
Meisi menutup mulutnya karena menahan rasa ketakutannya , Kaisar Qi begitu marah saat mendapati hidungnya membesar.
" Mengapa obat yang ku berikan tidak menyembuhkannya , sebaiknya aku cek saja ". Kata Meisi yang membuka kantong di tergantung di bagian pinggangnya.
Seketika mata Meisi terbelalak melihat sebuah botol obat yang warnanya sama dengan botol yang berada di dalam kantongnya.
" Aduh bagaimana ini !! ternyata salah obat , tentu saja akan gatal karena itu bukanlah obat luka , mengapa aku bisa seceroboh ini ". Gumam Meisi dalam hatinya .
Meisi tidak tahu lagi Bagaimana cara menjelaskannya pada Kaisar Qi karena memberikan obat yang salah padanya.
" Hai Meisi Apa yang kau pikirkan cepat cari solusi ? Ini semua karena kau". ucap Kaisar Qi sambil menyalahkan Meisi.
" iya iya Yang Mulia Tunggu aku akan mencari solusi untukmu, sabar-sabar aku akan berpikir ". Kata Meisi.
" apa !! dalam keadaan seperti ini kau masih bilang akan berpikir jangan-jangan kau memberiku obat yang salah !!". tebak Kaisar Qi seraya menatap penuh selidik terhadap Meisi.
Meisi memejamkan matanya dan berserah diri bagaimanapun dia salah telah memberikan obat yang salah pada Kaisar Qi.
" Ya Tuhan harus bagaimana lagi Aku mengatakan padanya , tidak - tidak aku harus berpikir lagi agar menghindari bencana ini ". Gumam Meisi yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.
Meisi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan pada akhirnya tidak bisa memberikan solusi yang tepat kecuali berkata jujur padanya jika obat itu salah.
" yang mulia aku aku ".
" Berbicaralah yang benar" . Kata Kaisar Qi.
" aku telah memberikan obat yang salah padamu maka maafkan aku yang mulia ". Teriak Meisi sambil memejamkan matanya.
" sudah kuduga seperti itu karena dari baunya sudah menyengat ". Ungkap Kaisar Qi.
Kaisar Qi berusaha untuk menahan rasa emosinya , dan kejujuran Meisi membuatnya takjub.
" Baiklah , tolong jangan berulah lagi ". Nasehat Kaisar Qi pada Meisi.
" Yang Mulia bagaimana jika kau naik kuda saja biar aku yang akan berjalan ". Gumam Meisi.
" Jika begitu , Kita akan menaikinya berdua dan jangan berdebat lagi . Apakah tidak merasa lelah ".
" Itu semua karena kau yang berulah ". Ucap Kaisar Qi yang sejak tadi selalu memojokkan Meisi.
" Iya , aku akan mengalah untukmu ". Ujar Meisi.
Kaisar Qi mulai menaiki kuda tepat dibelakang Meisi , hal ini membuat keduanya berada dalam posisi berdekatan bahkan menempel bagaikan perangko . wkwkwk
Dengan kecepatan yang lumayan tinggi barulah bisa menempuh waktu yang singkat.
" Yang Mulia , rasanya aku ingin sekali membuang air ." Lirih Meisi pada Kaisar Qi .
" Disini tidak ada sungai 2 jam lagi akan melewati sungai ". Kata Kaisar Qi yang membuat Meisi kesal.
" Yang Mulia sudah tidak bisa tertahankan lagi , bagaimana jika keluar disini ?". Keluh meisi.
" Baru saja sudah ku katakan jangan berulah tapi kau masih saja tetap melakukannya ". Ketus Kaisar Qi.
" Kali ini aku tidak berulah yang mulia , sungguh ". Lirih Meisi dengan pelan .
Akhirnya Kaisar Qi turun dari kuda dan membiarkan Meisi melakukan yang seharusnya di lakukan.
Tidak bisa terbayangkan jika seorang wanita akan membuang air selain di sungai ataupun tempat khusus
Kaisar Qi menghela nafasnya dengan panjang karena hari - hari yang dia lalui bersama Meisi sangatlah tidak berkesan malah selalu tertimpa kesialan akibat ulahnya.
" Yang Mulia , apakah kau menungguku terlalu lama ." Kata Meisi.
" Biasa saja ".
" Tapi aku belum membuangnya karena tidak bisa keluar ". Gumam Meisi.
" Meisiiii !!!!! ". Kaisar Qi mulai geram .