
Waktu terus bergulir, hingga tidak terasa sudah 8 bulan Ayah Aghnia meninggal dunia, dan hingga saat ini Rey pun masih koma dan belum sadarkan diri.
Hubungan Julian dan Aghnia pun masih sama saja tak ada perkembangan bahkan orang yang melihat kedekatan mereka bisa menyimpulkan kalau hubungan mereka layak nya kakak dan adik.
Waktu pertemuan Aghnia dan Julian pun tidak lama. Setiap hanya pagi ketika Julian yang baru pulang menjaga Rey akan mengantarkan Aghnia kesekolah dan siang hingga sore ketika Aghnia membantu di Cafe Julian.
Apalagi saat ini Julian tengah di sibukkan dengan rencana pembukaan cafe baru, hingga terkadang hanya bisa bertemu Aghnia pada pagi hari ketika Julian mengantarkan Aghnia sekolah atau bahkan tidak bertemu sama sekali dalam satu hari.
Aghnia menghela nafas pelan ketika bel panjang menandakan jam terakhir pelajaran telah berakhir. Dikelas 12 ini Aghnia tidak sekelas dengan Meta, jadi mereka hanya bertemu ketika jam istirahat sekolah saja.
Pernikahan Aghnia dan Julian pun masih di rahasiakan. Hanya Meta dan keluarga nya serta sahabat Rey saja yang nengetahui Aghnia sudah menikah membuat Aghnia semakin hari semakin berpikir kalau Julian menikahi nya hanya sebatas tanggung jawab karena Rey adik nya telah menabrak Ayah nya hingga meninggal dunia.
"Kenapa Lo?"
Pertanyaan Meta saat berjalan bersama Aghnia menuju gerbang sekolah itu hanya di balas Aghnia dengan helaan nafas pelan saja.
"Galau amat sih Mbak. Nggak dapat jatah malam dari paksu?"
Kedua bola mata Aghnia sontak melotot kearah Meta yang justru di balas Meta dengan tertawa kencang.
"B aja kali tuh mata. Nggak usah melotot"
Aghnia mendengus kencang ketika Meta dengan sengaja mengusap wajah Aghnia dengan tangan kanan nya.
"Jalan yuk" Meta menghentikan langkah nya ketika mendengar ucapan Aghnia.
Bergegas Meta meletakkan tangan kanan nya di kening Aghnia.
"Nggak panas"
Celoteh Meta membuat Aghnia menepis pelan tangan Meta dari kening nya.
"Tumben ngajak jalan. Biasa nya paling ogah kalau di ajak jalan. Pake alesan Cafe rame Aa nggak ada" Ucap Meta sambil mencembikkan bibir nya.
"Bosen di Cafe"
Meta sampai terkejut mendengar ucapan Aghnia, karena Aghnia mengucapkan ucapan tersebut.
"Ada masalah?"
Aghnia menggelengkan kepala nya pelan.
"Meta"
Meta menanggapi panggilan Aghnia dengan dehaman kecil dan memutuskan tak melanjutkan guyonan kepada Aghnia karena melihat Aghnia yang terlihat tidak bersemangat siang ini.
"Menurut Kamu, Aku gimana?"
Kedua alis Meta saling bertautan mendengar pertanyaan Aghnia.
"Maksud nya?"
Aghnia berdecak kesal, karena bukan nya menjawab pertanyaan nya Meta justru bertanya balik.
"Apa Aku jelek?"
Meta menggaruki tengkuk nya yang tidak gatal karena bingung ingin menjawab apa atas pertanyaan Aghnia.
"Pasti Aku jelek. Maka nya Aa biasa aja sama Aku" Aghnia berucap dengan nada lirih mengingat perhatian Julian yang mulai berkurang sejak sibuk dengan pembangunan Cafe baru nya yang menurut Bu Laras join dengan salah seorang rekan sesama pelaku bisnis Kuliner, yang sayang nya Bu Laras tak memberitahukan Aghnia siapa orang nya.
"Kok Lo ngomong gitu Nia?"
Aghnia terdiam tak menjawab ucapan Meta. Kedua nya memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di bangku halte dan mengurungkan niat mereka memesan ojek online untuk pulang ke tempat tujuan masing-masing.
Meta mengusap lembut punggung Aghnia, gadis itu paham kalau Aghnia saat ibu sedang tidak baik-baik saja.
"Terkadang Aku ngerasa Aa menikahi Aku hanya sebatas rasa tanggung jawab karena Kak Rey membuat Ayah meninggal. Dan sekarang Aa baru sadar kalau pernikahan Kami ini hanya di dasari rasa tanggung jawab dan kasihan karena Aku hanya sebatang kara"
"Lo jangan ngomong kaya gitu"
"Hubungan Kami jalan di tempat Ta. Kak Julian bahkan lebih banyak menghabiskan waktu menunggu Kak Rey rumah sakit di bandingkan dengan menghabiskan waktu bersama Aku"
"Lo cemburu?"
Aghnia menggelengkan kepala nya menanggapi ucapan Meta.
"Nggak, cuma terkadang Aku bosan. Bahkan banyak yang menganggap perlakuan Aa ke Aku itu layak nya perlakuan kakak kepada adik nya. Bukan suami kepada istri nya"
Meta menghela nafas pelan. Berat rasa nya untuk memberikan saran apalagi sampai ikut mencampuri urusan rumah tangga Aghnia dan Julia.
"Jalan aja yuk. Kaya nya Lo butuh refreshing"
Aghnia hanya mengangguk pelan. Meta pun segera memesan taksi online dengan tujuan sebuah mall yang selalu mereka kunjungi kalau sedang penat.
Senyuman Aghnia mulai terukir menikmati ragam permainan di sebuah tempat permainan di dalam mall tersebut.
Bersama dengan Meta Aghnia melepaskan penat dan gundah nya tentang hubungan nya Julian.
Hingga tak terasa kedua remaja itu menghabiskan waktu 2 jam mereka dengan memainkan ragam permainan di wahana permainan indoor tersebut.
Senyuman Aghnia terukir ketika melihat kekesalan Meta yang kalah dalam permaina.
Nmun senyuman itu langsung meredup ketika pandangan terarah ke pintu masuk wahana dan melihat sosok yang sangat di kenali nya.
Sosok tengah berjalan tanpa sadar kearah dengan menggendong seorang anak kecil dengan di dampingi oleh seorang wanita yang hanya dikenal nama nya saja.
Lidah nya terasa keluh ketika melihat sosok yang di kenal nya itu berjalan dengan wajah penuh kebahagiaan di iringi tawa bersama layak nya keluarga bahagia.
Hingga tanpa sadar membuat Aghnia meremas pinggiran rok nya guna meredam hati nya yang tiba-tiba terasa sakit dan tanpa di sadari nya kedua kelopak mata nya meneteskan air mata melihat pemandangan tersebut.
"Aghnia. Kita_"
Meta menghentikan teriakan nya ketika kedua mata nya pun menatap kearah yang tengah di tuju oleh Aghnia.
Sorot mata Meta langsung memancarkan kebencian, kekesalan kepada sosok yang kini tengah menatap Aghnia dengan tak kalah terkejut nya.
"Neng" Aghnia tersenyum miring mendengar panggilan itu.
Gadis itu memundurkan langkah nya ketika sosok itu maju menghampiri nya.
Ya sosok yang Aghnia kenali itu adalah Julian, pria yang berstatus suami siri nya selama 6 bulan itu, yang kata nya tengah sibuk mengurus pembukaan cabang baru Cafe kini justru tengah berdiri dihadapan nya dengan menggendong seorang anak kecil dengan di dampingi oleh seorang wanita yang kata nya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan nya itu.
"Aa bisa jelasin _" Aghnia menepis kasar tangan Julian yang ingin menyentuh.
"Jangan sentuh!"
Julian terkejut mendengar bentakan lirih Aghnia.
Aghnia menatap sinis Julian dan wanita yang masih setia berada di sisi Julian yang tengah menggendong anak kecil itu.
"Neng_" Aghnia kembali menepis kasar tangan Julian.
"Kita pulang Meta"