The Journey of Love

The Journey of Love
Bab 11 Mencoba Menerima



Julian tengah membereskan beberapa berkas setelah memesankan beberapa menu makan siang untuk nya dan juga Aghnia yang turut membantu Julian menyusun beberapa faktur pembelajaan keperluan Cafe.


"Kalau Neng mau, sepulang sekolah Neng bisa bantu-bantu Aa mengurus pembukuan Cafe" Ujar Julian.


"Emang boleh?. Apa nanti nggak ngerepotin Aa juga karyawan yang lain nya?. Aghnia balik bertanya.


"Enggak. Justru Aa senang kalau Neng di sini. Supaya Aa jadi tambah semangat kerja nya karena ada Neng yang selalu menemani Aa" Jawaban Julian membuat aghnia menundukkan kepala nya menahan malu dan semburat merona kedua pipi nya.


Perbincangan mereka terhenti ketika Julian menerima panggilan telepon dari Joseph yang tengah menemani Aisyah.


"Iya Jo?"


"Oya?. Bagus dong kalau begitu".


"Abang doakan supaya kalian berjodoh. Aamiin" Tawa Julian di akhir perbincangan nya dengan Joseph.


Aghnia menatap Julian yang tertawa lepas hingga membuat debaran jantung nya berdetak dengan cepat.


Gadis itu berpura-pura merapikan rambut nya ke belakang telinga dan kembali melanjutkan pekerjaan guna menutupi kegugupannya setelah Julian memergoki nya tengah memandang Julian diam-diam.


Julian mengulum senyumnya melihat tingkah Aghnia yang malu-malu seperti itu. Membuat Julian pun ingin mengerjai gadis kecil nya itu sekaligus menguji apakah gadis itu akan cemburu kalau dia berpura-pura menceritakan kedekatan nya dengan Aisyah.


Ehm


Aghnia terkejut ketika tiba-tiba mendengar Julian berdeham dan ternyata sudah duduk di samping nya dengan sangat dekat.


"Astaghfirullahalazim. Ya ampun Aa mah ngagetin aja" Aghni pun mengajukan protes kepada Julian.


"Neng nya aja yang terlalu fokus sampai nggak sadar kalau Aa udah ada di dekat Neng" Alasan Julian yang didiami oleh Aghnia karena gadis itu memilih melanjutkan kembali kegiatan nya guna menutupi kegugupan nya berdekatan dengan Julian.


Kegiatan Aghnia dan Julian terhenti ketika salah seorang karyawan Julian mengantarkan makan siang yang Julian pesan tadi.


Kedua menikmati makan siang mereka dengan saling terdiam. Julian sendiri lebih memilih menunggu Aghnia yang memulai perbincangan karena seperti nya sebelum makan siang tadi, wajah Aghnia terlihat ingin membicarakan sesuatu kepada Julian.


Selepas Isoma pasangan itu pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka dengan duduk berdampingan di lantai, karena Aghnia lebih nyaman duduk di lantai dibandingkan duduk di sofa.


Kata nya kalau di lantai duduk nya bisa ngeglosor, lebih santai dan nggak bikin legal badan karena bebas bergerak.


Sesekali Aghnia melirik kearah Julian yang tengah berkutat dengan laptop nya. Pria itu ternyata memiliki bisnis lain di bidang trading dan kini tengah memantau harga saham yang di miliki nya.


Merasa Aghnia diam-diam memperhatikan nya, Julian pun menghentikan kegiatan nya menatap layar laptop dan beralih mengalihkan pandangan kearah Aghnia yang tengah berpura-pura sibuk merapikan faktur.


Hingga akhir nya Julian berhasil menangkap basah Aghnia yang diam-diam memperhatikan nya, hingga membuat Aghnia pun akhir nya kebingungan sendiri karena ketahuan oleh Julian memperhatikan suami nya itu secara diam-diam.


"Kenapa?" Aghnia melihat kepada Julian dengan gugup.


Aghnia bahkan terdiam dan terpesona oleh penampilan Julian saat ini yang tengah menggunakan kacamata baca nya dan membuat pesona seorang Julian pun semakin menarik, menggoda dan seksi.


"Seperti nya ada hal yang ingin Neng tanyakan kepada Aa" Ucap Julian seolah mengembalikan. Aghnia kedunia nyata.


Menatap pria dewasa yang tengah duduk saling berhadapan dengan nya membuat Aghnia semakin gugup.


"Nggak ada apa-apa kok" Aghnia berucap dan mengalihkan pandangan nya dari Julian.


"Wanita tadi Aisyah, pemilik Cafe Sutra. Rumah nya juga nggak jauh dari rumah Bunda. Dia sering main ke rumah dan bertemu dengan Bunda dan juga Rey. Jadi kalau nanti Dia main ke rumah Kamu jangan kaget ya" Aghnia terdiam mendengar penjelasan Julian.


"Oh. Berarti udah kenal sama Bunda dong?" Tanya Aghnia yang entah mengapa merasakan sesak di dada nya ketika Julian mengatakan kalau Aisyah dan keluarga saling mengenal dan seperti nya cukup dekat.


"Kenal banget malah. Umi nya Aisyah itu pemimpin pengajian di kajian yang di ikuti Bunda. Maka nya Bunda dan Aisyah dekat" Penjelasan Julian membuat Aghnia sedikit meremas faktur yang tengah di pegang nya.


"Nanti kalau Kamu libur ikut saja dengan Bunda ke pengajian agar bisa berkenalan dengan keluarga Aisyah" Ucapan Julian semakin membuat dada Aghnia terasa sesak, namun hal berbeda justru tak terjadi kepada Julian.


Ada senyuman kecil terlihat di wajah pria itu ketika melihat raut wajah Aghnia yang sedikit demi sedikit berubah.


"InsyaAllah" Hanya kalimat itu saja yang terucap dari Aghnia.


"Bunda dan Rey juga pertanyaan bertanya tentang hubungan Aa dan Aisyah. Bahkan Bunda pernah mengajak Aa untuk berkunjung ke rumah Aisyah, ya sekedar silaturahmi mungkin" Aghnia hanya terdiam tak menanggapi ucapan Julian.


Namun dari raut wajah yang Aghnia tampilkan Julian dapat melihat kalau gadis kecil itu mulai merasa tak nyaman dengan apa yang di ceritakan nya.


"Oh. Jadi kapan mau silaturahmi ke rumah Kak Aisyah?. Sayang lho kalau Bunda udah cocok kenapa nggak di segerakan bersilaturahmi ke rumah nya. Apalagi kedua keluarga sudah saling mengenal satu sama lain. Kalau ada niat baik lebih baik di segerakan jangan di tunda, nanti malah di ambil orang" Julian tertawa dalam hati mendengar pernyataan panjang gadis kecil nya.


Walaupun terdengar biasa saja tapi raut wajah cemburu Aghnia tidak bisa diabaikan begitu saja.


"Iya. Bunda dan Rey juga bilang gitu. Jadi menurut Kamu niat baik itu harus segera di laksanakan gitu?" Lagi-lagi pertanyaan Julian membuat Aghnia kesal.


"Ya laksanakan saja. Tapi jangan lupa jatuhkan talak Kamu dulu kepada Saya sebelum Kamu melaksanakan niat baik tersebut. Walaupun Kamu bilang kita sudah menikah secara agama, Kamu harus tetap mentalak Aku. Karena walaupun Kita tak pernah saling mencintai tapi memiliki dan menjadi madu dalam pernikahan tak pernah terlintas dari keinginan Saya"


Duar


Julian terdiam dan merutuki ucapan bohong nya sendiri tentang Aisyah. Berniat mengerjai Aghnia untuk mencari tahu perasaan Aghnia kepada nya, Julian justru mendengar permintaan Aghnia yang membuat nya semakin menyesal karena Julian menyadari kalau hanya Dia lah yang mencintai sedangkan Aghnia sendiri mengatakan kalau Dia tak mencintai Julian.


"Apa tak bisa Neng mencoba menerima pernikahan kita?" Julian mengajukan pertanyaan dan sayang nya akibat kebohongan cerita nya tentang Aisyah membuat nya harus mendengar jawaban menyakitkan yang di berikan oleh Aghnia.


"Pernikahan bukan ajang coba mencoba. Lagi pula pernikahan kita ini terjadi karena Kamu yang ingin mengabulkan keinginan terakhir Ayah. Dan sepertinya Kita tak perlu lagi melanjutkan pernikahan ini. Karena kita tidak pernah saling mencintai!". Tutur Aghnia mengakhiri ucapan nya.


"Saya sudah selesai merapikan faktur. Sudah hampir sore. Saya pamit" Julian masih terdiam tak menyadari kalau gadis kecil nya itu sudah berjalan keluar dari ruangan nya.


"Astaghfirullahalazim. Kenapa malah jadi begini!" Gerutu Julian yang bergegas menyusul Aghnia keluar ruangan nya, dan sayang nya gadis kecil nya itu sudah tidak terlihat batang hidung di area Cafe. Hingga salah seorang karyawan Cafe mengatakan kalau Aghnia sudah pulang sambil menangis.


"Maafin Aa Neng. Aa udah bohong" Gumam Julian menyesal dan bergegas mencari keberadaan Aghnia yang Julian yakini pasti pulang kerumah Julian.