The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Bujukan."



Pria tampan dengan kumis dan jangut tipis, mengaruk kepalanya begitu khawatir akan berita dari orang suruhannya untuk mengawasi gadis yang ia cintai, ia baru saja mendapat kabar jika gadisnya akan di jodohkan dengan salah satu rekan bisnis dari Ayah gadis itu.


Suara ketukan pintu ruangan kerjanya membuat pria itu tiba-tiba memasang wajah datar.


Seorang perempuan berpakain sexy berjalan masuk kedalam menghampiri meja kerjanya. Lelaki itu hanya menopang wajahnya menggunakan kedua tangannya yang saling di satukan.


"Tuan Mikel, saya membawakan sebuah surat untuk Anda, tapi saya tidak tau pengirimnya karena tidak ada nama maupun alamat dari orang itu hanya supucuk surat dan seorang dari post yang memberikannya kepada saya." Ucap Julia sekretarisnya, Mikel menganggukan kepala dengan begitu malas.


"Letakan saja, kau sebaiknya keluar jangan mengangguku." Sahut Mikel dengan malas, ia melambaikan tangannya menyuruh sekretarisnya untuk pergi dari sana.


"Anda kenapa Tuan? Apa Tuan Mikel sedang sakit?" tanya Julian namun Mikel tidak menjawab pertanyaannya sama sekali.


Julia mengeyir namun tidak menuruti perintah dari bosnya tersebut, ia malah menyelipkan rambutnya kembali mendekati Mikel dengan gaya berjalan seorang gadis pengoda.


"Apa Tuan butuh kehangatan dan hiburan ... kenapa wajahmu terlihat sedang kesal. Apa Tuan Mikel marah kepadaku?" tanyannya menderu, ia sudah duduk di pangkuan Mikel sudah bukan rahasia lagi jika ia dan bosnya memiliki sebuah hubungan. Mikel tidak menjawab atau melakukan apa-apa ia hanya diam menatap Julia yang bergerak di pangkuannya.


"Tuan saya akan melayanimu, saya tau jika Anda membutuhkan seseorang ...." ucap Julia berbisik, ia mendekatkan bibirnya hendak berciuman dengan bosnya itu, Julia menarik sebuah senyuman miring kali ini ia harus hamil agar Mikel mau bertanggung jawab jika kelak dirinya hamil anak Bosnya tersebut.


Jangan salahkan keogisan Julia karena dirinya sudah sejak lama mencintai Bosnya itu salama bertahun-tahun bahkan selalu merelakan tubuhnya untuk lelaki walau hanya sebagai pelampiasan, Julia benar-benar tidak peduli selain rasa cintanya, Julia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan saudaranya yang sudah sejak lama terbaring lemah di dalam rumah sakit dan membutuhkan perawatan yang biayanya tidak sedikit.


Mikel hanya menatap Julia tanpa melakukan apa-apa dan benar kata wanita itu saat ini dirinya butuh seseorang untuk melampiaskan rasa kekesalannya. Ciuman yang di awali oleh Julia kini sudah di ambil alih oleh Mikel dengan liar pria itu menjamah tubuh Julia.


"Ingat kau sendiri yang kali ini mengodaku Julia ... jangan coba-coba berhenti terlebih dahulu." Bisik Mikel di sela-sela ciuman mereka. Kini keduanya sudah menikmati waktu di dalam kantor, entah sudah berapa kali Julia mencoba menyeimbangi permainan pria itu namun tubuhnya tidak kuat.


***


Larenia menghempaskan tangan Navier kala keduanya sudah berada di luar.


"Apa yang kau inginkan! Aku tidak akan pernah mau menikah dengan lelaki sombong seperti dirimu, jangan harap." Larenia mengawali permbicaraan dan langsung pada intinya yaitu menolak perjodohannya dengan Navier. Navier menatap sesaat Larenia lalu segera menundukkan pandangannya ia tidak akan tahan ingin memuji perempuan itu.


"Nona Larenia, aku minta maaf sebelumnya ... yang terjadi di club sebenarnya ..." Navier membungkuk meminta maaf atas sikapnya saat itu yang mengabaikan Larenia.


"Hum, kau pasti meminta maaf karena di suruh Ayahmu bukan, Hei Tuan Navier, kau tau aku tidak peduli, kau sebaiknya mati saja! Sekarang di tangannku ... sampai kapan.pun aku tidak akan mau melanjutkan niat dari Ayahku yang ingin menjodohkanku dengan pria seperti dirimu, lemah dan tidak berguna." Ucap Larenia santai namun terdengar mengolok-ngolok harga diri Navier, lelaki itu hanya tertunduk karena ucapan dari Larenia memang benar adanya, selama ini dirinya tidak berguna dan hanya bergantung kepada Ayah angkatnya itu.


"Maafkan sikap saya Nona, tapi sebaiknya Nona tidak menolak perjodohan ini."


"Kenapa kau mengajariku? Memang siapa kau!" bentak Larenia, ia menarik kerah baju Navier sehingga jarak di antara keduanya hanya tersisa dua senti meter.


"Tutup mulut mu itu, kau bukan siapa-siapa bagiku dan hanya lelaki penakut."


"Saya tidak penakut Nona, hanya saja saya menghormati seorang perempuan dan tidak bisa menyakiti siapapun karena saya tidak bisa, mohon Nona lepaskan baju saya dan kita bicara baik-baik mengenai perjodohan kita Nona."Β  Ucap Navier, lelaki itu menatap lemas Larenia yang masih menarik kerah bajunya dengan keras.


"Kita bicara seperti ini saja, kau jangan mengatur-ngaturku bodoh." Tolaknya, Navier menelan air ludahnya setiap perkataan kasar yang keluar dari mulut Larenia menurutnya sangat manis dan ingin sekali lelaki itu menberi ciuman untuknya.


Navier memperhatikan bibir merah gadis itu, ia benar-benar di buat jatuh hati akan kecantikan perempuan yang selama beberapa minggu ini menganggu pikirannya.


"Nona ayo kita menikah, saya akan membuat Nona Larenia bahagia dan tidak kekuarangan cinta sekalipun, Nona percaya pada cinta pandangan pertama? Saya telah jatuh hati kepada Nona, ingat saat pertama kali bertemu ... saat itu saya bukan mencoba mengabaikan Nona tapi saya hanya tidak bisa berbuat apa-apa saat Nona mau berkenalan dengan saya, saat saya gugup Nona." Ucap Navier penuh harap.


"Aku tidak mau." Tolak Larenia tetap pada keputusannya, ia lalu mendorong Navier dengan keras, Larenia bisa membaca raut wajah Navier.


"Kau sungguh kurang ajar, jangan coba-coba berpikiran yang tidak-tidak kepadaku dengan pandangan kurang ajarmu itu." Cetusnya begitu kesal, setelah mengetakan itu Larenia pergi meninggalkan Navier namun dengan belum sampai di depan pintu tiba-tiba Navier menarik tangannya dan mencium keningnya secara tiba-tiba.


Larenia masih.tertegun akan tindakan tiba-tiba dari Navier, ini untuk pertama kalinya ia mendapat ciuman dari seorang lelakiu sealin dari Ayah dan Leo. Detak jantung Lareni tiba-tiba berdetak sangat cepat ia sendiri tidak menyadari jika saat itu kedua pipinya merah merona. Navier sesaat melepaskan ciumannya lalu menatap Larenia dengan wajah yang sangat seduh seakan dirinya terlihat kasihan.


"Maafkan ... Aku tidak sengaja ...." ucap Navier terdengar lirih, ia tidak menyesal telah memberikan ciuman di kening gadis itu dirinya justru merasa sangat senang dan hatinya melayang Larenia merasakan subuah perubahan dalam hatinya yang secara tiba-tiba.


"Apa yang terjadi kepadaku? Kenapa aku tidak merasa kesal dengannya yang sudah lancang menciumku?" batin Larenia, tanpa sadar tangannya tiba-tiba memeraba keningnya yang baru saja di cium oleh Navier.


"Ayo kita masuk dan katakan kepada mereka jika kita setuju dengan perjodohan ini." Ajak Navier dengan tersenyum ia menggenggam jari tangan Larenia yang mematung setelah ia mencium kening gadis itu, tidak ada penolakan dengan mudahnya Navier berjalan berdampingan dengan Larenia, hingga mereka berdua akhirnya masuk kedalam rumah mewah itu kembali.


Larenia tidak menyadari dirinya, kali ini ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Mereka berdua duduk berdampingan berhadapan dengan Louis, Zenia dan juga beberapa orang yang berada di sana. Dengan penuh keyakinan Navier mengatakan jika ia dan Larenia sudah menyetujui dan bisa menerima satu sama lain dengan cepat.


.


.


.


.


.