The Journey of Love

The Journey of Love
Bab 41 Debat Keluarga



"Hey Nona. Kurang berusaha apalagi calon menantu Mama buat dapetin Kamu. Kamu pikir gampang deketin Papa juga Mas Kamu buat dapat izin nikahin Kamu?"


"Pokok nya Mama mau jodohin Rey sama Mega TITIK!"


Mama Tata semakin bersemangat mengorek isi perasaan putri nya tentang Rey. Bahkan Doa dengan sengaja dan diam-diam merekam perdebatan nya dengan Meta sebagai bukti kalau Meta nanti mengelak perihal perasaan terhadap Rey.


"Ya ampun Mama, kok tega banget sih sama anak nya. Lebih milih anak nya jadi jomblo karena ngasih jodoh ke orang lain?"


"Hey Nona. Siapa yang ngasih jodoh keorang lain?. Mama hanya mengalihkan karena Mama nggak mau kalau Rey jadi menantu keluarga lain!".


" Ya tapi kan nggak harus Mama alihkan ke Kak Mega!"


"Idih, kan Kamu udah nolak lamaran Rey. Kenapa juga Kamu harus keberatan kalau Mama mau jodohkan Rey kepada Mega. Lagi pula Mega kan masih keponakan Mama."


"Kak Rey bukan barang yang bisa Mama alihkan begitu aja!"


"Ish malah jadi debat keluarga!" Gerutu Dokter Adelia.


"Hey yang kalian debatkan itu anak Aku lho. Kenapa kalian berdua saja yang debat dari tadi?"


Aghnia dan Bu Laras hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat perdebatan keluarga Meta membahas Rey.


"Tante. Bilang sama Mama supaya nggak jodohin Kak Rey sama Kak Mega!" Pinta Meta mengiba kepada Dokter Adelia.


"Lho kenapa?. Rey baik, sopan dan pasti nya sayang sama keluarga nya. cocok dong buat jadi menantu Tante" Jawab Dokter Adelia santai.


"Nggak boleh. Kak Rey cuma boleh sama Meta nggak boleh sama yang lain walaupun itu Kak Mega!" Ucap Meta lantang.


"Nggak malu kamu udah nolak Rey, sekarang malah bilang Rey cuma boleh sama Kamu!" Jawab Mama Tata sengit.


"Nggak ngapain malu. Lagi pula Aku kan belum menolak lamaran Kak Rey!" Ucap Meta tak kalah sengit.


Mama Tata mengulum senyuman kecil karena ucapan Meta.


"Udah buruan balik. Papa sama Mas Kamu udah nungguin." Ucap Mama Tata menarik tangan Meta.


"Astaghfirullahalazim. Mama udah kaya bawa anak kambing tau nggak!" Protes Meta.


"Nggak usah banyak protes Kamu!" Mama Tata mencubit gemas pipi putri kesayangan itu.


"Sakit Mama" Rengek Meta.


" Bu Laras Saya pamit duluan ya. Mau natar calon menantu Bu Laras dulu!" Ucap Mama Tata pamit kepada Bu Laras.


"Bunda, Meta pulang dulu ya" Meta pun mencium punggung tangan kanan Bunda Laras dengan takzim.


"Delia, Mbak pamit dulu. Makasih ya udah nampung anak Mbak ini" Dokter Adelia mencium punggung tangan kanan Mama Tata disertai tawa kecil melihat Meta yang tengah menekuk wajah nya.


"Tante, Meta pamit pulang. Ingat jangan mau jodohin Kak Mega sama Kak Rey. Karena Kak Rey cuma buat Meta!" Ucap Meta yang lalu mencium punggung tangan Dokter Adelia.


"Nggak janji!" Balas ucap Dokter Adelia menggoda Meta, membuat Meta mengerucutkan bibirnya.


"Nia, Mama pulang dulu." Aghnia mencium punggung tangan Mama Tata dan menganggukan kepala nya.


"Nia, Aku duluan." Pamit Meta kepada Aghnia yang di angguki oleh Aghnia dan kemudian keduanya pun saling berpelukan.


Bu Laras menganggukan kepala nya, dan Aghnia pun bergegas masuk kedalam klinik menuju kamar inap nya guna merapikan barang-barang nya.


Tok Tok Tok


Pintu kamar ruang Aghnia terketuk saat wanita itu tengah memasukkan buku nya kedalam tas ransel.


"Masuk aja, nggak di kunci" Jawab Aghnia dari dalam kamar.


Ceklek


Pintu kamar inap Aghnia pun terbuka.


"Neng"


Aghnia menghentikan gerakan nya memasukkan buku kedalam tas ransel nya saat mendengar suara Julian.


"Sebentar lagi selesai" Aghnia tak menjawab panggilan Julian dan kembali melanjutkan memasukkan buku kedalam tas ransel nya.


Julian hanya bisa terdiam menatap punggung Aghnia. Pria itu tak berani melangkah mendekati Aghnia karena takut Aghnia masih belum bisa menerima kehadiran nya.


Tubuh Julian bergetar menahan tangis saat hanya bisa menatap tubuh bagian belakang Aghnia, padahal sejati nya Dia sangat ingin memeluk tubuh Aghnia yang selama seminggu ini sangat di rindukan nya.


Aghnia menghentikan gerakan nya saat terdengar pelan suara tangisan kecil Julian dari balik badan nya.


Sebenarnya tak hanya Julian yang merasakan sesak karena hanya bisa melihat Aghnia dari belakang. Aghnia pun merasakan hal yang sama seperti yang Julian rasakan saat. Merindukan pasangan halal nya namun hanya bisa melihat nya tanpa bisa menjamah nya.


Aghnia membalikkan tubuh nya, di dapati nya Julian tengah berdiri di tengah pintu kamar inap Aghnia sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Dada Aghnia terasa sesak saat melihat penampilan Julian yang sangat jauh berbeda. Tubuh nya terlihat sedikit kurus dengan rambut yang tampak berantakan dan tampak kelelahan di wajah nya.


Dengan perlahan-lahan Aghnia melangkahkan kaki nya menghampiri Julian yang masih menahan tangis nya hingga membuat tubuh Julian bergetar.


"Aa" Aghnia memanggil Julian dengan sangat lembut, namun hal itu justru membuat tangis tertahan Julian semakin terdengar lirih.


"Hey. Aa jangan nangis" Aghnia segera memeluk tubuh Julian saat tubuh Julian semakin bergetar menahan tangis nya.


"Maafin Aa Neng. Aa salah." Julian memeluk erat tubuh Aghnia. Aghnia pun membalas pelukan Julian tak kalah erat.


"Demi Allah, Aa hanya menemui Jordan saja, nggak lebih. Nggak ada niat Aa sedikit pun untuk mengkhianati Neng. Aa salah karena pergi menemui Jordan tanpa izin kepada Neng. Aa minta maaf karena nggak jujur sama Eneng, sampai Neng harus melihat sendiri kalau Aa bertemu Jordan. Tapi Neng, Aa nggak ngapa-ngapain disana" Tutur Julian panjang.


"Tolong maafin Aa Neng. Tolong jangan tinggalin Aa kaya gini lagi Neng. Tolong" Rintih Julian yang lalu melerai pelukan nya kepada Aghnia.


"Neng juga minta maaf, karena sudah mengabaikan Aa" Julian mengecup lembut kening Aghnia dan kemudian kembali memeluk tubuh Aghnia dengan erat.


"Neng mau kan memaafkan Aa?." Aghnia menganggukan kepala nya pelan.


"Terima kasih Neng. Aa sangat merindukan Neng" Julian kembali mengecupi kening Aghnia dengan lembut.


"Kita pulang ya. Aa kangen banget sama Eneng" Pinta Julian yang di angguki oleh Aghnia.


"Aa nggak marah sama Eneng, karena mungkin Eneng nggak bakal izinkan Aa bertemu Jordan apalagi kalau ada Kak Joceline?" Tanya Aghnia ragu-ragu.


"Nggak Neng. Bagi Aa Eneng adalah yang terpenting selain Bunda. Jadi apa pun yang Eneng minta selama itu baik untuk dunia akhirat serta keluarga kita, InsyaAllah Aa akan melaksanakan dan mengabulkan nya. Aa janji nggak bakal ada yang Aa sembunyikan lagi dari Eneng apa pun itu. Termasuk_"