
Selepas jam makan siang berakhir, sedikit demi sedikit pengunjung Cafe mulai berangsur berkurang. Hanya menyisakan beberapa remaja seusia Meta yang masih menempati beberapa meja di dalam Cafe.
Meta mendudukkan tubuh lelah nya yang telah membantu dadakan Cafe itu di sebuah bangku putar yang berada di depan meja bar.
Meta memutar mutar kursi yang di duduki hingga membuat tubuh nya ikut berputar sambil bersenandung lagu rohani milik Maher Zein, hingga gadis manis itu tidak menyadari kalau Rey tengah berada di area dalam meja bar membuat sebuah sajian minuman.
"Nih minum dulu Lo cape kan?" Meta menghentikan memutar kursi yang di duduki nya.
Kedua bola mata Meta kembali mengerjap berkali-kali mendapati sebuah gelas berisikan boba gula aren lengkap dengan smooth ice cream yang menjadi menu favorit nya ketika mengunjungi Cafe Julian itu sudah berada di hadapan nya.
Kedua bola mata nya kini beralih kepada sang pembuat menu yang kini tengah berdiri di hadapan nya dan hanya di batasi oleh meja bar, yang tengah melihat kearah nya, membuat kedua nya saling bertatapan.
"Kenapa?"
Kedua terdiam karena mengajukan pertanyaan yang sama secara bersamaan.
"Lo nggak lagi mau ngeracunin Gue kan Kak?"
Pertanyaan Meta sontak saja membuat kedua bola mata Rey membulat dan kemudian menatap tajam kearah Meta yang kini menatapnya penuh dengan kecurigaan.
Pletak
"Aduh. Wah ngajak ribut Lo Kak!" Protes Meta menggebrak pelan meja bar setelah Rey menyentil ujung topi Rey yang masih dikenakan oleh Meta.
"Jadi orang suudzon aja Lo. Niat Gue baik, ngasih makan sama musafir kaya Lo!"
Plak
"Aduh!" Kali ini Rey yang mengaduh karena dengan sengaja Meta menepak lengan kiri nya yang tengah membersihkan meja bar dengan menggunakan nota buku nota pesanan yang lumayan tebal.
"Sembarangan ngatain Gue musafir. Kalau Gue musafir Lo apaan?. Benalu?" Ujar Meta yang langsung membuat Rey melayangkan telapak tangan kanan nya mengusap wajah Meta dengan gemas.
"Astaghfirullahalazim. Tangan Lo bau banget Kak. Abis megang apaan sih!" Protes Meta lalu mengusapi wajah nya dengan menggunakan tisue yang berada di meja bar.
"Maka nya punya otak jangan suka punya pikiran jelek sama orang, dan punya mulut tuh kalau ngomong jangan suka asal!" Meta mencembikkan bibir nya kearah Rey lalu mulai menikmati sajian yang di buatkan Rey tadi kepada nya.
Rey pun akhir nya berjalan meninggalkan area dalam meja bar ketika melihat Aghnia sedang berjalan menghampiri Meta.
"Enak Met?" Meta menganggukan kepala nya menikmati menu favorit nya yang entah mengapa terasa lebih nikmat hari ini.
Gadis itu tampak asyik menikmati minuman nya hingga tak menyadari kedatangan Aghnia yang sudah duduk di samping nya dan bertanya kepada nya karena melihat Meta yang tampak begitu menikmati minuman tersebut.
"Emang kalau makanan atau minuman yang di buat dengan hati dan penuh kasih sayang dari orang tersayang itu terasa lebih nikmat" Meta kembali menggangguk menanggapi ucapan dari Aghnia di samping nya.
Hingga beberapa detik kemudian gadis itu mulai sadar akan ucapan Aghnia, lalu menatap tajam Aghnia yang tengah tertawa kecil menggoda nya setelah menyadari kebodohan nya menangguki ucapan Aghnia.
Aghnia tertawa kecil menanggapi ucapan Meta. Apalagi dengan panggilan baru nya yang memang di khususkan untuk Aghnia sekarang.
"Hidih, itu bukti nya di bikin spesial lho sama Rey" Aghnia kembali menggoda Meta hingga membuat gadis itu pun mendengus kesal, namun masih tetap menyantap sajian buatan Rey.
Sejak Rey pulang dari Rumah Sakit Aghnia memang di minta oleh Bu Laras dan juga Julian untuk tidak memanggil Rey dengan sebutan Kak lagi. Justru Rey yang kini memanggil Aghnia dengan panggilan Teh Nia atas permintaan Bu Laras.
Karena menurut silsilah keluarga, status Aghnia sebagai istri Julian sama dengan Julian, karena itulah Rey bersedia memanggil Aghnia dengan panggilan Teh Nia sebagai bentuk menghormati Aghnia.
"Nggak ada yang spesial kali Bu Bos. Liat tuh dia juga lagi masak buat pesanan tamu" Ujar Meta seraya menunjuk kearah Rey yang sedang berada di dapur dengan menggunakan dagu nya.
"Kalau buat tamu mah udah biasa kali Rey buat nya. Tapi kalau buat Kamu kan itu sangat sangat sangat luar biasa, secara kalian itu ibarat Tom And Jerry" Tutur Aghnia membuat Meta memutar malas kedua bola mata nya.
"Hilih. Bilang aja mau jodohin Gue sama Kak Rey" Tawa Aghnia pecah mendengar ucapan percaya diri nya Meta.
Rey yang ternyata kembali ke area dalam meja bar itu pun mendengar apa yang di ucapkan Meta membuat pria itu dengan kesal menurunkan ujung topi nya yang masih di kenakan Meta hingga membuat sebagian wajah gadis itu tertutup topi.
"Kak Rey apaan sih!" Meta merapikan kembali topi yang di kenakan nya lalu melihat Rey dengan kesal.
"Apa?" Sunggut Rey tak mau kalah.
"Hadeuh mulai lagi deh!" Gerutu Aghnia kesal sambil memijat kening nya melihat sepasang makhluk itu kembali mulai adu argumen.
"Kalian ini sebenarnya mau PDKT apa tawuran sih!" Sentak Aghnia kesal membuat Meta dan Rey spontan menghentikan adu argumen.
"Rey. Kalau suka tuh bilang nggak usah pura-pura cari ribut cuma buat cari perhatian!" Rey melongo melihat pada Aghnia karena dengan lantang nya kakak ipar nya itu mengatakan hal bahkan tak pernah ada di pikiran nya. Ya setidaknya untuk saat ini.
"Kamu juga Meta. Kenapa cuma sama Rey aja Kamu bisa adu mulut dengan lancar. Kalau nggak ada rasa nyaman beradu argumen!" Meta melihat tak percaya kepada Aghnia.
Bisa-bisa nya mantan gadis itu mengatakan nyaman kalau acara adu mulut nya dengan Rey. Bayangkan mana ada orang adu mulut itu nyaman. Ya hanya Aghnia saja lah yang mempunyai pikiran seperti itu.
Meta dan Rey sama-sama memutar malas kedua bola mata mereka mendengar celotehan tak masuk akal Aghnia.
"Mana ada orang adu mulut nyaman dan mencari perhatian Binor. Orang tuh adu mulut karena kesal bukan cari perhatian apalagi nyaman" Ujar Meta dan di akhiri dengusan kesal.
"Jujur deh Aku seneng banget kalau ngeliat kalian adu mulut. Seru banget, ada aja yang jadi bahan debatan dan nyambung pula. Kalian berdua tuh kaya nya sehati sejiwa kalau soulmate gitu kalau lagi berantem" Rey dan Meta kembali melongo tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Aghnia.
"Waduh. Oleng tuh Kak Rey, Kakak Ipar Lo. Kayanya harus di USG otak nya, kali aja di otak nya ada Fetus yang nyangkut!"
Rey menggelengkan kepala nya tak percaya mendengar ucapan Meta yang sama absurd nya dengan Sang Kakak ipar.
"Kalian memang sahabat sejati. Sama-sama out of the box kalau ngomong" Ucapan Rey justru menjadi bahan tawa Aghnia dan Meta.