The Journey of Love

The Journey of Love
Bab 36 Rahasia Aghnia



Aghnia dan Julian kembali menghela nafas pelan ketika HP Julian kembali berbunyi dan nama Joceline kembali terpampang nyata di layar HP.


"Pergilah. Atas dasar kemanusiaan, kabulkanlah apa yang di inginkan oleh anak itu!"


Aghnia mendorong paksa tubuh Julian lalu bergegas berlari kecil menjauh dari Julian setelah membuka pintu ruang kerja di Cafe.


Aghnia berjalan dengan langkah yang cepat guna menutupi kegelisahan nya. Senyum kecil dan anggukan kepala masih di berikan kepada para staf Cafe yang menyapa nya.


"Teh" Rey menyapa Aghnia pada saat berpapasan dengan Rey saat akan membuka pintu.


Dengan menundukkan kepala nya Aghnia mengangguk menjawab sapaan Rey.


Aghnia sangat takut kalau Rey akan mengetahui Dia baru saja bertengkar yang cukup hebat dengan Julian, karena itu jagalah Aghnia bergegas keluar dari Cafe menuju parkiran.


Kedua alis Rey mengernyit saling bertautan apalagi saat melihat Julian terlihat begitu panik dan tergesa-gesa keluar dari ruang kerja nya.


"Bang"


"Rey, liat Aghnia?"


Rey menyapa dan Julian bertanya bersamaan.


"Baru aja keluar. Kaya nya mau ke parkiran" Julian pun segera berlari keluar Cafe menuju parkiran.


"Astaghfirullahalazim, kemana Kamu Neng!" Julian bergumam panik dan resah saat tak melihat Aghnia berada di halaman parkir motor, bahkan motor yang di bawa nya pun masih terparkir di parkiran.


Tanpa berpikir panjang lagi Julian pun bergegas berlari keluar area cafe, dan benar saja Aghnia tampak tengah berdiri dan memakai helm di samping sebuah motor ojok online.


Julian sengaja tidak ingin memanggil Aghnia, pria itu takut jikalau memanggil Aghnia, maka Aghnia akan segera meminta pengemudi ojek online itu untuk segera pergi menghindari nya.


"Eh" Tubuh Aghnia tertarik kebelakang karena tarikan pelan Julian, secepat itu juga tangan kiri Julian langsung memeluk pinggang Aghnia agar tidak melarikan diri dan tangan kanan nya membuka helm dikepala sang istri.


"Maaf Pak. Istri Saya tidak jadi naik." Tutur Julian menyerahkan helm kepada pengemudi ojek online dan selembar uang berwarna merah kepada pengemudi ojek online tersebut.


"Nggak usah Mas" Tolak pengemudi ojek online tersebut saat Julian menyerahkan selembar uang tersebut.


"Terima saja Pak, sebagai pengganti ongkos istri saya" Jawab Julian.


"Mbak nya sudah bayar pakai go*** Mas" Kembali pengemudi ojek online itu menolak pemberian Julian. Namun Julian justru memasukkan uang tersebut kedalam pinggiran motor matic sang pengemudi online itu.


"Nggak apa-apa Pak. Mari Pak" Julian segera berjalan meninggalkan pengemudi ojek online itu yang masih kebingungan dengan terus merangkul pinggang Aghnia yang sejak tadi menolak nya.


Aghnia sengaja tidak menolak rangkulan Julian, karena wanita muda itu takut pertengkaran nya dengan Julian menjadi perhatian orang sekitar apalagi para karyawan Cafe, karena Julian membawa Aghnia menuju parkiran dan membawa nya masuk kedalam mobil nya.


Julian menghela nafas pelan saat mendapat penolakan Aghnia di dalam mobil pada saat Julian akan mengenakan sabuk pengaman mobil kepada Aghnia.


"Maafin Aa. Aa salah. Aa nggak jujur sama Neng kalau Aa menemui Jiceline dan Jordan karena Aa takut Neng akan salah paham" Tutur Julian memberikan penjelasan kepada Aghnia.


Aghnia mengacuhkan ucapan Julian hingga membuat Julian pun kebingungan bahkan mengabaikan getaran panggilan di HP nya.


Namun rupa nya ketidak jujuran Julian kepada Aghnia sudah membuat wanita muda itu terlanjur kecewa, sehingga membuat nya enggan untuk menanggapi penjelasan suami nya.


"Neng. Maafin Aa. Aa janji nggak bakal ngelakuin hal itu lagi!" Pinta Julian berusaha menggengam tangan Aghnia, namun lagi-lagi wanita itu kembali menolak sentuhan yang di berikan Julian


Bahkan sejak memasuki mobil, Aghnia lebih memilih memperhatikan sisi kiri mobil dan tak mau melihat kearah Julian


"Neng" Julian memanggil Aghnia dengan nada lembut bahkan terdengar sangat lirih.


Helaan nafas pelan Julian terdengar, pria itu pasrah karena mendapat penolakan dan juga di didiamkan oleh sang istri.


HP Julian kembali bergetar menandakan ada panggilan masuk yang sudah kesekian kali nya Julian abaikan.


Niat hati ingin menolong anak rekan nya justru menjadi boomerang bagi rumah tangga nya.


Sejatinya tak ada niatan Julian untuk mengecewakan Aghnia dengan tidak memberitahukan pertemuan nya Jordan yang selalu di dampingi oleh Joceline, karena Julian memang sudah sangat mengenal Jordan sejak bayi.


Sebenarnya tak hanya dengan Julian saja Jordan dekat dengan rekan kerja Mama nya, Surya dan Adam juga terkadang menemani Jordan saat anak kecil itu nyaris mengalami depresi saat melihat pertengkaran Papa dan Mama hingga membuat sang Mama mengajukan gugatan cerai karena Papa Jordan memilih mempertahankan pernikahan nya dengan Mama Jordan namun enggan berpisah dengan selingkuhan nya karena menyayangi kedua wanita tersebut.


"Neng. Please Aa ngaku salah. Aa minta maaf. Aa sangat menyesal karena tidak memberitahukan Neng tentang pertemuan Aa dengan Jordan". Julian kembali menyatakan penyesalan nya kepada Aghnia, namun seperti nya Aghnia masih enggan menanggapi ucapan Julian.


Wanita itu masih setia menatap sisi kiri nya, seulas senyuman tampak di wajah Aghnia saat melihat Meta tengah berjalan memasuki Cafe.


Refleks Aghnia langsung membuka pintu mobil yang ternyata lupa di kunci oleh Julian dan langsung meninggalkan Julian yang berdecak kesal dengan diri nya sendiri karena Aghni masih tak menanggapi nya.


"Meta!"


Meta menghentikan langkah nya saat akan meninggalkan motor nya.


Kedua alis gadis cantik itu saling bertautan saat melihat wajah sebab Aghnia saat menghampiri nya.


Meta menatap tajam Julian saat pria itu berjalan menghampiri istri nya dan juga diri nya.


"Kenapa?" Tanya Meta yang dibalas gelengan kepala oleh Aghnia.


"Kamu udah bilang, kalau kita pernah liat Kak Julian makan siang bareng si Jordan sama Mama nya?" Kembali Meta mengajukan pertanyaannya yang di balas gelengan kepala Aghnia.


Sontak saja pertanyaan Meta membuat Julian terkejut. Pria itu semakin merasa bersalah kepada istri nya karena ketidakjujuran nya itu rupanya sudah di ketahui langsung oleh Aghnia.


"Neng!" Julian memanggil Aghnia dengan sangat lembut dengan nada sangat bersalah.


Meta menghela nafas berat lalu melihat kearah Julian.


Meta sangat paham kalau dia tidak boleh ikut campur dengan masalah yang Julian dan Aghnia tengah hadapi saat ini. Namun Meta yang sangat memahami sifat Aghnia yang lebih memilih menyimpan perasaan nya membuat Meta mau tidak mau harus ikut masuk kedalam permasalahan keluarga sahabat nya tersebut.


Karena pada saat Aghnia kehilangan sang Ayah. Meta lah yang mendampingi Aghnia yang secara diam-diam menemui seorang psikater karena saat itu Aghnia menderita depresi diam-diam, dan hanya Meta lah yang mengetahui hal tersebut.


"Maaf Kak, biarkan Aghnia dengan Meta dulu!"