The Journey of Love

The Journey of Love
Bab 18 Sadar



Tiba-tiba saja HP Julian yang berada di dashbord mobil berbunyi.


"Tolong di angkat ya Neng"


"Kalau penting gimana A?"


"Ya Kamu jawab aja"


Aghnia meraih HP Julian. Kedua bola mata Aghnia membulat ketika melihat siapa yang menelepon Julian.


"Ibu A"


"Angkat saja, Neng loudspeaker"


Aghnia mengangguk dan melaksanakan apa yang minta oleh Julian.


"Assalamu'alaikum Bang"


Terdengar suara Bu Laras seperti orang yang tengah panik dan hal itu membuat Julian khawatir, karena saat ini Bu Laras sedang berada di Rumah sakit menjaga Rey.


"Waalaikumsalam Bu. Rey kenapa?"


Julian langsung bertanya mengenai adik nya.


"Rey sadar Bang. Rey sadar!"


Tak hanya Julian yang terkejut, Aghnia yang sejak tadi diam itu pun tak kalah terkejut mendengar ucapan Bu Laras.


"Alhamdulillah"


Entah mengapa kalimat yang Julian ucapkan itu terasa menyakitkan bagi Aghnia.


"Abang ke sana sekarang juga Bun"


"Iya Bang"


"Assalamu'alaikum Bunda"


"Waalaikumsalam Abang"


Wajah Julian tampak bahagia mendengar kabar Rey sudah sadarkan diri. Hal yang berbanding terbalik justru tampak di wajah Aghnia.


Wajah gadis itu tampak mendung. Tak cukup kah Tuhan memberikan nya cobaan di hina oleh rekan suami nya dan kini Tuhan memberikan kesadaran kepada orang yang sudah membuat nya harus kehilangan Ayah nya.


Tanpa Aghnia sadari kedua bola mata nya meneteskan air mata meratapi nasib nya hari ini. Dan sayang nya hal itu tidak di sadari oleh Julian yang tengah berbahagia karena adiknya sudah sadar setelah hampir satu tahun koma.


"Kita langsung ke rumah sakit ya Neng. Aa mau melihat keadaan Rey"


Aghnia terdiam tak menanggapi ucapan Julian, dan Julian pun masih belum menyadari kalau Aghnia saat ini tengah merasa sedih dan juga kesal.


Setelah hampir 30 menit akhir nya kendaraan yang di kemudikan oleh Julian pun tiba di parkiran Rumah Sakit.


Pria itu bergegas mengajak Aghnia keluar dari mobil tanpa menyadari kalau Aghnia masih enggan menemui bahkan mengetahui kondisi Rey.


"Ayo kita keluar. Bunda sudah menunggu kita"


Aghnia masih terdiam tak menyahuti ucapan Aghnia.


"Neng"


"Aa saja. Neng mau pulang"


Julian menahan tangan Aghnia yang hendak membuka pintu mobil guna keluar dari mobil Julian.


"Rey baru sadar dan Bunda membutuhkan Kita"


Aghnia tersenyum kecil lalu menghempaskan tangan Julian hingga membuat Julian terkejut.


"Kita?"


"Neng bahkan berharap Kak Rey menutup mata selama nya"


Ucapan Aghnia sontak mengejutkan Julian hingga tanpa sadar pria itu berteriak memanggil nama Aghnia dengan keras.


"Aghnia!"


Aghnia tersenyum kecil lalu menghadapkan tubuhnya kearah Julian yang tengah menatap tajam kearah nya.


Dengan menahan tangis gadis itu membalas tatapan tajam Julian.


"Apa Saya harus senang ketika orang yang sudah membuat Ayah saya meninggal dunia itu sadar?"


Ucapan Aghnia menyadarkan Julian kalau ada orang yang bersedih bahkan tak berbahagia dengan sadar nya Rey.


Dan sayang nya orang itu pun memiliki arti yang sama bagi hidupnya dengan Rey.


"Neng"


Aghnia kembali menepis tangan Julian saat Julian hendak menyentuh nya.


"Kalian bisa berbahagia dengan sadar nya Kak Rey. Lalu bagaimana dengan Aku?" Tangisan kecil Aghnia mulai terdengar.


"Apa dengan sadar nya Kak Rey, Ayah Ku bisa kembali?. Apa dengan sadar nya Kak Rey bisa membuat keadaan kembali seperti semula?". Julian terpaku menatap Aghnia. Tubuh gadis itu mulai bergetar menahan tangis juga amarah nya.


"Ayah tewas karena kecerobohan Kak Rey. Lalu apakah Aku harus bahagia karena kesadaran nya?"


"Jawabannya adalah tidak!"


"Aku bahkan berharap Kak Rey mengalami nasib yang sama dengan Ayah, dan kalian merasakan kesedihan dan kehilangan seperti apa yang Aku rasakan!"


Aghnia bergegas membuka pintu mobil Julian dan menutup nya dengan keras lalu berlari menjauhi meninggalkan mobil Julian.


Julian menghela nafas nya lalu segera keluar mobil menyusul Aghnia yang semakin kencang berlari keluar parkiran Rumah Sakit.


"Neng. Aghnia. Tunggu jangan berlari seperti itu, baha_"


Belum sempat Julian mengakhiri ucapan nya sebuah mobil yang baru saja memasuki parkiran Rumah Sakit menghantam tubuh Aghnia yang tengah berlari.


Ckit


Brugh


Tubuh Aghnia terkena bagian depan mobil hingga membuat tubuh Aghnia terpental.


"Astaghfirullahalazim. Aghnia!"


Julian mempercepat lari nya menuju kearah Aghnia yang terkapar di depan mobil yang tak sengaja menabrak Aghnia.


"Astaghfirullahalazim. Maaf Mas saya tidak sengaja."


Julian tak menanggapi pria yang keluar dari dalam mobil yang menabrak Aghnia. Julian langsung membopong tubuh Aghnia yang bersimbah darah itu menuju ruangan IGD yang memang berada tidak jauh dari tempat parkiran.


Julian sangat panik melihat Aghnia yang tak sadarkan diri ketika di tangani oleh para medis.


Pria itu bolak balik di depan ruangan IGD dan menghiraukan panggilan di HP nya yang terus berbunyi.


"Bang"


Julian melihat kearah suara yang memanggil nya. Tampak Ricko berjalan menuju kearah nya


"Rey masuk ke IGD lagi?


Julian menggelengkan kepala nya menjawab pertanyaan Ricko.


"Lalu_"


"Aghnia"


Ricko terkejut mendengar ucapan Julian.


"Aghnia kecelakaan!" Tutur Julian cemas.


"Astaga."


"Tolong beritahu Ibu. Abang sedang menunggu Aghnia di IGD, lakukan yang terbaik untuk Rey!"


Julian menepuk punggung Ricko. Ricko mengangguk lalu segera pamit kepada Julian untuk mengabarkan kepada Bu Laras kalau Julian tengah menunggu Aghnia yang kecelakaan.


"Dimana ini"


Aghnia membuka kedua bola mata nya. Hamparan padang penuh dengan aneka bunga memanjakan kedua bola mata nya dan membuat nya enggan beranjak dari duduk nya.


Aghnia tersenyum melihat betapa indah nya pemandangan yang terhampar di hadapan nya.


Matahari yang bersinar pun terasa hangat di iringi angin yang bertiup menyebarkan aroma wangi bunga yang sangat menyejukkan hati.


Aghnia bangkit dari duduk nya lalu berjalan menuju hamparan padang bunga, berdiri di tengah padang bunga sambil merengangkan kedua tangan nya menikmati semilir angin dan hangat nya sinar matahari yang menyinari tubuh nya.


Senyuman Aghnia perlahan surut ketika menyadari kalau di tempat nya berpijak saat ini Dia hanya seorang diri.


"Aa" Aghnia memanggil, namun yang terdengar hanya gema suara berulang-ulang panggilan yang Aghnia keluarkan tadi.


Aghnia mulai panik dan memutarkan tubuh nya guna mencari keberadaan orang lain di sekitarnya.


"Aa" Aghnia kembali memanggil Julian.


Dan lagi lagi hanya terdengar gema yang berulang-ulang dari panggilan nya tadi.


"Aa. Neng takut!" Kali ini Aghnia berucap dengan nada lirih.


Gadis itu kembali mendudukkan tubuh nya, menekuk kedua lutut nya guna menyembunyikan wajah nya.


"Aa. Neng takut" Kembali Aghnia berucap dengan lirih dengan masih menyembunyikan wajahnya di balik lutut yang di lipat nya.


Tubuh Aghnia bergetar menahan tangisan. Namun tangisan nya itu terhenti ketika terdengar dua buah suara memanggil nya.


"Neng"


"Aghnia"


Aghnia mengangkat wajah nya. Seulas senyuman terukir di wajah Aghnia.


Gadis itu pun bangkit dari duduk nya lalu berlari menuju orang yang memanggil nya. Merentangkan kedua tangan nya seraya berteriak memanggil kata


"Ayah"