
"Aa" Aghnia memanggil Julian dengan pelan yang di balas Julian dengan dehaman.
"Apa Aa dan Bunda akan marah sama Neng kalau Neng menyalahkan bahkan membenci Kak Rey karena Kak Rey sudah menabrak Ayah dan membuat Ayah meninggal?"
Julian terdiam terpaku entah harus memberikan jawaban apa untuk pertanyaan Aghnia.
Disatu sisi Dia mengutuk Rey yang teledor hingga mengakibatkan kecelakaan dan menewaskan Pak Andi pria yang kini menjadi mertua nya.
Namun sebagai seorang Kakak, Dia sangat berharap Aghnia mau memaafkan keteledoran adik yang di sayangi nya itu.
Julian yang tidak ingin menjadi orang yang egois pun menyerahkan semua keputusan kembali kepada Aghnia sebagai putri dari korban keteledoran sang adik.
"Aa dan Bunda tidak akan marah dengan apa pun yang akan Neng lakukan terhadap Rey nanti. Kalau pun Neng mau melanjutkan nya ke jalur hukum, InsyaAllah Aa akan mendukung Neng" Ucap Julian lembut.
"Walaupun hal itu akan membuat Aa dan Bunda sedih dan kekecewa?" Ujar Aghnia bertanya.
"Aa dan Bunda pun sama sedih dan kecewa dengan Rey. Menyesal sudah pasti. Meminta maaf atas ulah Rey sudah pasti Aa dan Bunda lakukan kepada Neng. Namun kembali lagi ke Neng, apakah Neng mau memaafkan atau tidak kecererobohan tersebut atau tidak, itu semua menjadi hak Neng. Aa dan Bunda tak akan pernah memaksa Neng untuk memaafkan Rey" Ucap Julian panjang lebar.
"Tapi ada hal yang Aa minta kepada Neng, agar kira nya Neng bisa mengikhlaskan kepergian Ayah dan berlapang dada menerima takdir yang sudah terjadi kepada Ayah dan juga Neng"
"Aa tahu kehadiran Aa tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Ayah di hati Neng. Tapi Aa minta bantuan Neng agar sudi kira nya Neng membantu Aa menjalankan amanah yang Ayah berikan kepada Aa sebelum Ayah meninggal"
Ucapan Julian membuat Aghnia bingung dan menatap Julian penuh tanya.
"Awal nya Ayah meminta Aa menyampaikan kepada Neng permintaan maaf kalau tidak bisa mengabulkan keinginan Neng untuk menjadi Wali nikah Neng nanti. Karena seperti nya Ayah sudah mengetahui kalau waktu Ayah yang tersisa hanya tinggal sedikit" Julian menjeda kisah nya ketika melihat Aghnia sudah mulai sedih.
"Ayah menitipkan Neng kepada Aa, agar kira nya nanti Aa bisa mencarikan Neng jodoh dan menjadi Wali nikah menggantikan Ayah" Julian kembali menghentikan kisah nya karena mulai terdengar isak tangis kecil Aghnia.
Julian menghela nafas pelan lalu meraih kedua telapak tangan Aghnia, mendudukan diri saling berhadapan dengan Aghnia dan saling beradu pandang menatap dengan lembut wajah gadis nya.
"Maafkan Aa karena dengan tanpa persetujuan Neng, Aa mengakadkan Neng guna mengabulkan keinginan Neng menjadikan Ayah sebagai Wali nikah Neng" Ucapan Julian membuat Aghnia menatap wajah Julian dengan terkejut.
Seolah paham akan maksud tatapan Aghnia, Julian menganggukkan kepala nya pelan.
"Ya, secara agama Neng adalah istri Aa" Pernyataan Julian membuat Aghnia sangat terkejut.
"Aa hanya mengabulkan keinginan Kamu yang ingin menjadikan Ayah Wali nikah Kamu. Dan kalau Kamu keberatan dengan hal itu, maka Aa akan membatalkan nya" Ujar Julian dengan nada lirih.
"Apa Aa ingin membatalkannya?" Aghnia bertanya kepada Julian.
"Kalau boleh jujur. Aa tidak ingin membatalkan. Namun seperti yang Aa bilang tadi. Kalau Kamu keberatan maka _"
Aghnia menghela nafas pelan dan membuat Julian menggantungkan ucapan nya.
"Ayah menitipkan Neng kepada Aa, berarti Ayah percaya kalau Aa bisa menjalankan amanah Ayah. Sekarang Neng tanya kepada Aa, apa Aa keberatan dengan akad yang sudah Aa ucapkan atas Neng?" Julian menggelangkan kepala nya menjawab pertanyaan Aghnia.
"Justru akan menyakitkan bagi Aa kalau Aa harus menjadi Wali pengganti Ayah dan tidak mengakadkan Neng untuk Aa"
"Jadi?" Aghnia bertanya kepada Julian.
"Aa berharap Neng bersedia menerima pernikahan kita. Namun jika Neng keberatan karena sudah memiliki pilihan sendiri, maka Aa bersedia melepaskan Neng karena Aa tidak ingin memaksa Neng untuk menerima pernikahan kita" Julian memberikan jawaban kepada Aghnia seraya menatap Aghnia dengan lembut.
"Tapi Neng belum siap kalau harus _" Aghnia pun kebingungan untuk meneruskan ucapan nya.
Jujur saja Aghnia tidak pernah memikirkan untuk menikah di usia muda. Apalagi usia nya saat ini baru 16 tahun. Sedangkan usia Julian sudah sangat matang dan tentu saja ada hak Julian yang harus di berikan oleh Aghnia sebagai kewajiban nya. Dan Aghnia belum siap untuk melaksanakan hal tersebut.
"Neng tenang saja, Aa tidak akan memaksa Neng melaksanakan kewajiban dan memberikan hak Aa. Aa tidak akan membatasi Neng dengan pernikahan ini. Namun Aa berharap Neng bisa menjaga pernikahan ini seperti Aa yang akan menjaga pernikahan kita"
Aghnia berusaha mencerna maksud dari ucapan Julian, hingga akhir nya Aghnia mengangguk setuju menjawab permintaan Julian.
"Apa Aa akan melepaskan Neng kalau Aa menemukan wanita pilihan Aa?" Aghnia mengajukan pertanyaan kepada Julian.
Aghnia hanya takut jikalau dia sudah bisa menerima pernikahan mereka nanti dan Julian berubah pikiran karena menemukan wanita lain yang di cintai nya.
Lalu apakah Julian akan melepaskan Aghnia seperti sang Ibu yang memilih meninggalkan nya dan juga Ayah nya karena pria lain?.
Julian mengusak rambut Aghnia dengan lembut seraya tersenyum pria itu berkata
"Sebelum Aa mengakadkan nama Kamu untuk Aa, Aa sudah memutuskan hanya Kamu lah wanita yang Aa pilih sebagai pendamping hidup dunia akhirat serta Ibu bagi anak-anak Aa kelak"
Wajah Aghnia seketika itu juga tampak merina hingga membuat Julian gemas.
"Jadi buang jauh-jauh pikiran Neng, kalau Aa akan berpaling dari Neng demi wanita lain. Kecuali Bunda, karena Neng dan Bunda masing-masing memiliki porsi yang sama dalam hati Aa".
Aghnia menundukkan wajah nya tak berani menatap wajah Julian yang tengah menatap nya dengan penuh cinta.
Namun entah mengapa Aghnia lebih memilih untuk menutup hati untuk pria termasuk Julian. Kehilangan Ayah nya secara mendadak membuat nya menjadi pribadi yang diam-diam memiliki trauma.
Apalagi ketika Dia mengingat ucapan Ibu kandung nya ketika tidak sengaja bertemu dengan nya dan Ayah nya tiga tahun silam di sebuah pusat perbelanjaan di kota mereka tinggal.
Dimana sang ibu yang berpenampilan mewah sangat berbanding terbalik dengan Aghnia dan juga Ayah nya. Membuat Ibu nya menghardik Pak Andi dan mengejek penampilan Aghnia yang sangat tak enak di pandang.
Bagi Ibu nya Aghnia adalah sebuah kesalahan yang di buat nya. Ditolak oleh orang yang melahirkan nya membuat Aghnia sangat terpukul.
Walaupun sang Ayah selalu mengatakan kalau Dia adalah harta nya yang paling berharga namun tak membuat Aghnia merasa senang.
Senyuman nya selalu terukir guna menutupi kesedihan nya yang di buang oleh ibu kandung nya sendiri sejak tiga tahun yang lalu.