The Journey of Love

The Journey of Love
Bab 14 Saling Menatap



Gadis itu mematikan kompor lalu membalikkan tubuh nya tanpa melepaskan lilitan tangan Julian di pinggang nya.


Saling berhadapan dan saling menatap, Aghnia dapat melihat pancaran ketulusan di kedua bola mata Julian pria yang usianya 11 tahun lebih tua dari nya itu.


Aghnia baru menyadari kalau tatapan lembut itu sangat Aghnia rindukan sejak dia berusia 5 tahun. Tatapan yang tak pernah Dia temukan lagi sejak Ayah nya membawa nya hijrah ke kota dan tinggal di rumah ini.


Aghnia mengikuti naluri nya dengan melingkarkan kedua tangan nya di leher Julian menurunkan pelan leher pria yang berselisih tinggi 15 centi dengan nya itu dan kemudian menyatukan bi*** nya dengan bi*** Julian membuat Julian pun terkejut namun tak menolak bahkan kini Julian merapatkan tubuh Aghnia ke tubuh nya.


Kedua nya mengikuti naluri mereka untuk pertama kali nya. Aghnia yang masih di bawah umur, dan Julian yang menjaga hati nya demi gadis kecil masih terlihat kikuk ketika mereka sama-sama belajar berci**** untuk pertama kali nya hingga akhir nya terlepas karena sama-sama kekurangan nafas.


Kembali saling menatap dengan saling mendamba. Julian memeluk tubuh Aghnia dengan erat dan Aghnia pun membalas pelukan itu dengan merebahkan kepala nya di dada Julian.


"Jangan pernah kabur lagi dari Aa" Ucap Julian lirih. Dia sangat takut kehilangan Aghnia, apalagi ketika mendengar cerita Ricko dan Miko yang terang-terangan sudah melamar Aghnia tadi.


"Neng nggak kabur. Neng udah pamit kok sama Bunda mau ziarah. Terus di telpon Meta buat kerumah nya karena Mama Tata kangen sama Neng" Tutur Aghnia membela diri.


"Maafin Aa. Tadi udah ngomong bohong tentang Aisyah" Aghnia diam tak menyahuti ucapan Julian.


Hanya pergerakan Aghnia yang sudah mulai melepaskan pelukan nya di pinggang Julian namun Julian segara menahan tubuh Aghnia ketika gadis nya itu hendak melepaskan diri dari pelukan nya.


"Aa cuma mau ngetes Neng doang. Sumpah Bunda sama sekali nggak kenal dengan keluarga Aisyah. Tapi memang Aisyah suka berkunjung menemui Bunda" Julian sengaja mengatakan kejujuran mengenai Aisyah dibandingkan Aghnia harus mendengar nya dari orang lain.


"Aa udah bilang ke Bunda kalau Aa nggak punya perasaan apa pun sama Aisyah. Karena jujur saja. Aa sudah menetapkan hati kepada gadis lain" Aghnia terdiam tak lagi berontak, sedangkan Julian masih menggantungkan ucapan nya membuat Aghnia pun bertanya-tanya.


"Walapun ketemuan cuma setiap liburan dan cuma 2 tahun. Tapi Aa sudah menetapkan hati Aa cuma buat gadis kecil yang suka leho an dan malak minta es krim kalau habis di omelin Ayahnya" Aghnia mencubit gemas pinggang Julian yang di balas kekehan kecil oleh Julian.


"Gadis kecil yang selalu minta di gendong dan nempel sama Aa kalau udah ketemuan. Gadis kecil yang sudah Aa minta sejak kecil sama Ayah nya sampai di katain pedofil sama orang-orang "Julian melanjutkan ucapan nya yang justru kalimat terakhirnya di tertawai oleh Aghnia.


"Ya salah Aa sendiri tertarik kok sama anak kecil yang masih leho an bukan yang seumuran" Aghnia berucap dengan nada merajuk.


"Nah itu dia. Leho Neng lah yang udah menarik Aa hingga mentok sampai bisa nengok ke yang lain cuma ke Neng seorang" Gombal Julian yang lalu tertawa, membuat Aghnia pun mengerucutkan bi**r nya seraya mencubiti kecil pinggang Julian kanan dan kiri.


"Udah makan dulu sana. Tadi kata nya lapar belum makan malam" Ucap Aghnia melerai pelukan nya kepada Julian dan menepuk lengan Julian agar segara melepaskan pelukan nya.


Julian melepaskan pelukan nya dan mengajak Aghnia untuk menemani nya makan malam.


"Besok Kamu libur kan?"


Aghnia menganggukan kepalanya. Sejak tadi gadis itu menopang dagu nya dengan menggunakan kedua tangan nya seraya melihat Julian menikmati makan malam yang di buatkan nya.


"Mau pulang ke rumah Bunda atau kita menginap di sini?"


Aghnia tampak terkejut dengan ucapan Julian.


"Aa nggak nungguin Kak Rey di Rumah Sakit?"


"Malam ini Ricko yang ingin menjaga Rey"


Aghnia meremas ujung kaos yang tengah si pakai nya. Kalau pulang kerumah Bunda, Aghnia merasa kasihan kepada Julian yang tampak lelah selama setengah hari ini mencari nya


Sedangkan kalau menginap di sini. Apakah Dia dan Julian akan tidur sekamar atau bahkan seranjang.


Aghnia menggeleng-gelengkan kepalanya guna menghempaskan pikiran nya perihal kalau Dia dan Julian berada dalam satu kamar.


"Jadi pulang atau menginap?"


Aghnia tersentak mendengar pertanyaan Julian, namun hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Julian.


"Kalau pulang, nanti kita pesan mobil online saja. Jujur badan Aa lelah dan ingin istirahat" Ujar Julian sambil merenggangkan kepala nya kiri dan kanan.


Aghnia bahkan sampai meringis ketika terdengar suara gemeretak tulang yang Julian renggangkan tersebut dan membuat Aghnia merasa sangat bersalah telah membuat Julian sibuk bahkan melewatkan makan malam dan istirahat nya hanya untuk mencari keberadaan selama setengah hari ini.


"Kalau menginap, Aa akan tidur di kamar Ayah. Dan Kamu tidur di kamar Kamu".


Aghnia kembali di rundung rasa bersalah karena seperti Julian mengetahui kalau Aghnia belum siap untuk satu kamar atau mungkin satu ranjang dengan Julian.


"Sudah malam. Sebaiknya Neng tidur lebih dulu, biar nanti Aa saja yang mencuci piring nya"


Julian pun bergegas merapikan piring bekas makan nya dan membawa nya ke wastafel untuk di cuci.


Namun Aghnia bergerak lebih cepat. Gadis itu segera mencuci piring pada saat Julian akan merapikkan lengan kemeja panjang nya agar tidak terkena air saat mencuci piring.


"Biar Neng aja yang cuci. Aa saja yang istirahat"


Julian pun akhir nya hanya bisa pasrah dan kembali mendudukkan tubuh nya di kursi makan sambil menunggu Aghnia mencuci piring.


"Istirahat lah."


Aghnia menganggukan kepala nya saat Julian mengusap lembut kepala nya sebelum memasuki kamar Ayah Aghnia.


Aghnia menghela nafas pelan lalu memasuki kamar nya dengan memendam banyak pikiran tentang Julian yang terlihat biasa saja dan bahkan perlakuan nya tadi persis seperti perlakukan kakak dan adik.


Bukan nya merebahkan diri di kasur Aghnia justru memilih berdiri di depan cermin lemari seraya memperhatikan diri nya sendiri.


Helaan nafas kecewa menguar dari diri nya sendiri kala melihat penampilan nya saat ini yang masih menggunakan kacamata tebal di wajah nya.


"Apa karena penampilan Aku yang jelek ya jadi Aa biasa-biasa aja melihat Aku?. Tapi tadi _"


Senyum Aghnia terukir ketika mengingat hal panas yang tadi dilakukan nya dengan Julian, namun senyuman itu berangsur surut ketika menyadari kalau yang pertama memulai itu adalah diri nya sendiri.