The Journey of Love

The Journey of Love
Bab 7 Tak Ada Rasa



Pemakaman Pak Andi berjalan dengan lancar, walaupun Aghnia beberapa kali pingsan ketika melihat jasad Sang Ayah di masukkan ke liang lahat.


Bu Laras dan Meta serta seorang guru wanita dari sekolah Aghnia mendampingi Aghnia yang berkali-kali pingsan hingga proses pemakaman Pak Andi usai.


Julian mengazankan jenazah Pak Andi di dalam liang lahat bahkan pria itu turut membantu menguburkan jasad mertua nya hingga usai.


Malam hari nya di adakan pengajian untuk mendoakan Pak Andi. Lagi-lagi Julian kembali menjadi perwakilan keluarga Pak Andi.


Status Julian sebagai suami Aghnia hanya di ketahui oleh Pak RT. Sementara warga lain mengetahui Julian sebagai kerabat dari Pak Andi.


Aghnia masih di dampingi oleh Bu Laras yang tengah memaksa Aghnia untuk makan. Karena sejak pulang dari pemakaman gadis itu hanya menyentuh makanan beberapa suap saja.


"Makan dulu ya nak" Ucap Bu Laras sambil menyodorkan sendok berisi makanan kepada Aghnia.


"Neng nggak lapar Bunda" Ucap Aghnia menolak makanan yang di sodorkan oleh Bu Laras.


"Sedikit saja Nak, agar Kamu tidak sakit" Aghnia kembali menolak makanan itu dengan menggelengkan kepala nya pelan.


Lagi-lagi kedua bola mata nya meneteskan air mata yang tanpa bisa di cegah saat teringat Sang Ayah hilir mudik hadir di pelupuk mata nya.


Tak ada lagi senyuman atau canda dari sang ayah, semua nya hilang dalam sekejap akibat kecelakaan yang sayang nya di lakukan oleh orang yang selalu menaruh luka di hati Aghnia.


Tak ada rasa lagi terhadap pria yang sudah membuat nya harus kehilangan kasih sayang ayah nya.


Bahkan saat ini dia berdoa agar Rey mengalami hal yang sama dengan ayah nya yang harus meninggal karena kecerobohan yang Rey lakukan.


Bu Laras berkali-kali meminta maaf kepada Aghnia atas apa yang sudah Rey lakukan hingga menyebabkan Pak Andi meninggal dunia, namun ucapan telah memaafkan perbuatan Rey masih terasa berat Aghnia ucapkan.


"Bun"


Terdengar suara Julian memanggil Bu Laras dan kemudian menghampiri Sang Bunda yang masih memegang piring berisikan makanan untuk Aghnia.


"Bunda istirahat saja dulu, biar Aghnia Abang yang jagain" Ucap Julian yang kemudian mengambil piring dari tangan Bunda.


"Bunda istirahat dulu ya Nak" Aghnia mengangguk pelan dan Bunda pun akhir nya pergi meninggalkan Julian dan Aghnia berdua di dalam kamar Aghnia.


Seolah paham kalau kedua nya harus berbicara pribadi, Bunda pun menutup pintu kamar Aghnia. Lagi pula tak ada yang salah kan kalau kedua berada dalam satu kamar yang tertutup, karena status mereka sudah sah sebagai pasangan secara agama, walaupun Aghnia belum mengetahui status tersebut.


Julian mendudukan tubuh nya di samping Aghnia bukan di kursi yang tadi Bu Laras duduki, karena kursi itu kini dipakai oleh Julian untuk meletakkan piring berisikan makanan untuk Aghnia.


Tanpa meminta persetujuan Aghnia, Julian memeluk dengan erat tubuh Aghnia, membuat Aghnia terkejut namun entah mengapa tubuh nya enggan menolak pelukan yang Julian berikan kepada nya.


Justru tubuh nya membalas pelukan Julian dengan mengalungkan kedua tangan nya dipinggang Julian dan menyembunyikan kepala nya di dada Julian. Hal yang sama persis Aghni selalu lakukan saat kecil ketika gadis itu sedih atau merajuk kepada Ayah nya.


"Menangislah" Bisik Julian seraya mengusap lembut surai Aghnia.


Tangisan lirih Aghnia pun kembali terdengar hingga membuat Julian semakin mengeratkan pelukan nya kepada gadis yang sudah sah menjadi istri nya tersebut.


"Sejak Ayah menghembuskan nafas terakhir nya, sejak itu pula lah Neng menjadi tanggung jawab Aa dunia dan akhirat. Sedih Neng sedih Aa juga. Sakit Neng sakit Aa Neng. Bahagia Neng pun bahagia Aa juga. Jadi kalau Neng terus sedih dan menangis seperti ini, Aa pun juga ikut merasa sedih dan menangis walaupun hanya dalam hati" Ucap Julian dengan lembut.


"Aa tau Neng berat melepas kepergian Ayah. Tapi Neng pun harus ikhlas melepas kepergian Ayah. Aa tau ini berat buat Neng. Tapi ada Aa, yang InsyaAllah akan menggantikan posisi Ayah untuk selalu berada di sisi Neng, menemani Neng menjaga dan menyayangi Neng" Tangis Aghnia mulai mereda seiring dengan Julian yang mengendurkan pelukan nya.


Kedua nya saling bertatapan mencoba menyelami perasaan mereka satu sama lain.


Kedua tangan Julian terulur menangkup wajah Aghnia. Dengan penuh kelembutan di hapus nya sisa air mata yang membasahi pipi Aghnia.


Hal itu pun selalu Julian lakukan ketika Aghnia menangis di waktu kecil dulu dan menggendong tubuh kecil Aghnia lalu kemudian membawa Aghnia kecil ke warung untuk memberikan gadis kecil nya itu sebuah es krim.


"Sekarang makan dulu ya. Kalau nggak mau makan di suapin pakai sendok, biar Aa suapi pakai tangan. Kalau nggak mau disuapi pakai tangan biar nanti Aa suapin pakai mulut aja" Kedua bola mata Aghnia membulat dengan sempurna dan menatap tajam Julian yang terlihat santai menyodorkan sendok berisi makanan kepada Aghnia.


"Apa mau Aa gendong terus ke warung beli es krim dulu baru Neng mau makan?" Wajah Aghnia sontak langsung merona mendengar pertanyaan Julian yang menggoda nya.


"Biar Neng makan sendiri aja" Julian menahan piring yang hendak Aghnia ambil.


"Biar Aa aja yang suapin. Kangen nyuapin Neng tau" Ucap Julian kembali menggoda Aghnia.


"Nah gitu dong senyum, kan tambah cantik, mana udah nggak ompong lagi" Ujar Julian mencubit gemas pipi kanan Aghnia seperti dulu saat gadis itu baru berusia 3 tahun.


"Ayo di makan, habis itu Neng keluar ikut pengajian Ayah yah" Aghnia mengangguk pelan lalu mulia memakan makanan yang di suapi Julian.


"Kok nggak ada selampe di baju lagi?" Tanya Julian yang kembali menggoda Aghnia.


Ya Julian mengingat kalau Pak Andi selalu mengaitkan selembar sapu tangan di baju Aghnia dengan peniti karena Aghnia mempunyai alergi terhadap debu hingga membuat selalu bersin bersin dan sapu tangan itu selalu di pakai Aghnia kecil untuk mengelap ingus nya.


"Buat apa?" Tanya Aghnia polos tak mengingat.


"Buat lap leho" Jawaban Julian membuat kedua bola mata Aghnia membulat dan menatap tajam Julian yang tengah tertawa kecil.


"Nyebelin" Gerutu Aghnia kesal dan mengerucutkan bibirnya sambil mengunyah.


"Dihabiskan ya makanan nya" Aghnia hanya mengangguk pelan lalu kembali menerima suapan yang Julian sodorkan.


"Aa" Aghnia memanggil Julian dengan pelan yang di balas Julian dengan dehaman.


"Apa Aa dan Bunda akan marah sama Neng kalau Neng menyalahkan bahkan membenci Kak Rey karena Kak Rey sudah menabrak Ayah dan membuat Ayah meninggal?"


############


Hayo Aa mau jawab apa tuh buat pertanyaan Neng nya


Jangan lupa di like, komen nya ya ...


See You Next Bab