
Gadis manis itu kini terlihat tengah memasang wajah jutek nya lagi kepada Rey, membuat Rey hanya bisa menghela nafas pelan, karena seperti nya gadis nya itu tidak menyadari kalau Rey mempunyai rasa yang berbeda kepada Meta. Bahkan rasa nya kepada Meta itu lebih dalam di bandingkan perasaan dulu kepada Aghnia.
Meta pun segera membalikkan tubuh nya guna berjalan menjauhi Rey, namun langkah nya terpaksa terhenti ketika .....
Rey menahan lengan kanan Meta ketika gadis itu baru saja membalikkan tubuh nya guna meninggalkan Rey.
"Ambekan" Meta menepis kasar tangan Rey yang memegang lengan nya setelah remaja itu selesai berucap, namun rupanya Rey memegang lengan Meta dengan erat sehingga tepisan Meta tak ada arti nya bagi Rey.
"Apaan sih, lepasin nggak!"
Meta membalikkan tubuh nya lalu melihat kepada Rey dengan tatapan tajam, membuat Rey pun hanya bisa menghela nafas pelan.
Sungguh berhadapan dengan Meta membuat Rey harus lebih memperbanyak stok kesabaran, dan memang tidak sepenuhnya kesalahan ada pada Meta karena memang sejak awal pertemuan mereka Rey lah yang lebih dahulu menabuh genderang kala mereka bertemu.
Namun setelah Rey menyadari kalau ternyata yang dilakukan nya dulu dengan membully Aghnia nyata nya justru bukan karena Rey tertarik kepada Aghnia, tapi justru Rey merasa sangat bersemangat ketika Meta lah yang membela Aghnia dengan menggantikan Aghnia berdebat dengan nya, membuat Rey kini harus lebih banyak bersabar menghadapi Meta yang terkadang masih jutek kepada nya.
"Iya di maafin dan di terima makasih nya. Tapi masa cuma ucapan doang, nggak ada niatan buat traktir atau apa gitu?".
Meta menatap heran kepada Rey.
"Kepala masih cenut cenut lho Ta. Sumpah masih berasa sakit nya" Meta memutar malas bola mata nya mendengar rengekan Rey.
"Ngak kebalik minta traktir ?. Ketauan gaji Kak Rey lebih gede dari gaji Gue lho!" Rey tertawa kecil mendengar celoteh Meta. Bukan gaji nya yang besar, tapi bonus yang Rey terima memang jauh lebih besar dari gaji nya.
Hal itu memang wajar di dapat Rey, karena Julian memang sengaja menghadiahkan cafe yang di pegang Rey sebagai hadiah kelulusan Rey.
Tak hanya Rey yang mendapatkan hadiah sebauh Cafe, Aghnia pun mendapatkan hadiah yang sama, namun dengan alasan tak paham dan tak berminat berbisnis, mantan gadis itu lebih memilih Julian saja yang menjalankan cafe tersebut dan setiap bulan nya Julian selalu menabungkan hasil keuntungan cafe ke rekening yang Julian buat khusus untuk Aghnia dan pasti nya rekening bank tersebut berbeda dengan rekening nafkah untuk Aghnia dari Julian.
"Sekali kali gitu di traktir sama yang punya gaji kecil" Meta mendengus kesal menanggapi ucapan Rey dengan nada usil nya.
"Iya udah. Nanti Gue beliin batagor nya Mang Ujang!" Rey tertawa mendengar ucapan Meta.
"Nggak apa-apa yang penting di traktir" Balas ucap Rey.
"Ini kapan mau di lepas?" Tutur Meta menunjuk pandangan kearah tangan Rey yang ternyata masih memegang lengan Meta membuat Rey pun tersenyum kecil namun tak jua melepaskan pegangan nya di lengan Meta.
"Takut Lo kabur dan nggak jadi traktir Gue" Alasan Rey karena masih enggan melepaskan pegangan nya itu dari Meta.
"Lepasin ih. Nanti kalau ada yang lihat bisa jadi salah paham. Disangka nya kita punya hubungan istimewa lagi!" Ucap Meta berusaha melepaskan pegangan Rey.
"Lah kan memang kita punya hubungan yang istimewa, bahkan sangat istimewa." Meta memukul kencang tangan Rey yang masih memegang nya dengan erat.
"Kak Rey lepas nggak. Kita bukan MAHRAM!" Ucap Meta dengan menekan kata di akhir kalimat nya dan ternyata hal itu berhasil membuat Rey melepaskan pegangan nya.
"Dari tadi kek!" Gerutu Meta.
Meta menghela nafas pelan seraya melihat kearah motor sport Rey.
"Kak Rey becanda?. Gimana Gue naik nya coba?" Rey menepuk pelan kening nya kala mengingat Meta saat ini mengenakan setelan kebaya, membuat ruang gerak gadis manis itu tak bisa bebas.
"Duduk nyamping aja. Nanti Gue bawa motor nya pelan-pelan" Rey memberikan solusi yang membuat gadis itu menautkan kedua alis nya dan menatap Rey dengan curiga.
"Nggak usah mikir macem-macem, semacem aja pikiran Lo udah bikin Gue puyeng" Meta mendengus kesal mendengar ucapan Rey.
"Buruan naek Meta. Panas ini!" Ucap Rey sambil mengipasi wajah nya yang mulai memerah karena kepanasan.
"Ck, Iya!" Akhir nya Meta pun mengalah, gadis manis itu pun naik ke jok bagian belakang motor sport Rey dengan duduk menyamping dan meletakkan kedua tangan nya di pinggiran jok motor.
Rey menghela nafas pelan karena Meta lebih memilih memegang pinggiran jok motor dibandingkan memegang pinggang nya.
"Pegangan yang bener Meta."
Meta berdecak kesal dan masih enggan memegang pinggang Rey.
"Pegang baju Gue, kalau Lo nggak mau pegang pinggang Gue!" Meta pun akhir nya memang ujung kanan dan kiri baju Rey dan memberikan jarak tubuh nya agar tak terlalu dempet dengan tubuh Rey.
"Pelan-pelan bawa motor nya" Titah Meta saat Rey mulai melajukan motor sport nya.
"Iya Nyonya" Rey membalas titah Meta dengan lembut.
"Idih nggak pantes banget sih Lo Kak ngomong manis gitu!" Ejekan Meta membuat Rey tertawa kecil.
Rey melajukan motor nya dengan tidak terlalu kencang, walaupun begitu semilir angin tetap menyapukan harum parfum yang dikenakan Rey dan tercium oleh penciuman Meta membuat detak jantung Meta berdebar dengan kencang, hingga tanpa sadar Meta melingkarkan kedua lengan nya di pinggang Rey dan membuat Rey mengulum senyumnya lalu membiarkan Meta memeluk nya walaupun tak erat.
Laju motor Rey terhenti ketika tiba di tempat yang Meta inginkan, namun sayang nya tempat itu justru tutup.
"Yah. Mang Ujang nya tutup Ta" Seruan Rey membuat Meta tersadar kalau posisi Mereka saat ini cukup dekat, bahkan Meta langsung menarik kedua lengan nya yang tadi melingkar di pinggang Rey dengan cepat dan kemudian berpura-pura tak melakukan hal tersebut.
"Alhamdulillah, aman dompet Gue" Ujar Meta seraya tersenyum senang.
"Yang lain aja kalau gitu!" Senyuman Meta langsung sirna setelah Rey berucap.
"Ke Mall aja, kita nonton" Tanpa menunggu persetujuan Meta, Rey langsung melajukan motor sport.
Meta yang terkejut pun dengan refleks langsung melingkarkan kedua lengan nya dan memeluk pinggang Rey dengan erat, bahkan kepala nya kini bersandar di punggung belakang Rey hingga bau tubuh Rey pun tercium langsung oleh hidung Meta membuat detak jantung nya kembali berdetak dengan kencang.
Apalagi ketika Rey menahan tangan Meta dengan tangan kiri nya saat Meta akan melonggarkan pegangan nya di pinggang Rey.
Meta hanya terdiam kala jemari tangan kiri Rey mengenggam sesaat kedua telapak tangan Meta yang masih melingkar di pinggang nya.