
"Aa" Aghnia memanggil Julian dengan nada lembut.
"Iya sayang" Julian membalas panggilan Aghnia dengan senyuman.
"Mari kita berpisah"
Senyum Julian seketika itu juga langsung luntur setelah Aghnia menyelesaikan ucapan nya.
Senyuman dan tatapan lembut Aghnia saat meminta berpisah dari nya membuat Julian pun langsung lemas.
Pria itu tak menyangka kalau Aghnia akan meminta perpisahan bukan memaafkan nya. Apalagi melihat tatapan Aghnia yang tampak yakin dengan apa yang di pinta nya membuat Julian semakin sesak.
"Nggak!" Ucap Julian tegas.
"Sampai kapan pun Aa tidak akan mengabulkan keinginan Kamu itu!" Ujar Julian menurunkan nada bicara nya, karena takut Aghnia akan semakin ngotot meminta berpisah dari nya jikalau Dia berbicara dengan nada tinggi.
"Aa sudah mengaku salah. Aa pun sudah meminta maaf. Bahkan Aa sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Jadi Aa minta kepada Kamu jangan meminta perpisahan" Tutur Julian menangkup kedua telapak tangan Aghnia dengan kedua telapak tangan nya.
"Please Sayang, jangan pernah meminta berpisah atau pergi jauh dari Aa. Kamu adalah hal terbaik yang Allah berikan kepada Aa sejak dulu, sekarang nanti dan Aa harap hingga akhirat nanti" Pinta Julian lirih, bahkan tanpa sungkan pria itu mengecupi tangan Aghnia yang berada di genggamnya.
Aghnia terdiam, menatap kepada Julian guna mencari keseriusan dalam ucapan nya. Aghnia menarik tangan nya dari genggaman tangan Julian, saat ingatan nya kembali ke beberapa bulan yang silam saat Dia melihat sendiri suami nya tengah makan siang dengan Jordan dan juga Joceline di sebuah restoran yang berada di dalam arena permainan indoor.
Jordan dengan sengaja menyatukan tangan Julian dan Joceline seraya memanggil Mama dan Papa. Walaupun Julian segera menarik tangan nya dari Joceline, Aghnia merasa sangat kecewa karena Julian hanya mengangguki ucapan Jordan yang memanggil nya Papa.
Melihat Joceline yang hanya diam membuat Aghnia meyakini kalau Joceline sesungguhnya memiliki rasa terhadap Julian, terlebih setelah Joceline menjadi janda dan sering nya Joceline memakai Jordan sebagai alasan untuk bertemu dengan Julian walaupun sekedar menjadi teman curhat wanita tersebut.
Dan sayang nya hal itu tak pernah Julian sampaikan kepada Aghnia, hingga Aghnia melihat sendiri pertemuan mereka. Namun Aghnia justru memilih diam dengan tak menghampiri Julian saat itu dan juga menanyakan Julian hingga akhirnya Dia kembali mengalami depresi seperti saat ini karena menyimpan sendiri.
Pernyataan usil Rey tadi pun menjadi salah satu pemicu depresi Aghnia kembali datang, dan membuat Aghnia pun akhir nya harus kembali mengalami lonjakan mental yang selama ini di tutupi nya.
"Neng, Sayang" Julian kembali memanggil Aghnia dengan sangat lembut membuat Aghnia tiba-tiba saja menangis.
"Maaf. Aku bukanlah wanita yang sempurna, yang layak untuk Aa. Jadi kalau Aa mau meninggalkan Aku setelah tahu keadaan Aku yang tidak sehat secara mental, InsyaAllah Aku siap!" Julian kembali terkejut mendengar ucapan Aghnia.
Julian yang hendak menyanggah ucapan Aghnia itu hanya bisa terdiam ketika Dokter Adelia memberikan isyarat kepada Julian untuk menjadi pendengar segala keluh kesah Aghnia. Karena saat ini hanya itulah yang bisa dilakukan oleh Aghnia untuk mencurahkan segala isi hati nya.
"Maaf, mungkin bagi Aa, Aku adalah wanita yang egois karena ingin selalu mengetahui apa saja yang Aa lakukan saat jauh dariku. Mungkin Aa semakin lama akan semakin bosan dengan sikap juga sifat Aku yang terkadang masih labil dan masih jauh dari kata dewasa seperti wanita diluaran sana. Tapi _"
Aghnia menjeda ucapan disertai tangisan kecil nya guna menghela nafas panjang untuk meredakan rasa sesak di dada nya.
Julian menundukkan kepala nya dalam-dalam. Mengakui kesalahan karena ketidakjujurannya yang tidak pernah memberitahu Aghnia pertemuan nya dengan Jordan juga Joceline, sehingga kini Dia harus membuat dan mengetahui keadaan istri nya yang ternyata tidak baik-baik saja.
Julian mengenggam dengan erat kedua tangan Aghnia, seraya mengusap lembut punggung tangan Aghnia yang masih sesunggukan menangis.
"Sayang" Julian kembali memanggil Aghnia dengan sangat lembut, melepas genggaman tangan nya guna menangkup wajah Aghnia dan mengarahkan wajah cantik nya agar bisa dipandang nya.
"Maafkan Aa." Pinta Julian lembut.
"Aa yang salah. Neng tidak salah. Maafkan Aa yang tidak jujur kepada Neng. Sungguh tak ada niat dari Aa untuk mengkhianati Neng".
"Maafkan sikap Aa yang tidak bisa tegas terhadap Jordan. Maafkan Aa yang diam-diam bertemu dengan Jordan tanpa meminta izin kepada Neng. Maafkan Aa yang selama ini tidak pernah peka dengan apa yang terjadi kepada Neng". Julian menatap penuh cinta kepada Aghnia dan tanpa sadar pria itu menangis penuh penyesalan.
"Maafkan Aa yang selama ini tidak bisa menjadi suami yang baik buat Neng. Maafkan Aa karena sudah gagal dalam menjaga Neng, sehingga Neng harus seperti ini. Bahkan Aa pun tidak mengetahui kalau selama ini Neng tertekan" Tangis Julian seraya berucap.
"Maafkan Aa Neng. Tolong Maafkan Aa" Pinta Julian dengan tulus.
Aghnia menangkup wajah Julian dengan kedua telapak tangan nya. Dengan lembut Dia mengusap kedua sisi wajah Julian yang berderai air mata.
"Aa nggak boleh nangis" Pinta Aghnia yang justru membuat tangisan Julian terdengar sangat lirih.
"Sayang. Maafkan Aa" Pinta Julian yang masih tak ditanggapi oleh Julian.
Wanita cantik itu lebih memilih menurunkan kedua telapak tangan nya dari wajah Julian, dengan senyuman kecil penuh luka wanita muda menatap wajah sang suami.
"Maaf. Bisa berikan Aku waktu untuk berpikir?"
Ucapan Aghnia membuat dada Julian terasa sesak. Sesakit itukah perasaan Aghnia karena ketidakjujurannya selama ini, sehingga Aghnia lebih memilih meminta nya memberikan waktu bukan maaf.
"Neng" Aghnia menolak saat Julian akan memeluk nya, membuat rasa bersalah Julian kepada Aghnia pun semakin besar.
"Tante, bolehkan kalau Nia tinggal di sini dulu untuk beberapa hari?" Permintaan Aghnia kepada Dokter Adelia membuat Julian semakin merasa menjadi seorang suami yang tak layak untuk Aghnia, karena disaat Aghnia membutuhkan seorang yang bisa mendampingi nya di saat mental nya sedang down bukan Dia yang di butuhkan oleh istri nya.
Kelalaian dan rahasia nya kini menjadi boomerang bagi keluarga kecil nya. Niat baik nya ingin menolong anak sahabat nya dan menjadi tempat keluh kesah sahabat nya justru kini menjadi hal terburuk dalam rumah tangga nya.
Tak ada lagi sorot mata penuh cinta di mata Aghnia dari yang Julian tangkap. Hanya ada rasa kekecewaan dan ketidakpercayaan di dalam sorot mata Aghnia saat menatap nya membuat Julian pun semakin sedih dan menyesali segala kebodohannya.