The Journey of Love

The Journey of Love
Bab 43 Manyun



Meta mengedipkan kedua bola matanya tak percaya saat melihat lapak Juna kini sudah berubah menjadi tempat nonton bareng final sepak bola yang tadi terpaksa Rey tinggalkan demi mengantarkan Meta bertemu dengan Juna. Tidak hanya Meta yang memanyunkan bibirnya, ternyata Iis, istri Juna, dan beberapa wanita yang tengah menikmati aneka menu nasi goreng serta kerabatnya, juga sedang memanyunkan bibir mereka ketika pasangan mereka terlihat begitu asyik menikmati tayangan televisi yang memang selalu disediakan Juna di kiosnya yang juga merangkap sebagai rumahnya.


"Cukup ramai di sini," gerutu Meta yang meninggalkan Rey untuk menghampiri Iis yang tengah sibuk membuat pesanan.


"Abang ikut nobar dulu ya, Ade pesan aja sekalian pesanin Abang nasi goreng," ujar Rey yang dengan malas disetujui oleh Meta. Setelah memesan makanan untuk mereka, Meta kembali menghampiri Rey yang duduk di bangku paling belakang.


"Udah dipesan?" Meta hanya mengangguk dan kemudian duduk di samping Rey.


"Ada Juna?" bisik Rey dengan iseng.


"Dia lagi ngejedok di bangku paling depan. Tidak tahu apa bininya repot bikin pesanan," gerutu Meta.


"Even ini cuma 2 tahun sekali. Dan udah lama banget Timnas nggak pulang bawa medali, jadi seperti nya wajar kalau para kaum pria ingin menyaksikan pertandingan ini," sela Meta ketika Rey menyarankan untuk menonton siaran ulang.


"Euforia nya beda, apalagi kalau nonton bareng begini. Lebih seru tau," balas Rey dengan lembut.


"Iya deh iya. Makasih, Mbak Iis," kata Meta sambil menanggapi ucapan yang berbarengan dengan Iis yang sedang mengantarkan pesanan Meta.


"Sama-sama Neng. Tumben ganti gandengan biasanya sama Mas Reza kalau nggak Mas Fajar," kata Iis sambil melihat bola mata Rey yang ternyata meremang.


"Palingan Fajar sama kaya Mas Juna, lagi nobar barengan Akmal sama Farhan, Mbak," jawab Meta.


"Siapa Fajar?" tanya Rey menatap tajam Meta yang masih santai.


"Lah, Mas Fajar itu pacarnya Mbak Meta waktu SMP, kalau Mas Akmal mantan pacar Mbak Meta waktu SD dan Mas Farhan itu mantan pacarnya Mbak Meta waktu SMU, tapi pas masuk SMU udah putus ya, Mbak?" Meta mengangguk dan mendengar Rey meradang lalu melanjutkan menikmati nasi gorengnya.


Ketenangan mereka terusik saat tiba-tiba saja Meta tersedak ketika terdengar tiga suara pria memanggil nama panggilan panggilan aneh untuk Meta. Ketiganya ternyata adalah sahabat lama Meta yang sering mengerjai Rey.


"Sopan sedikit dong, bisa nggak?" kata Rey dengan kesal.


"Eh, baru sadar, kamu bawa gebetan baru, Baby?" kata salah satu sahabat Meta.


Enam mata menatap Meta dengan penuh tanya, namun Meta hanya menikmati nasi goreng terakhirnya dengan tenang.


"Abang makan saja, abaikan para tong sampah ini." Meta menyuapi Rey saat ia tengah menahan amarah.


Rey mengunyah nasi goreng dengan merengut sembari menatap ketiga pria itu yang berpura-pura mengabaikan dirinya.


"Diem nggak, balik sana!" geram ketiga pria itu.


"Abang!" panggil Meta seraya mengusap lembut lengan Rey.


"Balik!" titah Rey sambil meletakkan uang 50 ribu di atas meja dan pergi membawa Meta.


"Honey, Darling, Baby," kata Rey ketika mereka meninggalkan ketiga sahabat Meta itu. Mereka akhirnya berdiri menantang di hadapan Rey yang marah.


"Berhenti manggil pacar gue dengan panggilan alay kaya gitu!" ujar Rey.


"Weits. Santai saja bro. Masih pacar kan? Nggak usah manggil bini gitu dong," sahut sahabat Meta yang rambutnya dicat putih.


"Diam saja kamu, Dek!" Meta langsung terdiam, baru kali ini ia melihat kemarahan Rey, dan sepertinya ulah Mas Reza membuat Rey menjadi marah.


"Abang," panggil Meta dengan lirih sambil mengusap lembut lengan Rey yang sedang marah.


"Balik!" kata Rey dan mereka langsung pergi dari tempat itu dengan meninggalkan ketiga sahabat Meta yang merasa terpukul.


"Saya peringatkan kalian bertiga, jangan memanggil istri saya dengan panggilan itu. Jika kalian masih nekat, jangan salahkan saya jika kalian langsung masuk UGD!" bentak Rey yang kemudian berjalan pergi meninggalkan ketiga pria yang mengaku sebagai mantan kekasih Meta.


Ketiganya mengusap dadanya masing-masing dengan pelan seraya memohon ampunan atas kesalahan mereka yang telah memicu kemarahan Rey.