
"Lagian kenapa Kak Rey berdiri di depan Clara, udah tau Dia mau nyerang!" Rey menghela nafas pelan mendengar ucapan Meta yang ternyata belum sadar menjadi target Clara.
"Iseng aja!" Ujar Rey. "Sakit Meta. Bisa pelan nggak sih ngobatin nya!"
Bentakan Rey membuat kedua bola mata Meta membulat dan langsung menatap tajam Rey yang kesakitan karena Meta sengaja menekan luka di kepala Rey dengan kapas dan sedikit kencang.
"Udah di obatin bukan nya ngucapin makasih malah ngebentak!" Rey mendengus kesal lalu menepis tangan Meta yang hendak kembali mengobati kepala Rey.
"Nggak usah!" Rey pun segera keluar dari ruang UKS dengan perasaan dongkol kepada Meta.
"Idih, di tolongin malah begitu balasannya!. Tau gitu nggak usah Gue tolongin Lo Kak!" Teriak Meta di akhir kalimat nya karena Rey yang meninggalkan nya sendirian di ruang UKS.
Meta pun segera merapikan peralatan yang tadi di pakai nya untuk mengobati Rey kembali ketempat semula, dan bergegas keluar dari ruang UKS guna kembali ke kelas nya untuk pamit pulang karena kedua orang tua nya ternyata sudah menunggu nya di Cafe milik Julian yang berada di dekat sekolah nya.
"Gila tuh si Clara. Untung ada Rey yang langsung ngehadang si Clara yang mau nyerang Meta. Kalau nggak Gue yakin sanggulan Meta bakal copot"
Meta menghentikan langkah nya ketika mendengar perbincangan beberapa siswa mengenai insiden yang menimpa Rey.
"Nggak nyangka Gue kalau Rey bakal jadi tameng nya Meta dari amukan Clara"
Kedua bola mata Meta membulat dengan sempurna ketika mendengar ucapan tersebut. Gadis itu memilih tetap bertahan dan diam guna mendengarkan perbincangan itu.
"Iya Gue pikir Rey bakal diem aja, waktu si Clara mau nyerang Meta. Eh nggak tau nya Rey langsung lari ke belakang Meta pas liat Si Clara mau nyerang Meta"
"Padahal biasanya Mereka itu adu mulut tiap ketemu hahahaha"
Meta kembali terkejut kala mengingat posisi Rey saat insiden itu terjadi. Seingat nya ketika meninggalkan Clara, Meta memang tidak melihat kehadiran Rey di sekitar nya.
"Jadi, yang harus nya di serang Clara itu Gue?. Dan Kak Rey justru nyelametin Gue dari Clara?" Bisik Meta dalam hati.
Tiba-tiba saja jantung nya berdetak dengan kencang ketika mengingat kejadian saat Clara menjenggut rambut Rey.
Wajah nya terasa panas ketika mengingat tangan Rey yang sempat melingkar di pinggang nya. Gadis itu kembali baru menyadari kalau yang Rey lakukan tadi adalah untuk melindungi nya dari amukan Clara.
"Astaghfirullahalazim, harus nya Gue berterima kasih sama Kak rey bukan malah ngebentak dia!" Gumam Meta yang baru menyadari kekeliruan nya. Gadis itu bahkan sampai menjitaki kening nya berkali-kali guna menyesali kebodohan nya kepada Rey.
Tak ingin membuat hati nya merasa semakin. bersalah kepada Rey, Meta memilih kembali melanjutkan langkahnya.
Kali ini tujuan gadis itu adalah mencari keberadaan Rey bukan kembali ke kelas nya untuk berpamitan kepada teman sekelas nya.
Meta berjalan menyusuri lorong menuju parkiran guna mencari keberadaan Rey, setelah sebelum nya ke kelas Rey dan tak menemukan keberadaan Rey di sana.
Bahkan Ricko sang sahabat Rey pun tak melihat keberadaan Rey setelah pergi bersama Meta ke ruang UKS. Ricko justru balik bertanya kepada Meta tentang keberadaan Rey, setelah sebelum nya Rey berjanji akan pergi bersama Ricko ke Cafe milik Julian guna merayakan kelulusan mereka.
Gadis manis itu kembali menepuk pelan kening nya ketika mengingat kalau Rey tak mungkin berada di parkiran karena tadi Rey berangkat bersama dengan Julian, Aghnia juga Bu Laras.
"Apa udah di Cafe ya?" Gumam Meta, lalu bergegas keluar menuju gerbang sekolah.
Dengan sedikit mengangkat kain rok jarik nya, Meta mempercepat langkahnya menuju pintu gerbang. Tampak beberapa murid yang selesai di wisuda mulai beranjak pergi bersama keluarga mereka meninggalkan sekolah.
Meta mengulas senyuman ketika melihat keberadaan Rey yang tengah duduk bersama Pak Bahar di pos satpam.
Gadis itu mempercepat laju langkah nya ketika melihat salah seorang karyawan Cafe Julian berhenti di depan pos satpam dengan mengendarai motor sport yang biasa Rey bawa, dan kemudian karyawan itu naik ke bagian belakang motor matic yang di bawa salah seorang karyawan Julian lain nya.
Rey bergegas menaiki motor sport nya, setelah menerima kunci motor yang di serahkan anak buah Julian. Melihat Rey sudah pamit kepada Pak Bahar membuat Meta semakin mempercepat laju langkah nya dengan sedikit berlari bahkan rok kain jarik nya sudah naik hingga sebatas betis.
Untung nya Mama Tata tadi sudah mengingatkan Meta untuk menggunakan celana leging panjang sebagai dalaman rok jarik nya sehingga gadis itu bisa bergerak lebih leluasa untuk menghampiri Rey yang sudah menyalakan motor sport nya.
"Kak Rey tunggu!" Meta berteriak ketika Rey baru mulai akan melajukan motor sport nya.
Rey membatalkan melajukan motor nya, kening nya mengernyit kala melihat Meta yang setengah berlari menghampiri nya dengan nafas terengah-engah.
Meta mengatur nafas nya ketika tiba di samping Rey yang masih duduk di atas motor sport nya dengan mesin motor yang masih menyala. Gadis itu menundukkan sedikit tubuh nya guna meredam kelelahan nya.
Setelah nafas nya mulai teratur, Meta merubah posisi nya dengan berdiri. Wajah nya dan wajah Rey sejajar karena Rey masih setia duduk di atas motor sport nya.
"Makasih dan maaf" Kening Rey kembali mengernyit mendengar ucapan Meta.
Melihat reaksi dan tak ada tanggapan apapun dari Rey dengan apa yang sudah di ucapkan membuat gadis itu pun berdecak pelan.
"Makasih udah jadi tameng dari Clara. Dan maaf karena Gue udah ngebantak Kak Rey tadi" Ucap Meta menjelaskan maksud ucapan nya tadi.
Rey hanya mengangguk pelan seolah enggan menanggapi lebih lanjut ucapan Meta, membuat gadis itu berdecak kesal.
"Kak Rey marah?" Ujar Meta kesal yang lagi-lagi tak mendapat tanggapan dari Rey. Gadis itu pun akhirnya mendengus kesal karena Rey masih saja diam tak menanggapi ucapan nya.
"Ya udah. Yang penting Gue udah minta maaf juga bilang makasih sama Lom Terserah Lo mau terima apa nggak tuh ucapan makasih sama maaf Gue!" Ucap Meta dengan dongkol yang justru membuat Rey kebingungan.
Pasal nya Rey dengan sengaja tak menanggapi ucapan Meta dengan harapan gadis itu akan mengucapkan terima kasih juga maaf nya dengan ucapan yang lebih lembut, namun ternyata apa yang Rey harapkan jauh dari apa yang di inginkan nya.
Gadis manis itu kini terlihat tengah memasang wajah jutek nya lagi kepada Rey, membuat Rey hanya bisa menghela nafas pelan, karena seperti nya gadis nya itu tidak menyadari kalau Rey mempunyai rasa yang berbeda kepada Meta. Bahkan rasa nya kepada Meta itu lebih dalam di bandingkan perasaan dulu kepada Aghnia.
Meta pun segera membalikkan tubuh nya guna berjalan menjauhi Rey, namun langkah nya terpaksa terhenti ketika .....