
Pagi menjelang. Baik Rey dan Pak Andi masih dalam pengawasan dokter ahli. Kedua nya mengalami luka berat di kepala yang kemungkinan besar mengakibatkan kedua nya tidak sadarkan diri hingga waktu yang tidak bisa di tentukan.
Apalagi Pak Andi yang mendapatkan luka di kepala nya yang parah hingga mengakibatkan pendarahan di otak nya dan besar kemungkinan kalau pun sadar akan mengalami cacat atau kelumpuhan karena cedera yang dialami Pak Andi saat di tabrak oleh Rey.
Suasana tenang selepas Julian melaksanakan sholat shubuh berubah menjadi kepanikan ketika beberapa dokter memasuki ruang observasi.
Dokter yang menangani Pak Andi tampak masuk kedalam ruangan membuat Julian yang saja kembali dari musholla rumah sakit pun bergegas menuju pintu ruangan observasi.
Dari balik kaca pintu Julian melihat kalau Pak Andi tengah di tangani oleh Dokter yang mengoperasi nya kemarin petang.
Perasaan Julian semakin tak karuan. Cemas dan ketakutan melanda nya ketika melihat Defibrillator di letakkan di dada Pak Andi.
Wajah Julian semakin pias ketika melihat sang Dokter menggelengkan kepala nya kepada rekan kerja lain nya dan hal itu membuat tubuh Julian semakin lemas.
Namun belum juga Dokter keluar dari ruangan suasana di bangkar Pak Andi kembali ramai, wajah pias Dokter terlihat sedikit cerah namun sesaat kemudian kembali meredup.
Seorang perawat membuka pintu ruang observasi meminta Julian sebagai wakil dari pihak keluarga untuk masuk.
Setelah menggunakan pakaian steril Julian pun memasuki ruangan observasi. Dokter dan dua orang perawat berada di sisi bangkar Pak Andi yang ternyata sudah sadarkan diri.
Julian merasa lega ketika melihat Pak Andi tersenyum kearah arah nya.
"Ian bukan?" Julian tersenyum ketika mendengar pertanyaan Pak Andi.
"Alhamdulillah, akhir nya kita bisa bertemu lagi" Ucap lirih Pak Andi.
Julian menghampiri Pak Andi dan kemudian mengenggam erat tangan kanan Pak Andi yang masih di penuhi alat bantu.
"Bapak titip Ia sama Kamu. Bapak yakin Kamu bisa menjaga Ia kalau Bapak tidak ada umur" Ucap Pak Andi lirih yang di balas gelengan kepala oleh Julian.
"Bapak pasti sembuh" Balas ucap Julian yang tanpa di sadari sudah mengeluarkan tangisan kecil.
"Sampaikan kepada Ia permintaan maaf Bapak yang tidak bisa mengabulkan keinginan nya untuk di wali nikahkan oleh Bapak" Ucap Pak Andi dengan terbata di sela nafas nya yang sudah mulai tak teratur.
"Bapak pasti sembuh dan bisa menjadi Wali nikah bagi Ia" Ucap Julian tak kalah lirih.
Senyuman Pak Andi terukir kecil. Dengan nafas yang mulai tidak teratur pria itu menggenggam erat tangan Julian.
"Kalau begitu, bersediakah Bapak menjadi Wali nikah Ia untuk Saya?"
Pak Andi terkejut dengan permintaan yang di lontarkan oleh Julian, walaupun begitu seulas senyuman kembali di berikan oleh Pak Andi di wajah pucat nya.
"Biarkan Saya menikahi Ia dengan begitu Bapak bisa mengabulkan keinginan Ia yang ingin menikah dengan di walikan oleh Bapak" Ucap Julian yakin yang di angguki oleh Pak Andi.
Dan akhir nya dengan di saksikan oleh Dokter dan dua orang perawat Julian pun mengucapkan akad atas Aghnia dengan di walikan oleh Pak Andi.
Selepas kata sah terucap dari dokter dan kedua perawat bertepatan pula dengan Pak Andi yang menghela nafas panjang.
Dan dengan di iringi oleh Julian yang menuntun nya mengucapkan syahadat di akhir nafas yang di hembuskan oleh Pak Andi, Ayah dari Aghnia yang kini telah resmi menjadi Ayah mertua Julian secara hukum agama.
Tatapan mata Aghnia kosong ketika melihat sosok sang Ayah sudah di balut dengan kain kafan ketika Dia baru saja tiba di rumah mereka.
Julian sudah menjelaskan kepada Bu Laras tentang status baru nya dengan Aghnia, dan Bu Laras menerimanya dengan senang hati. Karena itulah Bu Laras selalu berada di samping Aghnia sejak menjemput nya di sekolah Aghnia tadi sekaligus meminta izin untuk Rey yang tidak bisa masuk sekolah karena kecelakaan.
Jenazah sudah di mandikan di rumah sakit dengan di bantu salah seorang pemuka agama yang Julian kenal dan juga Julian.
"Neng" Aghnia mengangkat kepala nya ketika mendengar panggilan kecil nama nya yang selalu di ucapkan sang Ayah itu terucap dari mulut Julian.
"Sabar dan ikhlas ya" Julian langsung memeluk tubuh Aghnia menggantikan Bu Laras yang sejak tadi memeluk Aghnia.
"InsyaAllah Ayah sudah tenang" Bisikan Julian membuat tangisan Aghnia semakin kencang dan semakin mengeratkan pelukan nya kepada Julian hingga akhir nya Aghnia pun pingsan dan tak sadarkan diri dalam pelukan Julian.
"Astaghfirullahalazim Aghnia" Bu Laras dan yang lain nya pun panik ketika melihat Aghnia yang pingsan.
Julian pun segera membopong tubuh Aghnia kedalam kamar dengan di temani oleh Bu Laras dan Meta.
Dengan perlahan Julian merebahkan tubuh Aghnia, mengusap lembut surai Aghnia sebelum pamit kepada Bunda nya untuk membantu mengurus pemakaman Pak Andi yang rencana nya akan segera di kebumikan di salah satu pemakaman umum yang berada di lingkungan perumahan nya.
"Ayah" Igau Aghnia yang masih memejamkan mata nya.
Bu Laras dan Meta terlihat panik ketika sudah mencoba membangunkan Aghnia namun kedua bola mata gadis itu seolah enggan untuk terbuka.
Keringat dingin mulai memenuhi kening Aghnia membuat Bu Laras yang panik pun segera keluar kamar Aghnia untuk mencari Julian.
Julian yang tengah bersiap menuju pemakaman bersama beberapa warga lain nya itu pun segera masuk ke dalam kamar Aghnia setelah mendengar ucapan sang Bunda dan membuat pemakaman terpaksa di tunda untuk beberapa saat.
"Neng" Panggil Julian ketika tiba di dalam kamar Aghnia.
Pria itu segera memeluk tubuh Aghnia yang sudah penuh dengan keringat dingin.
"Astaghfirullahalazim Neng. Bangun. Ini Aa Iyan. Neng" Bisik Julian seraya menepuki wajah Aghnia dengan lembut.
Meta pun bergegas keluar kamar untuk mengambilkan Aghnia minum dan meninggalkan Aghnia dan Julian setelah Bu Laras meminta tolong kepada nya.
"Ya Allah Neng. Sadar sayang. Ini Aa Iyan" Bisik Julian panik.
Tanpa sadar Julian pun mengecup kening Aghnia dan bertepatan dengan gadis itu yang membuka mata nya hingga membuat Aghnia terkejut karena wajah Julian yang berada tepat berada di hadapan nya.
Bahkan ujung hidung mereka saling bersentuhan hingga mereka berdua bisa saling merasakan hangat nya hembusan nafas mereka.
Suasana pun menjadi canggung.
Julian membelai lembut rambut Aghnia seraya menjauhkan wajah nya dari wajah Aghnia yang mulai merona.
"Mau ikut ke pemakaman atau di rumah saja?"
Akhir setelah beberapa saat kecanggungan di antara mereka pun pecah karena pertanyaan Meta yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Aghnia dengan membawa segelas air putih untuk sang sahabat.