
"Aghnia akan menginap di sini Mas. Biar bagaimana pun juga Aghnia sudah terbiasa tinggal di rumah Kami di bandingkan rumah keluarga Mas!" Ucapan Miko membuat seluruh keluarga nya dan juga Aghnia terkejut.
"Tapi Saya Lebih berhak terhadap Aghnia" Ucapan tegas Julian membuat keluarga Meta semakin bingung.
"Aghnia istri Saya. Kami sudah menikah dan di nikahi langsung oleh Pak Andi sebelum beliau wafat" Sontak saja ucapan Julian membuat keluarga Meta semakin terkejut.
Miko melihat kearah Aghnia yang juga tampak terkejut dengan ucapan Julian sehingga sebuah pertanyaan meminta kebenaran itu pun di ajukan oleh Miko kepada Aghnia, "Apa benar itu Nia?"
Anggukan Aghnia membuat Miko menghela nafas kesal.
"Kenapa Kamu diam saja saat Mas melamar Kamu?!" Mama Tata menyentuh lengan Miko setelah bertanya kepada Aghnia dengan nada keras.
"Maaf Mas. Aghnia tadi mau menjawab tapi_"
"Kalau Dia tidak datang apakah Kamu akan menjawab permintaan Mas dengan penolakan?"
Tak ada jawaban ataupun pergerakan dari Aghnia membuat Miko menyunggingkan senyuman dan Julian melihat kearah Aghnia dengan kecewa.
"Tampak nya pernikahan kalian terjadi tanpa sepengetahuan Aghnia. Kalau begitu lepaskan Aghnia, biarkan Dia memilih!" Ucapan Miko memancing amarah Julian.
Namun amarah itu mereda setelah Aghnia menyentuh lengan Julian. Saling bertatapan dengan Julian dab gelengan kepala Aghnia membuat Julian menahan amarah nya.
"Maafkan Aghnia Pah, Mah, Mas juga Meta. Nia belum mengatakan kepada Kalian kalau Nia sudah menikah dengan Kak Julian" Ucap Aghnia.
"Bagaimana bisa Kamu menikah dengan pria yang adik nya sudah membunuh Ayah Kamu Nia!" Kali ini Meta yang berucap dengan nada tinggi.
Dan sontak ucapan Meta membuat semua anggota keluarga Meta menatap Julian dengan tajam.
"Ingat Nia. Kamu kehilangan Ayah karena Adik dari pria yang menikahi Kamu!" Tubuh Aghnia bergetar menahan tangis. Ucapan Meta membuat nya shock.
"Jangan-jangan Dia sengaja menikahi Kamu agar adik nya bisa terbebas dari jeratan hukum yang akan menjerat nya kalau Dia sadar!" Kembali ucapan Meta membuat Aghnia terdesak.
"Cukup!" Julian berucap dengan tegas.
"Kami sudah saling mengenal sejak Aghnia berusia 3 tahun. Masalah Rey akan tetap berlanjut dan Kami akan mengikuti prosedur yang berlaku!" Ucap Julian tegas.
Pria itu segera memeluk tubuh Aghnia yang bergetar. Lagi lagi tak ada penolakan dari Aghnia, bahkan kini Aghnia menangis pelan dalam pelukan Julian.
"Saya menikahi Aghnia karena tulus mencintai nya sejak Aghnia kecil. Kami hilang kontak ketika Pak Andi membawa Aghnia pindah ke kota saat Aghnia berusia 5 tahun" Jawaban Julian membuat Aghnia semakin merapatkan pelukan nya kepada Julian.
"Tak ada niatan Saya menikahi Aghnia agar Rey terbebas dari jeratan hukum. Bahkan kalau perlu saya sendiri yang akan membawa nya ke pihak berwajib setelah dia sadarkan diri!" Ucapan Julian membuat Meta terdiam.
"Maaf karena sudah merepotkan keluarga Bapak dan Ibu. Saya akan membawa Aghnia pulang. Kami permisi" Ucap Julian.
Aghnia menahan tubuh Julian ketika akan membawa nya keluar dari rumah Meta.
"Neng pamit sama Mama dan Papa dulu A" Julian terpaksa melepaskan rangkulan nya kepada Aghnia dan membiarkan gadis nya pamit kepada keluarga Meta.
"Maafkan Aghnia Ma, Pah, Mas juga Meta" Mama Tata memeluk Aghnia dengan erat. Papa menganggukan kepala nya. Miko masih menatap Julian dengan tajam sementara Meta sudah menangis pelan.
Gadis itu menyesal sudah membuat sahabat sedih. Dan langsung memeluk Aghnia ketika sang Mama sudah melepaskan pelukan nya.
"Maafin Aku Meta" Tangisan mereka semakin menjadi untuk beberapa saat.
"Kalau Kakak Julian nggak tulus sama Lo, Lo sama Mas Miko aja. Nggak apa-apa kan Mas?" Miko menganggukan kepala nya membuat Julian mengepalkan tangan nya menahan amarah karena ucapan Meta.
"Kamu nyumpahin Aku jadi janda muda?" Sontak saja pertanyaan Aghnia membuat tangisan Meta berubah menjadi tawa.
Pelukan kedua gadis itu pun terlepas, kedua sahabat itu saling berhadapan dengan kedua tangan mereka yang saling menggenggam satu sama lain.
"Jahat banget ya Gue?" Aghnia menganggukan kepala nya.
"Maafin Gue ya Nia" Aghnia kembali menganggukan kepala nya menjawab ucapan Meta.
"Kak Julian" Meta menghampiri Julian bersama dengan Aghnia.
"Hem" Jawaban Julian membuat Meta berdecak kesal.
"Meta titip Aghnia. Tolong jaga Aghnia. Meta yakin kalau Kakak bisa membahagiakan Aghnia di bandingkan Mas Miko" Tutur Meta meletakkan tangan Aghnia kepada tangan Julian.
"Maafin Meta udah bentak Kakak. Meta harap Kakak dan juga Bunda bisa bersikap adil terhadap masalah Aghnia dan juga Kak Rey" Julian mengangguk.
"Hua... Jahat banget sih Lo Nia. Mana Gue tadi sempet titip salam buat calon imam lagi buat Kak Julian. Eh nggak tau nya Gue nitip salam sama istri nya. Pantesan aja muka Lo BT pas gue titip salam buat Kak Julian, ternyata ada yang cemburu" Aghnia menepuk lengan Meta yang tengah menertawai nya.
"Dasar bocah labil!" Gerutu Miko yang memilih meninggalkan ruang tamu karena tak mau melihat Julian yang tampak begitu mesra menatap Aghnia dan Aghnia yang sesekali melihat Julian dengan tatapan yang mendamba.
Ya Miko mengakui kekalahan nya kepada Julian dan memilih mengikhlaskan Aghnia kepada pria yang diam-diam sudah menjadi suami gadis idaman nya.
Setelah pamit kepada kedua orang tua Meta. Julian dan Aghnia pun akhirnya pulang menuju rumah Pak Andi dikarenakan hari yang sudah malam dan rumah yang lebih dekat dari rumah Meta.
Sesampainya di rumah Pak Andi, Julian bergegas membersihkan diri, karena sejak tadi Dia sudah merasa tidak nyaman dengan tubuh nya yang berkeringat karena mencari Aghnia sejak siang tadi.
Sementara Aghnia sendiri tengah membuatkan makan malam untuk Julian, karena tadi Julian memberitahu nya kalau Julian belum makan malam dan mengajak nya mampir ke tukang sayur yang berada tidak jauh dari kediaman Aghnia.
Aghnia tersentak ketika dua buah lengan melingkar di pinggang nya ketika sedang memasak.
Aghnia terdiam dan merasakan tubuh nya bergetar dan detak jantung yang berirama dengan kencang, ketika tiba-tiba Julian mengecup singkat pipi kanan istri kecil nya itu.
"Bau nya harum" Bisik Julian tanpa melepaskan pelukan nya di pinggang Aghnia hingga membuat gadis itu menjadi gugup dan salah tingkah.
"Awas nanti tumis kangkung nya golongan karena Neng diemin gitu" Aghnia kembali tersadar dari kegugupan nya dan kembali melanjutkan memasak nya.
"Neng" Julian memanggil Aghnia dengan lembut yang di balas Aghnia dengan dehaman kecil.
Julian meletakkan dagu nya di bahu kanan Aghnia dengan tangan yang masih setia melingkar di pinggang Aghnia.
"Neng hanya perlu belajar mencintai Aa. Biarkan Aa yang mencintai Neng" Ucapan Julian membuat Aghnia menghentikan memasak nya.
Gadis itu mematikan kompor lalu membalikkan tubuh nya tanpa melepaskan lilitan tangan Julian di pinggang nya.