
Navier tertidur lelap di atas kasur tanpa mengganti pakaiannya, lelaki itu terlihat sangat lelah setelah acara pernikahannya selesai.
Larenia yang baru keluar dari kamar mandi sudah berganti pakaian, tetesan air dari rambutnya yang masih basa tanpa sengaja mengenai wajah Naiver yang tertidur lelap, seketika lelaki itu menyengirkan kening terpaksa ia membuka matanya yang masih terasa berat.
"Air dari mana ini." Guman Navier, ia mengusap wajahnya yang yang terkena air.
Lelaki itu menghela napas sesaat dirinya benar-benar sangat lelah, namun saat melihat istrinya yang begitu cantik seketika Navier bangun dari tempat dan beranjak mendekati istrinya itu.
"Kau sangat cantik malam ini sayang." goda Navier tiba-tiba memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Larenia terjingkat suaminya itu tiba-tiba saja memeluk tubuhnya.
"Lepaskan aku." pinta Larenia
"Tidak."
"Kau! Kuminta cepat lepaskan!" perintah Larenia.
Navier tidak mengubris perintah istrinya, ia malah membalikkan tubuh gadis itu hingga kini keduanya saling berhadapan.
"Kau sangat cantik, aku sangat menyukainya." ucap Navier mengusap wajah istrinya dengan begitu lembut, tatapan mata lelaki itu teralihkan dengan bibir merah Larenia yang terlihat sangat menggoda.
Navier dengan berani langsung mencium bibir istrinya, mulanya Larenia melawan namun beberapa saat kemudian ia ikut membalas ciuman suaminya, Navier menarik sebuah senyuman di sudut bibirnya, entah kenapa ia sangat senang hanya dengan posisi seperti ini dengan istrinya.
Secara perlahan Navier menuntun tubuh Larenia menuju kasur dan tanpa sadar pakaian keduanya sudah terlepas entah sejak kapan, Larenia tidak bisa menolak sentuhan dari lelaki itu, tubuhnya sendiri tidak mengikuti jalan pikiran dan malah membiarkan lelaki yang baru saja ia nikahi itu menjamah tubuhnya begitu saja, bahkan ia mengeluh merasa geli saat ciuman Navier berpindah ke leher lalu ke telinganya.
Kalam kabut, Hati dan otak Larenia tidak sejalan. Gadis itu sangat ingin mendorong tubuh Navier yang berada di atasnya tengah mencumbu seluruh tubuhnya, namun di sisi lain ia menikmati sentuhan itu, Larenia menggigit bibirnya tak kala ia menyadari jika ia dan suaminya sudah tidak mengenakan pakaian sama sekali.
"Hen-tik-an kumohon." ucap Larenia terbatah-batah, ia sudah di selimuti gairah di sekujur tubuhnya mendambakan sentuhan yang lebih.
"Maafkan aku sayang ... kau boleh menghukumku setelah ini." jawab Navier di sela-sela kesibukannya, Hal pertama yang ia lakukan adalah membiarkan istrinya menikmati permainannya sebelum ia melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami.
Larenia menatap kedua mata Navier, ia sudah tidak peduli lagi gairah sudah menyelimuti seluruh tubuhnya, ia dengan cepat menarik Navier dan minta kepada suaminya itu untuk melakukan tugasnya.
"Baiklah sayang."
Navier segera menindih tubuh istrinya, dengan sedikit kesulitan ia karena ini pertama kalinya untuk dirinya maupun Larenia sendiri. Beberapa menit berlalu lelaki itu memejamkan matanya ia dan istri cantiknya akhirnya sudah saling melengkapi satu sama lain, malam yang panjang menunggu keduanya, Navier sangat bersyukur karena ia tidak mendapat penolakan dari gadis cantik yang menjadi istrinya.
***
Di tempat lain, Zenia Louis dan kedua anak-anaknya berada di rumah sembari membicarakan tentang pernikahan Larenia dan Navier yang akhirnya selesai, wajah lega dari Louis dan Zenia tampak terlihat, kedua pasangan suami istri sudah melepas tanggung jawab putri kesayangan mereka.
"Honey, sepertinya Larenia kita kini sedang sibuk dengan suaminya di atas ranjang." ucap Louis di sela-sela obrolan mereka.
"Diamlah, anak-anak masih ada di sini." tegur Zenia mencubit pelan lengan suaminya. Zenia berpikir jika suaminya ini sangat tidak tau malu walau usianya sudah mulai menua.
"Hum ... aku cuma mengatakan kenyataan, bukannya kita juga pernah merasakannya Honey." ujar Louis lagi, Zenia memejamkan mata lalu menatap geram suaminya itu.
"Diamlah, kau tidak tau malu sekali."
"Honey, duduk di sini. Sepertinya kita harus menikah lagi." kata Louis. Zenia menolak, wanita itu memilih berdiri dari tempat duduknya dan mengajak kedua anak-anaknya untuk pergi dari sana meninggalkan Louis yang terus saja mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak masuk kedalaman topik pembicaraan mereka.
"Kalian mau kemana?" tanya Louis.
"Dad kami mau tidur bertiga, Daddy malam ini tidur sendiri, selamat malam Dad." sahut Lyra mantap Ayahnya dengan wajah meledeknya.
Louis terjingkat langsung berdiri dari sofa, ia segera mengejar dan menghentikan langkah ketiganya.
"Honey ... ayo kita ke kamar kita, jangan tidur bersama mereka. Ayo Honey." ajak Louis. Zenia menatap sinis suaminya itu dengan wajah yang datar ia menarik tangan anak-anak melewati Louis begitu saja tanpa mengeluarkan perkataan.
"Uhh ... Daddy di cuekin." ejek Leo kepada Ayahnya, pemuda itu tersenyum miring sebelum ia melanjutkan langkahnya dengan Ibu dan adiknya.
Louis mengaruk kepalanya bingung sendiri, ia tidak bisa tidur jika tidak bersama dengan istrinya. Saat ini Zenia malah mengabaikan dirinya sungguh pria itu tidak sanggup.
"Honey ...." panggil Louis tidak menyerah, ia kembali mengekor di belakang istri dan anak-anaknya.
"Daddy, pergilah ke kamar Daddy sendirian jangan mengikuti kami." ujar Leo kepada Ayahnya, sebelum ia membuka kamar Larenia karena Leo memiliki kunci cadangan kamar Kakaknya itu.
"Leo! Lyra kalian pergi kekamar kalian jangan ...."
"Jangan apa? Kau mau memarahi anakku." seru Zenia.
"Honey, aku tidak marah kepada anak-anak kita, Honey ayo kembali kekamar kita, aku tidak bisa tidur jika tanpa dirimu." ujar Louis bertingkah seperti anak kecil.
Zenia tetap mengabaikannya, Louis merasa kesal dan kecewa. Pria itu memilih mengalah dan memutar balik tubuhnya ke arah kamarnya yang tidak jauh dari kamar putrinya.
***
Keesokan harinya, Navier membuka matanya perlahan mengerjap berkali-kali, ia tersenyum saat melihat sosok gadis berada di pelukannya. Ia mengangkat tangannya mengusap wajah cantik istrinya.
Navier merasa lengkap saat ada Larenia bersamanya seperti sekarang, ia bertekat akan membahagiakan istrinya itu untuk selamanya dan tidak akan pernah membuat Larenia tidak nyaman bersamanya.
Puas memandang wajah Larenia, Navier memberikan kecupan selamat pagi pada kening istrinya itu dengan sangat dalam. Lelaki itu memejamkan mata darahnya berdesir saat mengecup kening istrinya.
"Aku menyayangimu sayang, terima kasih." ucap Navier begitu bahagia. Ia memeluk istrinya begitu erat sehingga membuat Larenia yang masih terlelap langsung membuka mata.
Gadis itu merasakan sesak saat ia di peluk erat oleh Navier, entah sadar atau tidak Larenia tiba-tiba mendorong keras dada suaminya sehingga pelukan Navier terlepas.
"Apa yang kau lakukan." ucapnya dengan raut wajah kesal bercampur malu.
"Sayang, kau sudah bangun."
"Kau lagi, apa yang kau lakukan kepadaku semalam! Hah!" kata Larenia membentak Navier lalu menarik selimut menutupi tubuh polosnya yang penuh dengan bekas Navier.
"Sayang, tentu kita melakukan hal yang menyenangkan. Kau jangan marah kita sudah sah."
"Cukup! Jangan lanjutkan perkataanmu, Aku membencimu! Keluar dari sini!" usir Larenia, namun Navier tidak mau menuruti perintah dari istrinya, ia hanya terdiam di sana tanpa bergerak sedikitpun.
"Keluar! Pergi dari hadapanku lelaki sialan!"
.
.
.
.
.