
Sepulang dari rumah Effendy, Larenia dan suaminya bencana untuk pulang bersama ke rumah Ayahnya, karena semua barang-barang Larenia masih berada di sana semua, gadis itu berencana akan pamit hari ini.
Keadaan yang sama seperti sebelumnya, tidak ada percakapan di antara mereka berdua, Larenia memilih menatap kearah jendela menikmati pemandangan jalan raya yang cukup rame dengan lalu lalang kendaraan.
Sedangkan Navier fokus akan kemudinya, sesekali ia melirik kearah istrinya dan begitu mengingat pengakuan mengejutkan dari Larenia tadi saat di rumah Effendy membuat lelaki itu lebih banyak terdiam, rasanya semakin sulit untuk mendapatkan hati istrinya sendiri.
Perjalanan yang hampir satu jam tanpa obrolan, mungkin suasananya akan sepi hanya ada suara mesin mobil itupun suaranya sangatlah halus, Navier merasa tersiksa dengan keadaan yang seperti ini, lelaki itu terkadang meraih tangan istrinya namun sebuah penolakan yang ia dapatkan.
***
Tidak lama berselang mobil itu berhenti di rumah mewah milik orang tua Larenia, gadis itu melangkah cepat masuk kedalam rumahnya dan langsung menemui Ayahnya yang tengah menikmati kopi di ruang keluarga, Navier hanya mengikuti Larenia dan duduk di bersama dengan yang yang lain.
Keduanya di sambut begitu hangat, Louis yang penasaran langsung bertanya tentang bagaimana keadaan putri dan menantunya saat menghabiskan waktu bersama.
"Sayang, bagaimana apa kalian sudah ...." ucap Louis dengan wajah penasaran.
"Sudah apa Dad?" tanya Larenia tidak mengerti maksud perkataan dari Ayahnya.
"Itu, apa kalian sudah menghabiskan waktu bersama semalam? Bagaimana rasanya coba katakan kepada Daddy." ujar Louis, Larenia dan Navier tidak menyahut karena persoalan seperti ini adalah privasi mereka berdua.
Leo yang mendekati ketiganya langsung menyahut walau tidak tau apa yang ayahnya tanyakan.
"Tentu saja sudah, iya kan Kakak ipar." sahut Leo tiba-tiba, pemuda 18 tahun itu selalu ceplas ceplos menjawab pertanyaan orang walau bukan dirinya yang di tanya.
Larenia langsung melotot kesal, tau apa adiknya itu tentang dirinya.
"Tau apa kau!" bentak Larenia karena saat ini ibunya belum berada di sana jadi dirinya akan bebas memarahi adiknya itu.
"Mommy, Kakak marah-marah Mom, kemarilah Mom lihat bagaimana sifat putri kesayangan Mommy." teriak Leo memanggil ibunya yang berada di dapur menyiapkan makan siang untuk mereka semua.
"Diam!" perintahnya.
Larenia lalu memutar lehernya menghadap Ayahnya dan memasang wajah begitu manja.
"Dad, lihat putra Daddy yang satu ini suka sekali mengadukanku kepada Mommy." adunya seperti itu.
Louis yang sangat dekat dengan putri kesayangannya itu, langsung mengelus bahu Larenia menenangkan anaknya.
"Jangan hiraukan adikmu, dia dari semalam bertingkah Daddy capek meladeninya, untuk saat ini kau saja yang mengalah." ucap Louis.
Larenia menghembuskan napas sedikit kecewa, tanpa sengaja ia bertatap muka dengan Navier yang dari tadi tidak bersuara, ia pun langsung membuang muka entah kekesalan apa yang membuat Larenia tidak suka dengan suaminya.
Sesaat gadis itu memeluk Ayahnya lalu berdiri hendak menuju kamarnya, tidak lupa Larenia mengajak Navier agar bisa membantunya.
"Dad, aku tinggal sebentar dulu, mau berkemas ... Aku akan tinggal bersama dengan suamiku mulai sekarang Dad dan aku akan pindah ke rumah suamiku." tutur Larenia sebelum melanjutkan langkahnya.
"Baiklah sayang, Daddy pikir itu akan lebih baik." sahut Louis walau sebenarnya dirinya sedikit berat.
Navier hendak mengikuti Larenia sesaat berhenti saat Louis menarik tangannya.
"Nak, aku minta kau bisa tahan dengan sifat putriku dan kuharap kau tidak pernah mengecewakannya." kata Louis. Lelaki itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya Dad, aku pastikan akan bisa membuat istriku bahagia, Dad tenang saja." jawab Navier.
Larenia tampak memanggilnya, Lelaki itu pun mengakhiri percakapan yang baru saja di mulai dengan mertuanya.
"Dad, aku keatas dulu, Larenia memanggilku."
"Iya keataslah, putriku tidak suka menunggu." ujar Louis tersenyum aneh, Navier menyengir heran akan mertuanya itu.
***
Setelah pulang dari apartemen salah satu pegawainya yang menolongnya kemarin, Mikel kini kembali di sibukkan dengan pekerjaannya, pikiran dan hatinya masih tidak merelakan gadisnya menikah dengan orang lain.
Terlihat pandangannya penuh dengan beban, seharusnya dirinyalah yang menikah dengan Larenia dan bukan orang lain. Sesekali lelaki itu tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.
Julia bahkan tidak tau ada apa dengan atasannya itu, tidak biasanya Mikel terlihat kacau dan lusuh begini.
"Ada apa denganmu Tuan, kenapa aku melihat kau dari tadi terlihat tidak bersemangat dan bertenaga?" tanya Julia yang saat ini berdiri di samping Mikel membawa sebuah dokumen untuk di tanda tanganngi.
"Larenia ...." ucapnya begitu pelan, Julia yang mendengarnya mengerutkan kening, atasannya menyebut nama seorang gadis yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Larenia siapa gadis itu Julia tidak tau.
"Kenapa dia harus menikah dengan orang lain dan bukan denganku?" tanya Mikel tiba-tiba berteriak, Julia kaget mendengarnya.
"Tu-an ... Siapa yang Anda maksud?"
"Larenia? Siapa gadis itu?" tanya Julia beruntun.
Mikel sesaat mengangkat wajahnya menatap Julia.
"Larenia ... Dia gadis yang aku cintai, dia kemarin sudah di nikahi oleh lelaki lain, aku tidak rela gadisku menikah dengan orang lain"
"Julia maukah kau membantuku mendapatkannya, aku ... aku akan memberikan uang lebih kepadamu." ucap Mikel, ia menatap Julia begitu serius, berharap wanita itu mau membantunya untuk mendapat Larenia.
Julia membulatkan kedua mata, apa yang baru saja dirinya dengar dari atasannya ini, bukannya selama ini mereka sudah berhubungan? apa Mikel tidak pernah merasakan perasaannya?
"Aa-pa? Gadis yang kau cintai Tuan? tapi aku tidak pernah mendengar Anda menyebut namanya sebelumnya?" tanya Julia meski hatinya terasa sesak, ternyata selama ini Mikel diam-diam mencintai seorang gadis.
"Kau tidak perlu tau siapa dirinya, aku hanya memintamu untuk memisahkan dia dan suaminya, kau maukan membantuku, aku akan memberikankan uang kepadamu lebih banyak, yang penting kau mau membantuku mendapatkannya." kata Mikel.
Julia tampak berpikir, ia mencintai Mikel namun ternyata lelaki itu mencintai orang lain terlebih lagi gadis yang atasannya itu suka sudah berstatus istri orang.
"Tuan, kenapa Anda menyukai gadis yang sudah menikah dengan orang lain, bukannya masih banyak gadis lain yang akan mencintai Anda Tuan."
"Termasuk aku." ucap Julia dalam hatinya, ia berharap Mikel bisa melihatnya sebagai seorang perempuan dan bukan sebagai pemuas nafsu saja.
"Heh! Itu hanya sebuah status, aku tau jika Larenia menikah dengan lelaki itu karena desakan ayahnya."
"Dia tidak mencintai lelaki itu."
"Tuan bukannya Anda juga tidak di cintai olehnya?"
Mikel tersenyum miring.
"Memang Larenia tidak mencintaiku juga tapi aku mencintainya, bisa kupastikan diakan bahagia saat bersamaku dari pada lelaki itu." ucap Mikel dengan yakin.
Selama ini, ia berteman dengan Larenia sejak lama, tentu saja Mikel bisa tau segala tentangnya.
.
.
.
.
.