The Journey of Love

The Journey of Love
Bab 36 Rahasia Julian



Aghnia kembali tersenyum miring kecil yang seolah tengah mengejek Julian dengan apa yang diucapkan oleh pria tersebut.


"Benar Aa mau tau apa yang Neng curiga tentang Aa saat Aa di luar pengawas Neng dan saat berkumpul dengan teman-teman komunitas Aa?.


Julian mengangguk menanggapi ucapan Aghnia.


"Jordan!"


Kedua bola mata Julian membulat dengan sempurna ketika Aghnia menyebutkan nama seorang bocah berusia 4 tahun sebagai alasan cemburu nya kepada Julian.


"Kamu curiga dengan Jordan?. Ya ampun Neng yang benar saja!" Julian tertawa mendengar nama Jordan menjadi alasan Aghnia mencurigai nya bukan Aisyah atau wanita lain.


"Apa itu salah?. Apa Aku salah kalau Aku mengucapkan nama Jordan?"


Lagi-lagi Julian di buat oleh Aghnia yang mengubah panggilan nya saat berbicara.


"Jelas salah. Kenapa Jordan. Kenapa harus baca berusia 4 tahun yang Kamu curigai?. Apa selama ini hanya Aku saja yang mencintai Kamu secara sepihak?. Sehingga Kamu dengan mudah nya membawa anak berusia 4 tahun itu sebagai tersangka kecurigaan Kamu?"


Kali ini Aghnia tertawa kecil, seperti nya perdebatan ini akan terus berlanjut dan akan berlarut kalau tidak langsung mereka selesaikan. Apalagi Julian pun sudah mengganti panggilan mereka saat mereka berbincang.


"Apa selama ini Kamu merasa hanya sepihak dalam mencintai?. Jadi menurut Kamu apa yang sudah Aku lakukan selama hampir dua tahun menikah dengan Kamu hanya Kamu saja yang merasakan cinta sepihak?" Kedua nya menghela nafas pelan.


"Apalagi semenjak Ayah Jordan menceraikan Mama nya, waktu Kamu bahkan lebih banyak mendengarkan kisah Kak Joceline yang meratapi mantan suami nya yang menceraikan nya karena lebih memilih selingkuhan dibandingkan Dia?"


Julian tersentak mendengar ucapan panjang Aghnia.


Beruntung saat ini mereka berada di dalam ruang kerja Cafe mereka yang kedap suara, sehingga perdebatan yang akhir menjadi pertengkaran itu tidak terdengar keluar ruangan.


"Aa menemui Joceline juga bersama dengan Kamu Neng!" Bentak Julian.


Mendengar bentakan Julian untuk pertama kali nya membuat dada Aghnia terasa sakit dan sesak sehingga membuat nya tanpa sadar menangis pelan.


"Astaghfirullahalazim. Maaf. Aa nggak bermaksud membentak Kamu" Menyadari kalau sudah membentak Aghnia Julian pun menyesal dan bermaksud memeluk Aghnia, namun pria itu harus gigit jari karena Aghnia lebih memilih menjauh dari nya.


Julian menghela nafas pelan saat mendapat penolakan dari Aghnia yang bertepatan dengan HP nya yang berbunyi menandakan ada panggilan masuk.


Hati Aghnia semakin teriris saat melihat nama yang sedang menelepon Julian.


Melihat nama Joceline memanggil membuat Julian melihat kearah Aghnia yang menampakkan wajah sendu nya.


"Angkat lah!" Julian langsung menerima panggilan Joceline dan me loudspeaker nya.


"Jul, sekarang juga Kamu ke rumah sakit permata. Jordan demam!" Tanpa mengucapkan salam atau basa basi Joceline langsung berucap kepada Julian melalui panggilan telepon.


"Oke. Aku segera kesana!" Balas Julian yang langsung menutup panggilan telepon Joceline dan tanpa sadar hal itu semakin membuat Aghnia sakit hati.


"Aa harus ke rumah sakit, Jordan demam!" Ucap Julian kepada Aghnia.


"Kenapa harus Kamu yang di hubungi Kak Joceline?" Julian terdiam.


"Jordan sedang sakit Neng. Please Aa mohon jangan curiga apalagi cemburu dengan Joceline" Ucap Julian lirih.


"Tiap kali Jordan demam Dia selalu mencari Aa" Jawaban Julian semakin membuat dada Aghnia sesak.


"Berarti ini bukan kali pertama Kak Joceline menghubungi Kamu?. Karena saat setelah sidang putusan Kak Joceline, Jordan masuk rumah sakit dan di rawat. Apa Jordan yang Kamu jaga saat Kamu meminta izin menjaga teman Kamu yang sedang sakit saat Aku menginap mengikuti jambore mahasiswi baru?"


Julian terdiam tak menyahuti ucapan Aghnia karena apa yang di ucapkan Aghnia benar ada nya.


Dan seketika itu juga dia teringat dengan pesan Bunda nya yang juga menasihati nya untuk tidak terlalu ikut campur dengan urusan Jordan dan juga Joceline karena takut Aghnia tau dan bisa berakibat terjadi nya pertengkaran diantara mereka.


Dan akhirnya apa yang di takutkan oleh sang Bunda kini tengah terbukti.


Julian meraup kasar wajah nya saat melihat wajah Aghnia yang tampak datar menatap nya.


"Diam nya Kamu menjadi pembenaran atas apa yang Aku tanyakan!" Aghnia segera mengambil tas ransel nya dan beranjak hendak keluar dari ruangan.


"Neng, dengerin penjelasan Aa dulu!" Julian menahan Aghnia dengan menarik paksa tangan Aghnia dan mengenggam nya dengan erat sehingga berontakan yang Aghnia lakukan tak ada hasil nya.


"Aa melakukan itu semua karena kasihan dengan Jordan yang harus merasakan perpisahan kedua orang tua nya saat usia nya masih kecil."


Aghnia menghela nafas pelan lalu menatap Julian dengan tatapan tajam yang membuat Julian sedikit merinding, karena baru pertama kali nya Aghnia memberikan tatapan tersebut kepada nya.


"Awal nya kasihan. Kemudian simpati dan pada akhir nya tak bisa menolak permintaan dengan alasan tidak tega melihat seorang anak kecil sakit hati!" Julian menelan saliva nya dengan susah mendengar ucapan Aghnia dengan nada datar dan wajah dingin nya.


"Bukan begitu Neng, Aa melakukan hal itu hanya atas dasar kemanusiaan. Itu saja" Bela Julian.


"Lalu kala Jordan meminta kepada Aa untuk menjadi Papa nya dengan wajah memelas, apa Aa juga akan mengabulkan keinginan nya atas dasar kemanusiaan?"


Jleb


Julian terdiam dengan apa yang di ucapkan oleh Aghnia. Memang sejak beberapa minggu ini Jordan selalu meminta memanggilnya dengan panggilan Papa, namun Julian menolak nya dengan alasan Michael lah yang pantas di panggil Papa oleh Jordan bukan Julian.


"Jadi Jordan sudah bilang?. Jangan bilang kalau Kak Joceline hanya diam saat Jordan meminta Aa menjadi Papa nya?"


Aghnia menghela nafas pelan lalu menarik paksa tangan nya dari genggaman Julian hingga nya meringis kecil karena Julian semakin mengencangkan genggaman nya dan membuat tangan Aghnia memerah dan ada luka gores karena tanpa Julian sadari genggaman nya sudah menjadi cengkraman bahkan ujung kuku nya yang pendek menancap di pergelangan tangan nya.


"Ststs. Sakit!" Pada akhir nya Aghnia pun merintih, membuat Julian mengalihkan pandangan nya kearah tangan Aghnia.


"Maaf Sayang, Aa nggak bermaksud menyakiti Kamu!" Julian menyesali perbuatan konyol nya hingga menyakiti Aghnia secara fisik dan seperti nya kini Julian baru menyadari kalau pertemuan diam-diam nya dengan Jordan dan Joceline tanpa sepengetahuan Aghnia sudah menyakiti nya secara bathin.


Tepisan tangan Aghnia saat Julian mengusapi lembut bekas luka yang diberikan nya itu membuat Julian semakin merasa bersalah kepada Aghnia.


Dia saja yang sangat di mengetahui istri bisa menjaga diri dengan menjauhi lawan jenis nya begitu cemburu saat mendengar ucapan Rey yang mengatakan kalau banyak pria yang mengejar Aghnia.


Apalagi Aghnia yang kalau mengetahui suami nya diam-diam bertemu dengan wanita lain walaupun itu sahabat nya sendiri, dan kini anak sahabat nya itu sesekali memanggil nya Papa, pasti isti nya akan sakit hati.


Apalagi sifat Aghnia yang pendiam dan lebih senang menyimpan dan menutupi perasaan tanpa harus menunjukkan perasaan nya membuat Julian semakin di liputi rasa bersalah uang sangat besar.


Aghnia dan Julian kembali menghela nafas pelan ketika HP Julian kembali berbunyi dan nama Joceline kembali terpampang nyata di layar HP.


"Pergilah. Atas dasar kemanusiaan, kabulkanlah apa yang di inginkan oleh anak itu!"