
Tubuh Aghnia bergetar menahan tangisan. Namun tangisan nya itu terhenti ketika terdengar dua buah suara memanggil nya.
"Neng"
"Aghnia"
Aghnia mengangkat wajah nya. Seulas senyuman terukir di wajah Aghnia.
Gadis itu pun bangkit dari duduk nya lalu berlari menuju orang yang memanggil nya. Merentangkan kedua tangan nya seraya berteriak memanggil kata
"Ayah"
"Kangen Ayah"
"Ayah juga kangen sama Neng"
Sebuah kecupan di hadiahkan di kening Aghnia oleh sang Ayah membuat Aghnia semakin erat memeluk tubuh Ayah nya.
Pak Andi melerai pelukan nya. Menangkup wajah sang putri kesayangan dengan kedua belah telapak tangan nya.
"Gimana kabar nya Neng kesayangan Ayah?"
"Alhamdulillah, baik Ayah"
"Alhamdulillah, Ayah senang mendengarnya" Pak Andi berucap sambil tersenyum.
Ayah dan anak itu pun berjalan dengan saling berpegangan tangan menikmati padang bunga yang indah.
"Neng"
Aghnia kembali mendengar suara yang memanggil nama nya, namun saat ini yang terlihat hanya sang Ayah yang sedang berjalan di samping nya.
"Pulanglah"
Aghnia tertegun mendengar ucapan sang ayah.
Pak Andi menatap lurus kedepan tanpa melihat kearah Aghnia yang tengah menatap nya dengan tatapan sendu.
"Berbahagialah di sana. Ikhlaskanlah dengan begitu Ayah akan bahagia. Janganlah mendendam, karena dengan Neng mendendam maka Ayah akan sedih di sini"
Aghnia kembali memeluk Pak Andi dengan erat yang di balas oleh Pak Andi dengan memeluk Aghnia tak kalah erat.
"Pulanglah" Aghnia menggelengkan kepala nya dalam dekapan Sang Ayah yang tengah mengusap kepala nya.
"Neng mau disini aja"
"Tempat Neng bukan disini. Jadi pulanglah. Ada yang sedang menunggu Neng di sana"
Lagi-lagi Aghnia menggelengkan kepala nya.
"Neng"
Kembali terdengar suara lain yang memanggil Aghnia.
"Pulanglah" Aghnia melerai pelukan nya lalu melihat kepada Pak Andi yang tengah tersenyum kepada nya.
"Ingat pesan Ayah. Maafkan. Ikhlaskan dengan begitu Ayah akan tenang di sini"
Tangisan Aghnia kembali terdengar saat perlahan-lahan sang Ayah berjalan meninggalkan nya.
Aghnia berusaha mengejar Pak Andi, namun kaki nya seolah terdiam di tempat tak dapat melangkah.
"Ayah"
Aghnia memanggil dengan lirih bersama dengan derai air mata yang semakin deras mengalir.
Pak Andi membalikkan tubuh nya menatap sang anak kesayangan dari jarak yang masih menampakkan wajah putri kesayangan nya yang tengah menangis.
"Berbahagialah. Ayah akan menunggu Neng dan orang-orang yang Neng sayangi di sini"
Senyuman Pak Andi terukir sebelum membalikkan tubuh nya dan berjalan kembali meninggalkan Aghnia sendirian di padang bunga.
Aghnia terus memanggil Ayah nya dan menangis lirih.
Namun tangisan terhwnti ketika sebuah genggaman di tangan kanan Aghnia membuat gadis itu tersentak dan
"Aa" Aghnia berucap lirih seraya menatap orang yang tengah mengenggam tangan kanan nya yang tengah tersenyum.
Aghnia mengerjapkan kedua kelopak mata nya di iringi gumaman suara yang sejak tadi memanggil nya saat bertemu dengan Sang Ayah di padang bunga.
"Alhamdulillah" Julian langsung memeluk tubuh Aghnia menghujami banyak kecupan di pucuk kepala Aghnia dengan mengabaikan sepasang mata yang tengah melihat kearah mereka dengan terkejut.
Aghnia membalas pelukan Julian dengan memeluk Julian tak kalah erat.
"Terima kasih karena Kamu sudah bangun lagi. Maafin Aa udah gagal menjaga Neng" Aghnia terdiam kala menyadari tubuh Julian bergetar saat mengucapkan kalimat tersebut.
"Jangan seperti itu lagi ya Sayang. Aa sangat takut kehilangan Neng Sayang" Wajah Aghnia sontak memerah mendengar panggilan yang memang sesekali Julian ucapkan ketika tengah menggoda nya.
Ehm
Julian dan Aghnia tersentak ketika terdengar dehaman pada saat Julian akan mendapatkan sebuah ketchupan di bibier Aghnia hingga membuat Julian membatalkan keinginannya tersebut.
Kedua nya tertunduk malu bahkan Aghnia menyembunyikan wajah nya di balik punggung Julian ketika melihat Bu Laras tengah berdiri tak jauh dari mereka berdua.
Julian berpura-pura menggaruki belakang leher nya dan tersenyum canggung mendapati tatapan tajam Bu Laras kepada nya sambil berjalan kearah nya dan Aghnia yang tengah tertidur di bangkar ruangan IGD
"Lain kali kalau mau main sosor liat sekitar dulu atuh A" Julian meringis sesaat setelah Bu Laras mendaratkan sebuah pukulan di bahu kanan nya dengan cukup keras.
Bu Laras bahkan tanpa sungkan menggeser posisi Julian yang tengah duduk di sisi kanan bangkar Aghnia dan menjauhi nya dari Aghnia.
Bu Laras langsung memeluk tubuh Aghnia dengan erat.
"Kamu nggak apa-apa kan sayang. Bunda sangat khawatir pas Ricko bilang kalau Kamu kecelakaan"
Bu Laras mengamati Aghnia dengan seksama. Kening, siku dan dengkul Aghnia tampak di hiasi plester luka, membuat Bu Laras menghela nafas antara lega dan juga khawatir.
"Alhamdulillah Bunda, Aghnia nggak kenapa-kenapa"
Plak
Bu Laras menghadiahi Julian sebuah pukulan lagi. Kali ini lengan kanan pria itu terkena pedas nya pukulan sang Bunda.
"Aduh. Astaghfirullahalazim Bunda kenapa Abang di pukul?".
"Kenapa Abang lalai menjaga menantu Bunda sampai celaka seperti ini"
Julian menghela nafas pelan.
"Maaf Bunda. Abang lalai menjaga Aghnia"
"Bunda pegang janji Abang. Kalau sampai menantu Bunda lecet lagi, Bunda coret nama Abang dari Kartu Keluarga"
Bukan nya takut akan ancaman sang Bunda, Julian justru tertawa kecil menanggapi ancaman Bunda nya tersebut hingga membuat kening Bu Laras mengernyit heran.
"Bunda lupa, sejak Aghnia ulang tahun ke 17 dan mempunyai KTP, Abang udah keluar dari Kartu Keluarga Bunda. Bahkan Abang sudah punya Kartu Keluarga sendiri bersama Aghnia"
Bu Laras pun memutar malas kedua bola mata nya mendengar ucapan Julian.
"Jangan lupa ajukan dispensasi nikah untuk Aghnia agar pernikahan kalian sah secara hukum dan negara"
"Siap Bunda. Abang sudah mengajukan nya. InsyaAllah, minggu depan sidang istbat pernikahan nya. Doa kan lancar ya Bunda. Sehingga pas kelulusan Neng nanti, Abang bisa sekalian menggelar resepsi pernikahan sekaligus perayaan kelulusan Aghnia".
"Aamiin."
Dengan tulus Bu Laras menjawab ucapan Julian.
"Aghnia menginap di rumah sakit kah Bang?"
"InsyaAllah nggak Bunda. Hanya tunggu observasi dokter aja, untuk dapat izin pulang"
Bunda mengangguk pelan lalu menepuk punggung tangan kanan Aghnia.
"Bunda tinggal dulu ya Sayang"
Aghnia mengangguk pelan ketika Bu Laras mengusap pelan pucuk kepala nya.
"Nanti setelah dokter selesai mengobservasi Neng dan Abang mengantar nya pulang. Abang akan temani Bunda" Tutur Julian.
"Iya. Doakan yang terbaik"
"Maafin Abang ya Bunda. Abang nggak bisa menemani Bunda dulu"
Bu Laras tersenyum kecil lalu mengusap bahu kanan Julian dengan lembut.
Julian sudah mengatakan kepada Bu Laras agar tidak membahas masalah Rey di hadapan Aghnia. Karena Julian sangat takut Aghnia akan berbuat nekat lagi kalau Dia mengetahui kondisi Rey saat ini.
Bu Laras pun pergi meninggalkan Aghnia dan Julian di ruang IGD.
"Maafkan. Ikhlaskan". Aghnia kembali mendengar bisikan suara Pak Andi.
"Aa"
"Iya Neng. Ada apa?. Ada yang sakit?"
Aghnia menggelengkan kepala nya. Dalam hati nya tengah bergemuruh dan menahan sesak ketika dia mengucapkan sebuah kata yang membuat Julian menghentikan kegiatan nya.
"Ayo kita jenguk Kak Rey"