
"Yuk Kita mulai"
Aba-aba Bu Rahma membuat Meta menjadi gugup.
Padahal sebelum Pak Afnan memperlihatkan hasil jepretan kamera nya, perasaan Meta kepada Rey biasa saja. Namun kini, tanpa sadar gadis yang tengah menetral kan detak jantung nya saat berdekatan dengan Rey itu kini sudah merangkulkan tangan kanan di lengan kiri Rey, membuat Rey pun terkejut.
Tak ingin membuat Meta menjadi salah tingkah apalagi marah, Rey mendiamkan saja tangan kanan Meta yang kini sudah merangkul lengan kiri nya dengan senyum yang mengembang yang ternyata menular kepada Meta tanpa gadis itu sadari juga.
Keluarga Meta dan Bu Laras sangat terkejut ketika melihat Meta keluar bersama Rey, karena sedikit banyak mereka mengetahui kalau hubungan Rey dan Meta di sekolah dan di mana mereka bertemu tidaklah seakrab itu.
Bu Laras dan Mama Tata sengaja duduk berdampingan saat mereka bertemu dalam mencari tempat duduk tadi.
Beberapa bulan teakhir ini hubungan mereka memang cukup dekat karena Mama Tata sering mengunjungi Cafe Julian dan sering bertemu dengan Bu Laras di sana.
Saat pertemuan pertama mereka, Aghnia memperkenalkan Bu Laras sebagai mertua nya kepada Mama Tata.
Bak gayung bersambut Bu Laras dan Mama Tata ternyata mengikuti satu pengajian bulanan gabungan di kecamatan mereka membuat hubungan mereka pun semakin dekat di pertemuan mereka selanjutnya hingga saat ini.
Jadi mereka sudah tak asing lagi saat melihat Meta dan Rey yang selalu saja beradu argumen kalau bertemu, bahkan entah mengapa perdebatan kedua insan muda tersebut justru menjadi hiburan tersendiri bagi kedua ibu paruh baya tersebut saat melihat nya.
"Mereka serasi ya Bu." Bisik Mama Tata yang di angguki Bu Laras.
"Lah, kok Julian ikutan?" Gumam Bu Laras, saat melihat Julian berjalan bersama Aghnia sebagai pasangan penutup para wisudawan.
"Haruslah. Lah wong Aghnia nya cantik banget" Bisik Mama Tata memuji Aghnia yang tampil sangat berbeda hari ini.
"Meta juga cantik banget Bu. Tapi kok baju mereka dan kita kok bisa senada gini ya Bu?" Mama Tata tertawa kecil dan baru menyadari kalau pakaian yang keluarga nya dan Bu Laras kenakan senada.
Bahkan gamis yang mereka kenakan pun nyaris sama hanya beda gamis yang Mama Tata kenakan ada motif bunga di ujung kanan bawah gamis nya.
"Omong omong pakaian yang kita kenakan hampir mirip lho Bu. Udah kaya mau acara lamaran ya Bu?" Tutur Mama Tata yang di angguki setuju oleh Bu Laras.
"Kalau keluarga Ibu berkenan, Saya selaku orang tua Rey, InsyaAllah akan berkunjung kerumah Ibu"
Mama Tata terkejut dengan ucapan Bu Laras dan kemudian mengalihkan pandangan kearah Bu Laras yang tampak menganggukan pelan kepalanya dengan senyum yang mengembang seolah menjawab pertanyaan Mama Tata yang tidak terucap.
"Alhamdulillah. Kalau anak-anak berkenan, silahkan Bu" Ucap Mama Tata senang.
Kedua ibu paruh baya itu pun saling mengangguk pelan lalu mengalihkan kembali pandangan mereka keatas panggung di mana Rey dan Meta tengah saling bergantian mengucapkan kata-kata perpisahan kepada pihak sekolah.
Acara wisuda berjalan dengan lancar, di lanjutkan dengan acara foto bersama para guru, para murid dan orang tua masing-masing.
Meta dan Aghnia pun foto berdua di booth yang sudah di sediakan oleh pihak sekolah, dilanjutkan oleh Julian yang berfoto bersama dengan Aghnia dan Bu Laras setelah sebelum nya Aghnia dan Julian foto berdua.
Rey menolak semua ajakan foto dari para teman perempuan nya yang sekelas maupun lain kelas. Pria muda itu hanya melakukan foto bersama Bunda dan Abang nya juga Aghnia bergantian berfoto bersama dengan para anggota genk nya.
Bagus yang juga mengikuti Ujian dan di nyatakan lulus tentu saja tidak bisa mengikuti acara wisuda tersebut, membuat remaja itu kini hanya bisa meratapi nasib nya di dalam jeruji besi.
Keluarga Bagus sendiri sudah menemui Rey dan juga Aghnia secara langsung, untuk meminta maaf kepada mereka berdua karena perbuatan Bagus kepada mereka.
Baik Rey dan Aghnia yang di wakilkan oleh Julian sudah memaafkan perbuatan Bagus kepada mereka, hanya saja baik Rey dan Julian tetap akan mengikuti prosedur yang sudah berlaku terhadap Bagus, dan tengah menjalani masa hukuman nya di dalam jeruji besi selama 15 tahun.
"Rey" Mama Tata yang cukup mengenal Rey memanggil Rey setelah berfoto bersama para sahabat nya.
Mama Tata melambaikan tangan kepada Rey yang di angguki pelan oleh Rey yang kemudian langsung menghampiri kedua orang tua Meta, sementara Meta sendiri tengah bersama teman sekelas nya yang lain.
"Assalamu'alaikum Tante, Om" Salam sapa Rey yang langsung mencium punggung tangan kanan Mama Tata dan Papa Ahmad, Papa nya Meta yang baru pertama kali Rey temui.
"Waalaikumsalam Rey" Balas salam Mama Tata sementara Papa Ahmad yang baru pertama kali bertemu Rey hanya menjawab salam Rey tanpa menyebut nama Rey.
"Ini lho Pa yang nama nya Rey. Adik ipar nya Aghnia" Papa Ahmad menatap Rey dengan dingin, bahkan hanya dehaman yang keluar dari suara nya menyahuti ucapan Mama Tata membuat Rey pun menjadi tak enak hati.
"Mas Miko nggak ikut Mah?" Tanya Rey karena tak melihat keberadaan Miko kakak nya Meta yang sempat beberapa kali bertemu dengan nya dan juga berbincang-bincang dengan nya kala Miko menjemput Meta di Cafe milik Julian yang di awasi Rey.
"Nggak Dia lagi KuKer ke Jombang" Jawab Mama Tata yang di angguki oleh Rey.
"Kamu sudah punya pacar?" Pertanyaan Papa Ahmad yang tiba-tiba membuat Rey dan Mama Tata pun terkejut.
"Kenapa Mama melihat Papa seperti itu?." Mama Tata tersenyum kecil mendengar pertanyaan sang suami dengan wajah datar nya.
"Kenapa Kamu tidak menjawab pertanyaan Om?"
"Eh, maksud nya Om?" Rey balik bertanya karena bingung.
"Ck. Dengan penampilan dan juga wajah Kamu yang seperti ini nggak mungkin kan Kamu nggak punya pacar?" Rey menggaruk belakang leher nya guna menutupi kegugupan nya menanggapi pertanyaan Papa Ahmad.
"Saya tidak berminat berpacaran Om. Untuk saat ini bagi Saya yang paling penting membuat bahagia Ibu dan Abang saya, menjadi anak dan adik yang membanggakan bagi Ibu dan Abang Saya." Rey menjawab pertanyaan Pak Ahmad dengan tenang, membuat Pak Ahmad mengangguk pelan.
"Saya masih ingin fokus membantu usaha Abang, dan juga melanjutkan kuliah dulu Om. Bagi saya alangkah lebih baik nya langsung berta'aruf dibandingkan berpacaran" Tutur Rey yang di setujui oleh Papa Ahmad.
Pria paruh baya itu menepuk punggung kanan Rey seraya berbisik.
"Kalau sudah siap dan mapan, Om tunggu kedatangan Kamu di rumah"
Ucapan Papa Ahmad pun sontak membuat Mama Tata dan Rey terkejut.
Pasangan paruh baya itu pun tersenyum ketika Rey mengucapkan sebuah kalimat,
"Kalau belum mapan Rey masih boleh kan Om, tiap malam minggu main ke rumah Om?"
"Kata nya mau ta'aruf dulu?" Goda Mama Tata membuat Rey menggulum senyuman nya.
"Kalau Om dan Tante nggak keberatan dan Meta bersedia juga Mas Miko ikhlas, InsyaAllah secepatnya Rey akan mengajak Bunda dan Abang berkunjung kerumah Om dan Tante"