kuliah, lalu mengikuti nya ke kampus dan menunggu nya hingga pulang kuliah, kembali ke klinik dan terus menunggu hingga malam menjelang.


Hanya Bu Laras yang bersedia Aghnia temui. Setiap hari Bu Laras pasti akan menemui Aghnia, berbincang dan menceritakan keseharian mereka masing-masing, tentu saja Meta pun ikut bergabung.


Bu Laras sengaja tak membahas Julian atau pun Rey saat berbincang-bincang dengan menantu dan calon menantu nya tersebut, karena ternyata Meta pun saat ini tengah mengalami tekanan mental saat Rey terus menerus meminta jawaban atas pernyataan perasaan nya kepada Meta.


Namun melihat kedua putra yang terpuruk karena kehilangan sosok wanita yang mereka cintai karena kesalahan mereka membuat wanita paruh baya itupun dengan terpaksa harus meminta maaf kepada kedua wanita muda yang kini tengah berada di hadapan nya.


"Neng Nia, Neng Meta" Bu Laras memanggil Aghnia dan Meta dengan lembut.


"Iya Bunda" Kedua nya menjawab panggilan Bu Laras dengan lembut.


"Maafkan kedua anak Bunda yang bodoh, tidak jujur dan selalu memaksakan kehendak mereka kepada kalian berdua" Aghnia dan Meta saling berpandangan dan kemudian melihat kepada Bu Laras yang kini tengah menundukkan kepala nya.


"Maafkan Bunda, karena sudah gagal mendidik mereka untuk menjadi suami dan calon suami yang baik untuk kalian berdua."


"Astaghfirullahalazim Bunda. Bunda jangan ngomong begitu" Ucap Aghnia yang langsung memeluk Bu Laras diikuti oleh Meta yang juga memeluk Bu Laras dari sisi yang berbeda dengan Aghnia.


"Bunda tidak gagal kok. Bukti nya Kak Julian juga Kak Rey sudah menjadi orang yang sukses" Ucap Meta yang diangguki oleh Aghnia.


"Sukses secara dunia namun lalai untuk akhirat karena Julian sudah mengabaikan kewajiban nya sebagai suami untuk Aghnia, dan Rey yang selalu memaksa Meta untuk menerima cinta nya" Ujar Bu Laras lirih.


"Bunda, Bunda nggak boleh ngomong begitu" Ucap Aghnia lembut.


"Aa baik sama Aghnia, Aa juga sayang sama Aghnia. Aa nggak pernah melalaikan kewajiban nya kepada Aghnia, hanya Aghnia nya saja yang masih merasa kalau Aa_" Aghnia tak melanjutkan ucapan nya saat kedua bola mata nya teralihkan kepada Julian yang sedang melihat nya dari dalam mobil nya.


"Subhanallah, Bunda. Itu Aa kan?" Pertanyaan Aghnia sontak saja membuat Bu Laras dan Meta melihat kearah yang Aghnia tunjuk.


"Ya Allah, Kak Julian amburadul amat Bunda" Aghnia menepuk pelan bahu Meta hingga membuat gadis itu meringis.


"Ish emang bener amburadul Nia. Liat aja berantakan banget penampilan nya kaya di tinggal bini aja" Meta tertawa kecil dengan ucapan nya sendiri, membuat Aghnia mendengus kesal.


"Hahaha. Memang benar amburadul" Tutur Bu Laras yang menyetujui ucapan Meta tentang penampilan Julian saat ini.


Wajah nya terlihat kurang tidur, bulu-bulu halus pun mulai tumbuh subur di sekitar wajah nya hingga menampilkan kesan tak terurus.


"Begitulah para suami ketika kehilangan sosok istri nya." Ucapan Bu Laras membuat Aghnia menundukkan kepala nya.


"Maafkan Nia Bunda. Nia sudah berdosa dengan mengabaikan Aa" Ucap Aghnia lirih.


"Tidak sayang. Neng nggak salah, Julian yang salah."


Sejujur nya selama seminggu ini tak hanya Julian yang tersiksa berjauhan dari Aghnia. Diam-diam Aghnia pun tersiksa berjauhan dari Julian.


Wanita muda itu tahu kalau setiap hari Julian selalu mengawasi nya namun baru kali ini Dia melihat dengan langsung penampilan Julian yang berantakan dan tak terurus itu, membuat Aghnia merasa bersalah telah lalai sebagai seorang istri.


"Maka nya pulang. Kasian itu suami nya jadi dekil begitu" Ucap asal Dokter Adelia yang ternyata berada di sekitar taman klinik.


"Neng tenang aja, Bunda udah omelin Abang, bahkan Bunda pukul Abang karena sudah bikin menantu kesayangan Bunda nggak mau pulang karena kebodohan nya"


"Yang satu lagi gimana Bu?" Tanya Dokter Adelia menanyakan Rey.


"Sama dong Bu Dokter. Yang satu lagi justru Saya kasih bonus jeweran di kedua kuping nya, karena sudah memaksa calon menantu kesayangan saya jengah sama sikap pemaksa nya" Jawab Bu Laras penuh semangat.


"Wah, kalau Meta resmi jadi menantu Bu Laras, berarti Aghnia nggak jadi menantu kesayangan lagi dong?" Kali ini Mama Tata yang tiba-tiba saja datang ikut mengeluarkan pertanyaan.


"Ish Mama" Rengek Meta.


"Nggak dong Bu. Malah Saya bersyukur punya dua menantu kesayangan" Jawab Bu Laras yang membuat wajah Meta langsung memerah menahan malu.


"Rey datang kerumah meminta maaf kepada Papa, Mama juga Mas karena terlalu memaksakan keinginan kepada Kamu. Sekarang Dia akan melepaskan Kamu dari paksaan nya. Dan membebaskan Kamu untuk memilih pendamping yang Kamu inginkan"


Meta berdecak kesal karena Rey ternyata semudah itu menyerah padahal saat ini Meta sudah mulai membuka hati nya menerima kehadiran Rey sebagai calon imam nya kelak.


Namun ternyata kini Rey menyerah setelah Rey mengetahui kalau Meta mengalami tekanan batin karena paksaan nya.


"Jadi?" Tanya Meta menggantung pertanyaan kepada Mama Tata.


"Ya Kamu pulang kerumah. Aghnia juga pulang kerumah. Kamu nggak kasihan apa sama mertua Kamu yang setiap malam selalu menangis karena masak sendirian nggak Kamu bantuin!" Ucap frontal Mama Tata yang sudah Aghnia anggap sebagai Ibu nya sendiri.


"Ish. Ada gitu orang ngajak pulang maksa?"


"Kasian Mas Kamu nggak ada lawan debat kalau Kamu nggak pulang!" Titah Mama Tata tak bisa terbantahkan oleh Meta.


"Oh iya Bu Laras. Berhubung Meta sudah menolak lamaran Rey, bagaimana kalau Rey saya jodohkan dengan keponakan Saya saja, sekarang Dia sedang kuliah menjadi seorang perawat. Seperti nya akan cocok dengan Rey." Meta langsung menatap tajam Mama Tata setelah wanita paruh baya itu mengajukan usulan kepada Bu Laras.


"Astaghfirullahalazim Mama. Kok tega banget mau jodohin Kak Rey sama Kak Mega?" Mama Tata mencembikkan bibir nya tak terima dengan pertanyaan Meta.


"Rey itu high quality calon imam masa depan. Kalau Mama punya anak perempuan satu lagi, Mama pasti jodohin anak Mama itu sama Rey"


"Heleh, kalau emang Dia niat sama Meta udah pasti Dia akan berusaha lebih keras lagi buat dapetin Meta bukan malah sekarang menyerah!"


"Hey Nona. Kurang berusaha apalagi calon menantu Mama buat dapetin Kamu. Kamu pikir gampang deketin Papa juga Mas Kamu buat dapat izin nikahin Kamu?"