The Journey of Love

The Journey of Love
Bab 44 Tanggung Jawab



"Gue peringatin lo bertiga, nggak usah manggil bini Gue pake panggilan itu, kalau masih nekat, jangan salahin gue kalau kalian langsung masuk IGD!" Bentak Rey yang lalu berjalan meninggalkan ketiga pria yang mengklaim diri mereka sebagai mantan kekasih Meta.


Ketiga nya mengusap dada mereka masing-masing dengan pelan seraya beristighfar mendapati kemarahan Rey.


"Serem banget laki nya si Meta!" Ucap si wajah etnis yang di angguki kedua teman nya.


"Mas Reza parah banget ngerjain nya." Ucap si kaca mata bergidik ngeri melihat kemarahan Rey.


"Lain kali Gue ogah bantuin Mas Reza!" Ucapan si bleaching pun di angguki si kaca mata dan si wajah etnis.


"Parah nya Mbak Iis sampe ikutan pula!" Tawa ketiga nya langsung pecah saat ulah usil Reza mengerjai Rey turut melibatkan Iis istri Juna si penjual Nasi goreng.


"BTW, kaya nya gue kenal deh sama laki nya si Meta!" Ucap si kacamata berusaha mengingat wajah Rey yang seperti nya pernah dilihat nya, namun dia lupa pernah melihat nya di mana.


Kedua bola mata pria berkacamata itu langsung membulat dengan sempurna seraya menepuk jidat nya dengan kencang hingga membuat kedua sahabat nya itu pun keheranan.


"Mampus Gue!" Gerutu Fajar saat mengingat siapa Rey.


"Kenapa Lo Jar?" Tanya Akmal si rambut bleaching kebingungan.


"Alamat langsung di pecat kita sebelum magang!" Gerutu si kacamata yang bernama Fajar.


"Emang nya kenapa?" Tanya si wajah etnis yang bernama Farhan.


"Gue baru engeh kalau laki nya Meta itu yang punya Cafe tempat kita magang atas rekomendasi Mas Reza!"


"Mampus kita!" Gumam ketiga nya pasrah.


"Mas Reza harus tanggung jawab nih. Gue nggak mau harus ngulang magang lagi tahun depan!" Seru Akmal yang di angguki Fajar dan Farhan.


Akmal pun bergegas melangkah menuju kediaman Meta guna meminta pertanggungjawaban Mas Reza untuk menghadapi kemarahan Rey, yang bisa saja berbuntut panjang menolak lamaran magang mereka bertiga di Cafe milik Rey.


"Mau kemana Mal?" Tanya Fajar dan Farhan bersamaan namun mengikuti langkah Akmal.


"Kerumah Meta. Minta Mas Reza ngaku kalau udah nyuruh kita ngetes calon adik ipar nya" Sahut Akmal yang lagi-lagi langsung di setujui oleh kedua sahabat nya.


Sementara itu selama perjalanan kerumah Meta dengan berjalan kaki, Rey hanya terdiam tak bersuara membuat Meta pun menjadi serba salah tak enak hati, karena secara tidak langsung mengikuti alur permainan Mas nya yang ingin mengerjai Rey dengan mendatangkan ketiga makhluk sahabat nya ke pangkalan Juna.


"Abang!" Meta berusaha memanggil dengan lembut, namun hanya di balas Rey dengan dehaman saja.


"Abang marah?" Tanya Meta yang didiami oleh Rey.


"Ish, jangan marah dong. Mereka itu pasti di suruh sama Mas Reza buat ngerjain Abang" Tutur Meta memberikan penjelasan kepada Rey.


"Nggak usah bawa Mas Reza!" Sentak Rey tak terima alasan Meta.


"Ish kok malah ngebentak!" Sengit Meta tak mau kalah.


"Kamu salah lho Dek, kok malah jadi Kamu ikutan marah sama Abang?" Meta menghela nafas pelan mencoba meredakan emosi nya karena bentakan Rey.


"Iya maaf. Aku salah!" Ujar Meta yang mempercepat laju jalan nya menjauhi Rey.


Rey pun hanya mampu menghela nafas pelan melihat Meta yang lebih dahulu memasuki rumah nya, meninggalkan Rey yang masih berjalan.


"Ck yang kesal siapa yang marah siapa" Gerutu Rey seraya melangkah mengejar Meta


"Assalamu'alaikum" Salam sapa Rey saat memasuki rumah Meta.


"Waalaikumsalam" Mama dan Papa menjawab salam Rey.


Mama memberikan kode kepada Rey untuk masuk keruang keluarga, guna melihat Meta dan Mas Rey.


Rey melihat kearah Mas Reza yang tengah di cubiti oleh Meta karena berhasil mengerjai Rey hingga membuat Rey cemburu dan mendiami nya di perjalanan pulang ke rumah tadi.


"Ngapain Mas nyuruh tiga curut ganggu Bang Rey?"


" Ampun Dek, Mas cuma mau nguji Rey aja kok!"


"Gara-gara Mas, Abang marahin Ade di jalanan, Abang puas?"


"Ampun Dek. Iya Mas minta maaf. Nggak lagi-lagi Mas ngerjain Rey!"


"Mas mikir nggak, kalau Abang sampe ngamuk, terus hajar tiga curut sampai masuk rumah sakit gimana?. Siapa yang disalahin sama Bunda, Mami, juga Ibun?. Pasti Bang Rey kan bukan Mas Reza!"


"Iya. Iya. Mas salah. Maafin Dek. Ampun Dek, jangan di cubitin lagi, bisa merah besok ini!"


"Biarin!"


Meta mendengus kesal lalu mendudukkan tubuh nya di sofa panjang, di susul Rey yang mendudukkan tubuh nya di samping Meta seraya melihat kepada Mas Reza yang tengah cengar cengir kepada nya.


"Maafin Mas ya Rey, Mas cuma ngerjain Kamu"


"Tuh denger sendiri kan kalau yang tadi Ade bilang itu semua ulah Mas Reza!" Ujar Meta kesal.


"Mas Za tanggung jawab. Kita nggak mau magang kita kacau gara-gara Mas Za!" Tiba-tiba saja Akmal, Fajar, Farhan masuk keruang keluarga setelah sebelum nya diizinkan oleh Mama dan Papa yang sudah mengetahui maksud kedatangan ketiga keponakan nya tersebut mencari anak sulung nya tersebut.


"Parah banget sih Bang!" Kali ini Fajar yang bersuara.


"Bayar Mbak Iis berapa Mas, buat ikutan ngerjain calon nya Meta?" Farhan pun ikut menyuarakan protes nya kepada Mas Reza yang hanya bisa memasang wajah cengar cengir tak berdosa nya


"Fix, pelangkah buat Mas Za, Abang cancel aja!"


Mas Reza langsung terpekik dengan mata membulat dengan sempurna, ketika sang adik yang akan melangkahi nya menikah itu tegah merajuk kepada calon suami nya untuk membatalkan pelangkah yang terpaksa di minta nya karena Rey yang memaksa agar Reza memberikan nya syarat pelangkah untuk menikahi Meta.


" What. Nggak bisa. Rey udah deal lho Dek!" Mas Reza menyuarakan protes nya atas usulan Meta.


"Siapa suruh Mas Za iseng nya keterlaluan kaya gitu!"


Mas Reza hanya bisa menggaruki belakang tengkuk nya yang tidak gatal itu menanggapi renggekan adik kesayangan nya itu.


"Udah mau tengah malam. Bubar bubar!" Papa pun akhir nya membubarkan pasukan yang tengah mendemo keusialan Mas Reza.


"Kamu balik atau mau nginep Rey?" Papa bertanya kepada Rey yang lalu melihat kearah jam tangan nya.


"Balik Pa. Bunda udah nanyain hehehe" Papa menepuk punggung Rey seraya menyunggingkan senyuman.


Setelah pamit kepada kedua orang tua Meta, Rey pun pamit pulang walaupun waktu sudah menunjukkan tengah malam, namun Rey lebih memilih pulang karena tak ingin keluarga Meta menjadi buah bibir karena membiarkan nya menginap di rumah Meta sebelum akad.


"Seminggu nggak bakal ketemuan dulu, jangan kangen" Meta mengerucutkan bibirnya menanggapi ucapan Rey sebelum pria itu meninggalkan kediamannya.


"Abang pamit. Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"