
Setahun sudah berlalu baik Aghnia ataupun Meta saat sama-sama tengah menikmati kehamilan mereka yang memasuki tri semester akhir.
Usia kehamilan Meta lebih tua dua minggu dari Aghnia, namun menurut dokter yang memeriksa kedua nya tak menutup kemungkinan Aghnia bisa saja melahirkan terlebih dahulu.
Kedua Abang Adik, suami mereka pun gak kalah sibuk, sama-sama memiliki calon bayi berjenis kelamin laki-laki membuat kedua nya kompak membeli barang yang sama dan kembaran untuk calon kedua buah hati mereka.
Tak hanya Bu Laras yang sibuk, Mama Tata pun tak mau kalah sibuk nya dengan sang besan. Kedua nenek itu pun sudah menyiapkan perlengkapan yang akan di pakai oleh kedua cucu mereka kelak.
Ya dua, bagi Mama Tata yang sudah menganggap Aghnia sebagai putri nya itu, pun sudah meng klaim kalau calon anak Aghnia dan Julian nanti juga merupakan cucu nya.
Sementara Mas Reza hanya bisa pasrah selalu menjadi bahan perjodohan sang Mama, karena nyata nya pria yang usia nya menjelang matang tersebut masih betah menyendiri alias jomblo.
"Assalamu'alaikum Teh Nia!" Aghnia meringis menahan nyeri ketika mendengar suara Meta mengucapkan salam dan memanggil nya dari teras rumah.
"Waalaikumsalam. Masuk Ta. Stststs"
Meta pun masuk kedalam rumah guna mencari keberadaan Aghnia.
Rumah Aghnia tampak lengang, seperti nya Julian sudah berangkat ke Cafe dan asisten rumah tangga yang membantu Aghnia pun tampak nya belum datang, karena Aghnia memang sengaja mencari asisten rumah tangga hanya untuk membantu nya membersihkan rumah, sementara untuk mencuci Julian lebih memilih menyerahkan ke laudry milik nya yang baru beberapa bulan ini baru saja di buka nya.
"Astaghfirullahalazim, kenapa Teh?" Meta tampak panik saat melihat wajah Aghnia yang pucat sambil meringis dan sesekali mengusapi perut nya.
"Nggak tau Ta, dari pas Abang jalan perut Aku mules banget" Rintih Aghnia dengan berjalan perlahan-lahan.
"Udah berapa menit?" Tanya Meta.
"Kaya nya nya 20 menit sekali Ta" Aghnia menjawab dengan lirih, membuat Meta pun langsung menghubungi Bu Laras untuk datang kerumah Aghnia.
Tak lupa Meta pun menghubungi sang kakak ipar melalui HP Aghnia, dan untung nya langsung di angkat Julian yang langsung bergegas kembali pulang, padahal baru saja tiba di Cafe.
"MasyaAllah, nikmat banget Ta" Rintih Aghnia membuat kedua alis mereka merengut.
"Sakit apa nikmat?" Tanya Meta bingung dengan ucapan Aghnia, namun Aghnia hanya bisa tersenyum kecil sambil meringis.
"Ish, di tanya malah nyetir!" Protes Meta yang tiba-tiba saja langsung membulatkan kedua bola mata, karena tiba-tiba saja perut nya terasa nyeri.
"MasyaAllah..." Pekik Meta dan Aghnia bersamaan bertepatan dengan Bu Laras dan Mama Tata yang tiba di kediaman Aghnia dan mendapati anak dan menantu mereka tengah meringis bersamaan.
"Astaghfirullahalazim" Kedua calon nenek itu mengucapkan istrighfar bersamaan seketika itu juga, melihat kedua anak menantu mereka tengah berdiri berdampingan sambil bersandar di tembok dan mengusapi perut mereka lengkap dengan keringat dingin yang mulai menbasahi wajah mereka yang pucat menahan sakit.
"Ini_" Aghnia dan Meta tertawa seraya meringis kecil saat berpandangan menertawai keadaan mereka dan ucapan mereka yang bersamaan.
"Ck kalian ini udah kaya anak kembar aja!" Seloroh Mama Tata yang mencoba mencairkan suasana yang mulai tegang, karena seperti nya kedua anak nya akan melahirkan bersamaan.
"Nikmat banget Mah" Oceh Meta mengadu kepada Mama Tata.
"Sakit Neng?" Aghnia justru hanya menggelengkan kepala nya pelan menjawab pertanyaan Bu Laras yang tengah mengusapi perut Aghnia bergantian dengan Meta.
"Abang dan Rey sudah di kabari?" Tanya Bu Laras.
"Abang sudah di kabari Meta Bunda, cuma Rey belum sempat stststs" Aghnia kembali meringis sebelum ucapan nya berlanjut.
Mama Tata pun bergegas menghubungi Rey, yang ternyata sama dengan Julian baru saja tiba di Cafe nya, bertepatan dengan mobil Julian yang baru saja berjalan meninggalkan area parkir.
"MasyaAllah mereka berdua itu udah kaya anak kembar aja!" Ternyata tak hanya Mama Tata saja yang mempunyai pemikiran kalau saat ini kedua pasangan mereka sama-sama akan melahirkan.
"Kaya nya ikatan mereka terlalu kuat Bang. Sampai anak-anak kita aja launching nya mai barengan begitu!" Celoteh Rey pun mengundang tawa Julian yang tengah cemas memikirkan Aghnia yang akan melahirkan buah hati Mereka.
"Abang!" Kedua wanita yang tengah meringis kesakitan itu langsung memanggil pasangan mereka masing-masing sesaat setelah pasangan mereka tiba.
"Sudah berapa kali?" Tanya Abang dan Adik itu bersamaan yang lagi-lagi mengundang tawa di balik kecemasan mereka.
"Sepuluh menit" Aghnia dan Meta menjawab dengan kompak.
"Ya udah kita langsung berangkat sekarang aja. Mama sudah calling Dokter Sekar dan Dokter Aurel" Tutut Mama Tata yang di angguki semua nya.
Lima belas menit setelah tiba di rumah sakit, kedua sahabat itu tengah berjuang melahirkan buah hati Mereka dalam satu ruangan sesuai dengan keinginan mereka saat memasuki rumah sakit tadi.
Beruntung kedua dokter kakak beradik yang merupakan pemilik rumah sakit tempat mereka akan melahirkan sudah selesai praktek dan bisa membantu kedua sahabat itu melahirkan buah hati Mereka.
"Dorong ya Bu, ini sudah kelihatan rambut dede nya!" Ujar Dokter Aurel dan Dokter Sekar bersamaan yang kemudian langsung mengulum senyuman mereka.
"Alhamdulillah!" Ucap kedua dokter kakak beradik itu bersamaan bertepatan dengan keluar nya kedua anak pasien mereka di waktu dan saat yang bersamaan.
"Definisi kembar beda Ayah dan Bunda nya" Ujar Dokter Aurel sang pemilik rumah sakit yang langsung di angguki semua yang berada di ruang. bersalin.
Selesai di bersihkan dan di azan kan serta dj bacakan doa oleh masing-masing Ayah mereka kedua bayi berjenis kelamin sama itu pun segara di berikan kepada masing-masing Bunda mereka untuk IMD.
Dari bilik yang berbeda berbataskan tirai kedua Ayah baru itu mendudukkan tubuh mereka disamping pasangan mereka masing-masing.
Menatap penuh cinta buah hati mereka yang tengah belajar menyesapi sumber kehidupan mereka yang berasal dari sang Bunda.
Julian mengecup kening Aghnia.
"Terima kasih Bunda, udah memberikan Ayah putra yang tampan" Kembali Julian mengecup kecil Aghnia.
"Sama-sama Ayah. Semoga kelak putra kita menjadi anak yang sholeh, anak yang berbakti kepada orang tua nya, berguna bagi agama juga semua nya. Aamiin" Julian mengaaminkan doa yang di ucapkan oleh Aghnia.
Hal yang sama pun di lakukan oleh Rey yang kini tengah merangkul bahu musuh bebuyutan nya saat SMU dulu yang kini sedang menyusui buah hati nya.
"MasyaAllah ganteng nya anak Abi" Meta mencembikkan bibir nya kala Rey meminta di panggil Abi saat putra mereka lahir.
"Jangan Abi Rey kebagusan!" Ujar Julian dari bilik kamar Aghnia.
"Tadi nya mau Ayah, eh udah Abang tekin duluan" Balas ucap Rey.
"Ya pokok nya jangan Abi, kebagusan buat Kamu!" Ujar Julian lagi membuat Rey menghela nafas pelan.
"Ya kalau nggak Abi, lantas Aryan manggil Rey apaan dong?"
"Abah" Ucap Julian, Aghnia dan Meta bersamaan yang langsung membuat Rey memekik tertahan tak setuju.
"No Way ....."
________________ THE _______ END ______________