
Setelah mendapatkan penolakan dari Julian untuk meninggalkan Aghnia dengan Meta, akhir nya Julian menyerah saat melihat Aghnia yang masih menolak kehadirannya dan mengizinkan Meta membawa Aghnia pergi dari nya.
Tanpa sepengetahuan Meta dan Aghnia, Julian diam-diam membuntuti kemana Meta membawa Aghnia dengan meminjam motor salah seorang karyawan Cafe yang tidak di ketahui oleh Aghnia ataupun Meta.
Bahkan Julian sengaja meminjam jaket dan helm full face agar kedua sahabat itu tidak mengetahui kalau Julian mengikuti mereka.
"Psikater?" Julian mengumam saat Meta menghentikan laju motor nya di sebuah klinik kesehatan mental.
Kedua alis Julian bertautan saat melihat seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan mereka dan langsung memeluk tubuh Aghnia yang tampak sedikit berguncang.
Julian tampak panik saat melihat tubuh Aghnia melemah. Untungnya ada Meta dan dokter paruh baya itu di samping Aghnia, hingga mereka berdua dengan sigap langsung memapah tubuh Aghnia memasuki klinik.
Julian pun bergegas menyusul kedalam klinik. Dari jarak yang sedikit jauh Julian melihat Aghnia yang masih di papah Meta dan wanita paruh baya itu memasuki sebuah ruangan.
"Bawa Nia kedalam Ta. Tante mau mengambil berkas Nia dulu"
Meta mengangguki ucapan wanita paruh baya tersebut dan langsung membawa masuk Aghnia kedalam ruangan, sementara wanita paruh baya itu keluar ruangan bertepatan dengan Julian yang baru saja sampai di depan pintu ruangan.
"Maaf Dokter. Perkenalan saya Julian suami Aghnia" Ujar Julian saat wanita paruh baya itu melihat Julian dengan tatapan heran.
Seulas senyuman diberikan oleh wanita paruh baya itu kepada Julian
"Oalah, suami nya Aghnia toh." Julian mengangguk pelan menjawab ucapan wanita paruh baya tersebut.
"Saya Adelia. Saya yang biasa membantu Aghnia saat mengalami depresi" Ucapan Dokter Adelia sontak saja membuat Julian sangat terkejut. Bahkan tubuh Julian nyaris limbung saat kata depresi terucap dari Dokter Adelia.
"Maksud nya Dok?. Aghnia menderita depresi?" Tanya Julian tergagap tak percaya.
Dunia nya seakan runtuh saat Dokter Adelia mengangguki pertanyaan Julian.
"Tidak mungkin Dokter. Aghnia tidak mungkin menderita depresi. Dia selalu baik-baik saja Dok!" Ujar Julian tak percaya, Dokter Adelia menepuk pelan bahu Julian.
Dokter Adelia sedikit menggerakkan kepalanya seolah meminta Julian untuk mengikuti nya.
" Suster Bila, tolong beritahukan Meta kalau Saya ada tamu dadakan. Minta kepada Meta untuk menenangkan Aghnia terlebih dahulu"
"Baik Bu."
Suster Bila pun segera berjalan menuju ruangan yang sudah Meta dan Aghnia masuki beberapa menit yang lalu.
"Silahkan duduk Pak"
Julian mendudukan tubuh nya di sofa ruang kerja Doktet Adelia, saat Doktef Adelia tengah mencari berkas Aghnia.
Setelah menemukan berkas Aghnia, Dokter Adelia pun segera mendudukkan tubuh nya bersebrangan dengan Julian.
Doktet Adelia meletakkan berkas hasil diagnosa Aghnia selama beberapa tahun ini keatas meja dan mendorong nya kearah Julian.
"Itu adalah berkas diagnosis Aghnia selama dua tahun terakhir ini"
Julian tersentak lalu meraih berkas tersebut dan membuka nya, membaca dan mencoba memahami isi hasil diagnosis Aghnia.
"Silent Depression?" Gumam Julian yang di angguki Dokter Adelia.
"Tapi selama ini Aghnia terlihat biasa saja Dok. Bagaimana bisa _?"
Julian tak melanjutkan ucapan nya. Kedua telapak tangan nya di genggamnya dengan erat seolah menahan rasa sesak nya ketika mengetahui kalau Aghnia selama ini tidak baik-baik saja seperti yang selalu terlihat oleh nya bahkan orang di sekitar nya.
"Argh!" Julian mengeram kesal saat menyadari kalau Dia sebenarnya tidak pernah memahami bagaimana perasaan Aghnia selama ini.
Rasa bersalah pun semakin dirasakan oleh Julian, ketidakjujuran dan ketidakpekaan terhadap kondisi Aghnia membuat Julian merasa menjadi seorang suami yang tidak tidak berguna bagi istri nya.
"Aghnia sangat pandai menyimpan perasaan nya. Beruntung dia memiliki sahabat seperti Meta yang memiliki kepekaan terhadap nya. Sejatinya bukan hanya Aghnia saja. Meta pun sebenarnya mengalami hal yang sama. Karena itulah mereka saling memahami dan saling mensupport satu sama lain saat salah satu diantara mereka tengah down. Seperti yang Aghnia alami saat ini"
Julian hanya bisa menundukkan kepala nya dalam-dalam menyesali semua perbuatan nya yang tidak jujur kepada Aghnia, hingga membuat Aghnia kembali mengalami depresi.
"Apa Saya bisa mendampingi nya Dok?." Dokter Adelia mengangguki ucapan Julian.
"Mari" Julian mengangguk pelan lalu mengikuti langkah Dokter Adelia keluar ruangan nya menuju ruangan yang masih di tempati oleh Aghnia dan Meta.
Kedua nya tengah berbincang bersama dengan Suster Bila saat Dokter Adelia memasuki ruangan di ikuti Julian di belakang nya.
"Pelan-pelan memanggil nya." Bisik Doktet Adelia saat memasuki ruangan kepada Julian.
"Sayang" Tawa Aghnia langsung tak terdengar lagi saat mendengar suara Julian memanggil nya.
"Tante" Panggil Meta dengan nada protes kepada Dokter Adelia.
Meta menghela nafas pelan saat Dokter Adelia mengangguk, dengan sedikit gerakan meminta Meta dan Suster Bila meninggalkan ruangan.
Dengan berat hati Meta pun akhir nya terpaksa keluar ruangan setelah Suster Bila menarik pelan Meta keluar ruangan.
"Sayang" Julian kembali memanggil Aghnia dengan lembut dan kemudian memeluk erat tubuh Aghnia.
"Maafin Aa Sayang. Maafin Aa" Ujar Julian tanpa sadar menangis saat memeluk Aghnia yang masih terdiam tak menanggapi ucapan nya ataupun pelukan nya.
"Ya Allah. Sayang. Tolong maafkan Aa" Julian nenangkup wajah Aghnia dengan kedua tangan nya lalu mengarahkan wajah Aghnia untuk di tatap nya.
"Hey. Neng kesayangan Aa" Tatapan Aghnia seolah kosong saat menatap Julian, membuat hati Julian semakin sakit dan sesak.
"Nia" Aghnia mengerjapkan kedua bola mata nya saat mendengar suara Dokter Adelia memanggil nama nya.
"Siapa yang sekarang ada di depan Nia?" Tanya Dokter Adelia dengan lembut.
"Aa Iyan" Jawab Aghnia masih menatap kosong Julian.
"Siapa Aa Iyan?" Kembali Dokter Adelia mengajukan pertanyaan kepada Aghnia.
"Aa nya Ia waktu kecil" Jawaban Aghnia membuat Julian meneteskan air mata nya.
Julian tersentak saat Aghnia menangkup wajah nya dengan kedua tangan nya dan menghapus air mata Julian dengan kedua ibu jari nya.
"Aa ndak oyeh angis" Refleks Aghnia memeluk Julian dengan erat sama seperti yang Aghnia lakukan saat pertama kali mereka bertemu.
"Maaf kan Aa Sayang. Please kembali sayang. Aa sangat menyayangi Kamu" Julian melerai pelukan Aghnia, dan mengusap lembut pipi Aghnia.
Kedua bola Aghnia berkedip kedip, seulas senyuman di berikan oleh Aghnia kepada Julian, membuat Julian membalas senyuman Aghnia.
"Aa" Aghnia memanggil Julian dengan nada lembut.
"Iya sayang" Julian membalas panggilan Aghnia dengan senyuman.
"Mari kita berpisah"