The Journey of Love

The Journey of Love
Bab 42 Riuh



"Aa nggak marah sama Eneng, karena mungkin Eneng nggak bakal izinkan Aa bertemu Jordan apalagi kalau ada Kak Joceline?" Tanya Aghnia ragu-ragu.


"Nggak Neng. Bagi Aa Eneng adalah yang terpenting selain Bunda. Jadi apa pun yang Eneng minta selama itu baik untuk dunia akhirat serta keluarga kita, InsyaAllah Aa akan melaksanakan dan mengabulkan nya. Aa janji nggak bakal ada yang Aa sembunyikan lagi dari Eneng apa pun itu. Termasuk_"


Kedua alis Aghni mengernyit menunggu ucapan selanjutnya Julian.


"Aa membeli sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah Bunda" Ucapan lanjutan Julian sontak saja membuat Aghnia terkejut.


"Kenapa Aa beli rumah lagi?. Lalu bagaimana dengan Bunda?"


"Aa sengaja membeli rumah lagi, karena Aa ingin mandiri. Lagi pula rumah yang Aa beli tidak jauh dari rumah Bunda. InsyaAllah setelah Rey dan Meta menikah, mereka yang akan tinggal bersama dengan Bunda"


Aghnia menghela nafas pelan. Ada rasa kecewa karena Julian tidak memberitahukan perihal rumah yang baru Julian beli kepada nya.


"Aa membeli rumah itu sebagai hadiah Ulang Tahun Kamu, Sayang"


"Barakallah Fii Umrik Sayang."


Ucapan lembut Julian sontak saja membuat Aghnia terkejut, Dia bahkan melupakan kalau hari usia nya bertambah menjadi 19 tahun.


Tak dapat menyembunyikan kebahagian nya Aghnia pun memeluk tubuh Julian dengan erat.


"Terima kasih sudah menjadi istri yang sholehah, InsyaAllah bisa segera menjadi Bunda ya Sayang" Aghnia menyembunyikan wajah nya di ceruk leher kiri Julian yang membalas pelukan nya dengan erat.


"Aamiin. Makasih hadiah nya Aa" Tanpa sungkan Aghnia mengecup pipi kiri Julian dengan singkat.


"Nggak usah bilang terima kasih, Itu adalah kewajiban Aa dan juga hak Kamu" Julian membalas kecupan Aghnia dengan memberikan kecupan singkat di kening Aghnia.


"Untuk sementara Kita masih tinggal bersama Bunda. Nanti setelah Rey dan Meta menikah baru Kita akan pindah ke rumah Kita."


Aghnia hanya mengangguki ucapan Julian.


🌹


Sebulan pun berlalu, selama sebulan itu pula Meta mulai membuka diri dan menerima kenyataan kalau sejati nya Dia pun memiliki rasa yang sama seperti Rey.


Setiap hari Rey akan mengantar jemput Meta ke kampus dan bekerja di Cafe.


Meta menolak untuk bekerja di Cafe cabang yang Rey pegang. Gadis itu merasa tidak enak hati kepada Aghnia dan juga Julian karena Rey yang selalu saja mencuri kesempatan untuk selalu berada di dekat nya, sehingga terkadang menganggu kinerja Rey mengelola Cafe. Karena itulah Meta menolak ajakan Rey untuk membantu di Cafe nya.


Selain itu Meta juga memberikan alasan kepada Rey, dengan jarang nya mereka bertemu, maka akan memupuk rasa rindu satu sama lain, apalagi Meta yang masih belajar mencoba menerima Rey, karena dalam hati gadis itu masih berpikir kalau Rey masih memiliki perasaan terhadap Aghnia, walaupun berkali-kali Aghnia selalu mengatakan kalau Rey pernah mengatakan kepada nya dan juga Julian, jika sejak dulu Rey sudah menaruh hati kepada Meta.


Meta mengerucutkan bibirnya melihat dengan tatapan datar kearah tiga orang pria beda usia yang tengah riuh menyaksikan siaran final sepak bola di kejuaraan tingkat Asia Tenggara di ruang tamu keluarga.


Rey yang sejak sore tadi singgah di rumah Meta, justru lebih banyak menghabiskan waktu nya dengan Papa dan juga Mas.


Mama Tata bahkan sesekali menggoda Meta dengan melontarkan ejekan kecil hingga membuat Meta semakin meradang, melihat Rey yang terkesan mengabaikan nya sejak datang le rumah nya.


"Hehehe, muka nya biasa aja Non!" Mama Tata mengusap lembut wajah Meta saat akan melintasi anak gadis nya yang tengah merengut melihat Rey, Papa dan Mas nya sibuk saling berteriak sambil sesekali melontarkan ejekan kepada tim lawan yang hanya mampu mereka komentar saat membawakan camilan bagi para suporter Timnas ke ruang keluarga.


"Parah wasit nya!"


"Udeh priwit panjang kok masih lanjut main!"


"Wah rusuh Pa, Mas!"


"Wah parah tuh, kenapa jadi kaya nonton Tarkam?"


"Wah kualat tuh, orang tua di gebukin!"


"Kok belum kelar juga Pa?" Mama Tata bertanya seraya mendudukkan tubuh nya di sofa panjang. Sementara Rey dan Mas Reza duduk anteng di lantai yang beralaskan karpet seraya menselonjorkan kaki nya.


"Istirahat dulu Mah, perpanjangan waktu 2x15 menit Mah" Papa menyahuti pertanyaan Mama seraya menyeruput teh hijau yang di sodorkan Mama Tata.


"Woy tuyul, mau kemana Kamu?" Tanya Mas Reza saat melihat Meta melintas seraya mengenakan jaket bomber yang biasa di pakai gadis itu saat akan keluar rumah malam hari mengendarai motor nya.


"Kepo!" Jawab Meta santai lalu mencium punggung tangan kedua orang tua nya seraya pamit keluar rumah sebentar.


"Udah malam mau kemana?" Tanya Rey yang beranjak dari duduk nya dan menghampiri Meta yang tengah memasang wajah kesal nya.


"Kepo!" Jawaban asal Meta membuat Mama Taya menghadiahkan putri bungsu nya itu pukulan kecil di lengan kiri.


"Ish Mama mah kebiasaan!" Meta merenggut karena ulah Mama nya.


"Lagian Kamu ditanya malah jawab nya ketika begitu!" Ujar Mama Tata.


"Ish. Iya mau ke depan Mas Rey" Ucap Meta dengan nada lembut terpaksa.


"Mas antar" Rey bergegas mengambil jaket nya guna mengantar Meta.


"Nggak usah. Mas Rey nonton aja. Kan dari tadi juga nonton aja!" Rey menggaruk belakang leher nya yang tak gatal, sementara Mama, Papa dan Mas Reza tengah mengulum senyuman mereka mendengar ucapan manis Meta yang menyindir Rey.


"Iya Rey, biarin aja Meta keluar, biasanya juga nggak ada yang anter. Palingan juga Dia kangen sama si Juna" Kedua alis Rey mengernyit mendengar ucapan Mas Reza.


"Idih. Mas emang paling the best. Tau aja ade kesayangan nya mau kemana" Kali ini Mas Reza, Mama dan Papa mengulum senyuman nya saat melihat wajah suram Rey ketika mendengar Meta mengiyakan ucapan Mas Reza yang akan bertemu dengan Juna.


"Meta berangkat ya Pa, Ma, Duo Mas" Meta pun segera beranjak meninggalkan ruang tamu mengabaikan tatapan tajam Rey yang seolah melarang Meta keluar rumah bertemu dengan Juna.


"Titip salam buat Juna Dek." Ucapan Mas Reza yang langsung di iyakan Meta membuat Rey pun merandang.


"Mau kemana Rey?. Pertandingan udah mulai tuh!" Ujar Mas Reza berucap seraya menahan Rey yang seperti nya akan mengantar Meta keluar rumah.


"Anter Meta mau ketemu Juna Mas!"


"Pa, Ma, Rey antar Meta dulu ya!"


Tawa Papa, Mama dan Mas Reza langsung pecah setelah Rey pamit menyusul Meta dengan setengah berlari, apalagi saat terdengar bunyi motor matic Meta yang di sertai teriakan Rey meminta Meta menunggu nya.


"Ck, dasar bucin!" Gumam Mas Reza.


"Ck, dasar jomblo!" Balas Mama dan Papa yang membuat bibir Mas Reza pun mengerucut namun hal itu justru di tertawai oleh kedua orang tua nya.


"Maka nya cari jodoh!" Seloroh Mama.


"Nanti juga dapat Ma" Balas Mas Reza.


"Dapat janda plus anak 1?" Ujar Papa yang mengingat kriteria yang selalu Mas Reza sampaikan saat Mama Tata menjodohkan nya dengan beberapa anak teman arisan juga pengajian nya.


"Nah itu Papa tau kriteria yang Reza maksud!" Mas Reza pun mengiyakan ucapan Papa nya, padahal semua kriteria yang Reza maksud itu hanya bualan nya saja, karena malas di jodohkan oleh sang Mama.


"Mama doa nya apa yang Kamu ucapkan jadi kenyataan!"


"Aamiin!"


Doa sang Mama yang di Aamin kan sang Papa membuat Mas Reza menelan saliva nya perlahan-lahan.