
Louis di perusahaan tidak tau apa-apa mengenai kejadian yang menimpa anaknya yang paling ia cintai, namun walau begitu seperti kata pepatah jika darah lebih kental dari pada air, Louis merasa ada hal yang terjadi kepada putrinya itu, entah kenapa perasaannya sangat gelisah dari beberapa jam yang lalu. Sekarang sudah sore, ia akan mengajak Larenia untuk pulang bersama dengannya, sebelum itu ia sudah menyuruh Anton untuk ke meja kerja Larenia.
Louis merapikan penampilannya, ia harus tetap tampan walau usianya sudah tidak bisa di katakan muda lagi, setelahnya ia keluar dari ruangannya dengan Valen membawa tas kerjanya menuju mobil.
"Saya letakkan ini di mana Tuan?" tanya Valen kala mereka sudah berada di depan mobil Louis.
"Kesini, kau pergilah." Sahut Louis singkat, ia tidak suka cara berpakaian salah satu asistennya ini, sangat tidak pantas, Larenia bahkan waktu itu menatap Valen dengan jijik.
"Saya permisi Tuan Louis." Kata Valen terlihat ia mencari perhatian dari Louis.
Namun Louis mengabaikan Valen ia tidak suka menanggapi orang penjilat seperti Valen itu, Louis membuka pintu mobil pria itu mengambil ponselnya dan membuka galeri di penuhi oleh anak-anak dan istrinya.
Tidak lama kemudian Anton mendatangi Louis di dalam mobil dengan napas yang terengah-engah.
"Tuan, Nona muda sepertinya pulang lebih awal hari ini, saya mendengar dari beberapa pegawai tadi jika Nona muda membuat masalah di sini dan ...." Anton mengantung ucapanya, ia tidak siap dengan reaksi Louis jika mengetahui kalau Larenia di tampar oleh seorang pegawai baru. Hingga Larenia pergi dengan seorang pria yang berusia sama seperti Louis dan Anton sangat yakin jika orang itu adalah Juan.
"Dan apa?"
“Lebih baik aku menyembunyikan hal ini dari Tuan Loius." guman Anton membantin, ia akan mencari alasan yang saja.
"Itu ...."
"Ayo katakan! Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Louis
Tiba-tiba ponsel Louis berbunyi, hingga Anton menghela napas lega. Louis menerima telepon dari Zenia yang menyuruhnya untuk cepat pulang.
"Pulang sekarang, istriku mencariku." Perintah Louis segara di laksanakan oleh Anton.
***
"Sayang ponselmu berbunyi." kita Navier memakai kembali pakaiannya yang terlepas gara-gara Larenia yang tiada henti menggoda hingga jiwa lelakinya bangkit. Siapa yang akan tahan dengan godaan istrinya sendiri.
"Tolong angkat panggilannya, aku masih mau tidur, kepalaku benar-benar pusing." sahut Larenia masih berbaring di atas sofa dengan kondisi pakaian yang berantakan namun tidak sampai terlepas.
"Baik ... tidurlah kembali sayang, aku minta maaf telah membuatmu lelah." Navier mengelus kepala Larenia lalu mencium kening istrinya dengan sayang.
Larenia tidak menyahut, ia memperbaiki posisinya dan kembali tidur nyenyak mengingat ia harus pergi malam ini bersama dengan Robby untuk menyerang Coors Wex hampir saja ia melupakan hari ini.
Navier meraih ponsel milik istrinya dan melihat nama yang tertera di sana. ‘Robby’ ia berguman pelan, Navier mencoba mengingat-ngingat anggota keluarga Larenia yang bernama Robby namun tidak ada. Sejauh ini ia hanya mengetahui jika istrinya itu sangat jarang mau dekat dengan lelaki asing selain keluarganya. Lalu siapakah Robby itu? Batin Navier bertanya-tanya.
"Larenia, siapa pria yang bernama Robby ini? Apa dia salah satu sepupumu? Atau ...."
"Atau apa? Kalau kau tidak mau mengangkatnya matikan saja, orang itu terus menghubungiku dari kemarin." Larenia seketika bangkit, ia tidak jadi istirahat walau merasa lelah dan sedikit pusing Larenia mengambil ponsel itu dari tangan Navier dan mematikannya.
"Selalu menganggu saja."
"Apa kau masih mempunyai kesibukan di sini kalau tidak kita pulang." Lanjut Larenia ia menoleh kearah Navier yang menatapnya dengan tatapan terluka.
"Navier." Lirih Larenia, ada apa dengan suaminya itu.
"Navier apa kau tidak mendengarku." Seru Larenia mengerutkan kening, Larenia meraih lengan Navier lalu menatapnya penuh dengan tanda tanya.
"Iya sayang, ada apa? Apa kau kau katakan tadi?"
"Hah, ya sudahlah ternyata kau memang tidak mendengarku."
"Kau mau pulang?" tanya Navier mencobat erseyum, yang penting Larenia kini sudah menjadi miliknya walau hatinya tidak_ bukan tidak namun belum, dan segera Navier akan mewujudkan hal itu.
Larenia hanya butuh sedikit saja perhatian lebih dan ia akan berusaha keras bukan tidak mungkin hati Larenia akan segera terbuka untukknya apalagi di tambah kehadiran anak di antara mereka kelak.
Larenia mengangguk, ia sudah berdiri dan merapikan pakaiannya yang berantakan dan terkesiap kemana-mana. Navier memeluk Larenia dari belakang dan cium pipi wanitanya.
"Aku mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku." bisik Navier di telingan Larenia, sudah sekian kalinya Navier mengakatan hal yang sama, apa lelaki itu tidak lelah dengan ucapannya yang sama.
"Semoga kita bisa seperti ini terus hingga maut memisahkan sayang, aku pernah kehilangan dan untuk kedua kalinya aku tidak mau kehilangan lagi, dengan kehadiranmu dan Ayah Effendy bisa mengubah semua kehidupanku secara instan."
Larenia tidak membalas apapun, perasaannya sendiri kepada suami hatinya masih sangat bimbang. Larenia memejamkan matanya membiarkan Navier memeluk tubuhnya dan menikmati dekapan itu yang sangat hangat dan nyaman.
Memang sering di peluk oleh ayah ataupun saudaranya, namun pelukan Navier sangat berbeda, entah kenapa Larenia merasakan perbedaan itu.
"Bisakah aku ketuk pintu hatimu sayang dan mengisinya dengan cinta dan kasih sayangku untukmu." guman Navier pelan walau begitu Larenia bisa mendengarnya. Tanpa sadar Larenia mengangguk dan membalikkan tubuhnya menghadap sang suami dan membalas pelukannya itu.
.
.
.