
Bu Laras pun pergi meninggalkan Aghnia dan Julian di ruang IGD.
"Maafkan. Ikhlaskan". Aghnia kembali mendengar bisikan suara Pak Andi.
"Aa"
"Iya Neng. Ada apa?. Ada yang sakit?"
Aghnia menggelengkan kepala nya. Dalam hati nya tengah bergemuruh dan menahan sesak ketika dia mengucapkan sebuah kata yang membuat Julian menghentikan kegiatan nya.
"Ayo kita jenguk Kak Rey"
Kedua bola mata Julian membulat mendengar ucapan Aghnia.
"Aa pasti sangat ingin melihat keadaan Kak Rey kan?"
Tak ada jawaban ataupun gerakan dari Julian membuat Aghnia menghela nafas nya pelan menahan sesak di dada nya.
"Mari kita jenguk Kak Rey"
Julian menggelengkan kepala nya pelan lalu menggenggam kedua telapak tangan Aghnia dengan erat.
"Neng nggak apa-apa kok."
Tutur Aghnia menahan sesak di dada nya. Namun Dia pun tidak mau menjadi seorang istri yang egois bagi Julian dengan membiarkan Julian tidak melihat kondisi Rey yang sudah sadar setelah koma selama satu tahun.
Apalagi ketika Aghnia mengingat permintaan Ayah nya untuk memaafkan dan mengikhlaskan kepergian Pak Andi agar Pak Andi bahagia dan tenang di alam sana, membuat gadis itu mencoba memaafkan dan mengikhlaskan semua kejadian yang telah di alami nya.
"InsyaAllah Neng sudah memaafkan Kak Rey dan mengihlaskan kepergian Ayah" Ucap Aghnia yang tiba-tiba merasakan kelegaan di dalam hati nya ketika selesai mengucapkan untaian kalimat tersebut.
Julian memeluk tubuh Aghnia. Aghnia pun membalas pelukan Julian dan menyembunyikan wajah nya di dada Julian. Menghirup dalam-dalam harum tubuh Julian yang selalu bisa membuat nya tenang ketika sedang gundah seperti ini.
"Terima kasih Neng Sayang. Terima kasih. Dan maafkan Kami" Bisikan Julian semakin membuat Aghnia memeluk erat tubuh suami nya itu dan menumpahkan segala rasa kesal, marah, dan kemudian mencoba untuk mengikhlaskan dan memaafkan semua nya, agar Dia dan juga Ayah menjadi tenang.
Dan kini disinilah Aghnia dan Julian berada. Didalam sebuah ruangan perawatan dengan Rey yang tengah terduduk lemah di atas bangkar nya tak sanggup menatap Aghnia yang berdiri sambil mengenggam erat tangan Julian guna menahan amarah nya kepada Rey.
"Gimana kondisi Kak Rey Bunda?"
Tak hanya Julian dan Bu Laras yang terkejut mendengar pertanyaan Aghnia, Rey yang tak kalah terkejut nya itupun semakin menundukkan kepala nya dalam-dalam semakin tak sanggup menatap gadis yang biasanya dia katai itu.
"Alhamdulillah, seluruh organ vital nya berfungsi dengan baik. InsyaAllah hanya tinggal menjalani beberapa kali tes dan observasi Rey sudah bisa pulang"
Rey melirik sekilas Aghnia dan Julian. Ada rasa sesak ketika melihat jemari Aghnia dan Julian saling bertautan dan menggengam satu sama lain seolah saling memberikan dukungan.
Apalagi saat melihat pancaran mata Julian yang menatap Aghnia dengan penuh cinta dan tatapan malu Aghnia ketika tatapan mereka bertemu membuat Rey meyakini kalau mereka mempunyai rasa yang sama.
Bu Laras memang sedikit banyak sudah menceritakan kepada Rey tentang apa yang telah terjadi.
Rey yang telah menabrak Pak Andi hingga meninggal dunia dan pernikahan Aghnia dan Julian juga tentang koma nya selama setahun ini.
Namun lagi-lagi penjelasan Bu Laras mengenai siapa Aghnia membuat Rey hanya bisa menelan kekecewaan. Kecewa karena ternyata gadis yang sejak awal masuk ke SMU itu sudah mencuri perhatian juga hati nya itu ternyata gadis kecil yang menjadi cinta pertama abang nya hingga belasan tahun.
Padahal Rey memang sengaja membully Aghnia agar gadis itu akan selalu mengingatkan. Bahkan Rey dengan sengaja tidak naik kelas hanya untuk bisa satu angkatan dengan Aghnia.
Namun kini semua nya keinginan dan harapan Rey terhadap Aghnia telah musnah. Gadis yang telah mencuri hati nya itu ternyata sudah menjadi milik abang kesayangan nya sejak enam bulan yang lalu.
Dan hanya doa yang Rey ungkapkan dalam diam nya agar abang kesayangan nya dan gadis yang diam-diam dia sayangi itu bahagia hingga di akhirat nanti.
"Aghnia" Perbincangan hangat di ruang perawatan Rey antara Bu Laras, Julian dab Aghnia itu terhenti ketika Rey memanggil nama Aghnia.
"Maaf"
Ruangan semakin hening.
"Maafin kesalahan Gue selama ini. Maafin Gue karena selalu membully Elo setiap hari. Maafin Gue karena Elo harus kehilangan Ayah Lo selama nya"
Tangisan Rey pun akhir nya pecah dan terdengar sangat menyayat hati, hingga membuat Bu Laras pun menghampiri Putra bungsu nya itu dan memeluk nya dengan erat.
"Maafin Gue Nia. Gue rela membusuk di penjara ataupun mati di tangan Lo seandainya hal itu bisa membuat Lo bisa maafin Gue."
Aghnia meremas erat jemark Julian yang masing berkaitan dengan jemari nya, membuat Julian mengusap lembut punggung jemari Aghnia dengan ibu jari nya.
"Hidup dan mati itu ada di tangan Tuhan. Bukti nya Kak Rey masih bisa bernafas sampai saat ini"
Deg
Tak hanya Rey yang merasakan sesak atas ucapan Aghnia. Julian dan Bu Laras pun merasakan sesak yang sama.
Apalagi Julian, saat ini dia sangat bimbang ingin berada di pihak yang mana, Aghnia sang istri yang menjadi korban keteledoran sang adik. Atau sang adik yang menjadi tersangka atas keteledoran nya hingga membuat Aghnia harus kehilangan Ayah nya.
"Biarkan waktu yang menentukan akan seperti apa kita selanjutnya. Tapi untuk saat ini, InsyaAllah Saya ikhlas dan akan belajar untuk bisa memaafkan"
Rey semakin terisak begitu pun juga dengan Bu Laras yang kini sudah larut dalam kesedihan nya. Sementara Julian semakin mengenggeng erat jemari Aghnia.
"Semoga Tuhan segera menyembuhkan kesehatan Kak Rey, sehingga Kak Rey bisa mempertanggung jawabkan kesalahan Kak Rey"
Rey mengangguk pelan. Bu Laras semakin mengeratkan pelukan nya kepada Rey. Dan Julian pun memeluk Aghnia dengan tak kalah erat hingga membuat hati Rey semakin sesak melihat perlakuan manis yang di berikan Julian kepada Aghnia.
Ada perasaan tak rela dari Bu Laras ketika mendengar ucapan Aghnia, namun Dia pun tak bisa berbuat apa-apa, karena benar apa yang di katakan Aghnia. Rey harus mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut.
Sedangkan Julian, dia merasa sedikit lega karena Aghnia bisa mengikhlaskan musibah yang di hadapi nya dan belajar untuk memaafkan kesalahan Rey walaupun Julian yakin pasti akan berat di jalani oleh Aghnia.
Namun sebisa mungkin Julian akan mendampingi dan selalu memberikan support kepada Aghnia untuk kembali melangkah menjalani kehidupan selanjutnya nanti.
Keheningan kembali terjadi di ruang rawat Rey, hingga kehadiran dua orang pria berseragam kepolisian masuk kedalam ruangan.
"Selamat Malam"