
Sebulan berlalu, Larenia kembali merasa kecewa harapan dan keinginan kembali belum terwujud, hasil tes pack yang baru saja ia coba tetap menujukan hasil negatif, padahal ia dan suaminya tidak ada kelainan, keduanya sehat-sehat saja dan hasil pemeriksaan pun mengatakan jika keduanya dalam keadaan normal.
Tapi kenapa sampai sekarang ia belum juga hamil. Hal-hal buruk mulai menghantui Larenia, dirinya takut jika suaminya kecewa kepada dirinya karena belum bisa hamil hingga saat ini.
Larenia berjalan keluar dari kamar mandi dengan wajah lesuh. Navier yang menunggu di luar langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Sabar sayang, aku tidak terburu-buru ... mungkin belum saatnya kita di karunia anak, lagipula usia kita masih terbilang muda, aku mencintaimu." ucap Navier mengecup kening istrinya memejamkan matanya.
Larenia membalas pelukan itu membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami, kapan mereka bisa memiliki anak seperti pasangan lainnya dan hidup bahagia, kenapa keinginannya kali ini susah terwujud.
"Jangan menangis, aku tidak tega melihatmu seperti ini." guman Navier begitu lembut, hati Larenia yang dari dulu sangat dingin perlahan luluh akan perhatian suaminya.
Navier tipikal suami idaman, tidak heran jika begitu banyak yang memuji suaminya kala Larenia di antar jemput oleh suaminya jika ke kantor, awalnya ia bisa saja dan tidak menanggapinya pujian para pegawai itu. Namun lambat laun Larenia kadang tidak suka jika ada wanita lain menginginkan suaminya, bukankah Navier hanya miliknya dan orang lain tidak boleh mengambil apa yang ia miliki.
Sifat manja dan posesif Larenia tunjukkan di hadapan semua orang tanpa rasa malu.
"Aku tidak menangis, maafkan aku, Navier." ucap Larenia melepas pelukan dan berangsur menuju lemari pakaian.
Navier mengikuti langkah istrinya dan memeluk tubuh Larenia dari belakang.
"Sayang, apa kau ingin berbulan madu?" tanya Navier mengecup punggung istrinya.
"Kapan?" Larenia bertanya balik, ia meraih dress berwarna kuning selutut.
"Minggu ini, apa kau siap."
Larenia untuk sesaat terdiam, ia membalik tubuh menghadap suaminya.
Wanita itu tersenyum cerah, "Baiklah, aku siap." jawab Larenia mengecup bibir suaminya sebelum melepas pelukan Navier dan ia mengganti baju.
***
Navier bersenandung sambil melangkah setelah mendapatkan tiket untuk bulan madunya dengan istrinya beberapa hari lagi, Charles yang melihat temannya yang begitu bahagia hanya menggelengkan kepala seakan tidak percaya jika lelaki yang pemalu seperti Navier itu akan bisa terlihat sebahagia ini.
"Tidak bisakah wajah bahagiamu itu tidak kau tunjukkan di depanku! kau tau itu menyebalkan!" kata Charles berdecak.
"Masalah? wajar saja jika aku bahagia, minggu ini aku dan istriku akan menghabiskan waktu bersama tanpa di ganggu siapapun?"
"Oh ... kau pasti iri kepadaku bukan, Charles ... Charles, kasihan sekali dirimu yang jomblo." ejek Navier menertawakan temannya sekaligus sebagai orang kepercayaannya.
Charles melirik Navier dengan kesal, kenapa lelaki di sampingnya ini menjadi sangat menyebalkan setiap harinya.
"Cih, jangan sombong, aku pastikan tidak lama lagi jodohku akan datang."
"Jomblo, yah jomblo aja ... kau jangan iri kepadaku, karena hanya ada wanita cantik di dunia ini dan namanya itu Larenia, putri kesayangan pengusaha sukses Louis Xavier Alexander, umm jangan lupa dia itu istriku."
"Navier, kau benar-benar sangat menyebalkan."
Lelaki itu tertawa lepas melihat raut wajah kesal dari temannya, ponselnya yang berdering membuat langkah Navier berhenti untuk sesaat.
"Charles diamlah, istriku menelepon, aku mau mengangkatnya."
"Iya ... iya, silakan tuan."
Navier tersenyum lalu menepuk pundak Charles, lalu melangkah sedikit jauh dari jangkau Charles.
Butuh lima belas menit bagi Charles menunggu temannya selesai menerima telepon dari wanita yang menjadi istri temannya itu, sekali Charles memejamkan mata, raut wajah Navier sangat bahagia. Tidak bisa di pungkiri jika istri dari Navier sangat cantik dan sangat kaya, bisa membuat orang iri.
Charles awalnya tidak percaya jika orang yang di nikahi oleh Navier itu adalah keluarga dari kalangan orang kaya, mungkin kekayaan keluarga istri dari temannya itu tidak akan bisa habis. Dibalik semua itu, sifat Larenia lebih menyebalkan dari Navier, semenjak awal pertemuan mereka Charles hanya mendapatkan perlakuan kurang bagus dari Larenia.
Ketus dan jutek bahkan terkadang suka seenaknya memerintah.
Charles yang di buat kaget hanya mengelus dada dan mengatur napasnya.
"Mengagetkan saja, baiklah." jawab Charles.
"Oh, iya ... kau pulang menggunakan taxi saja, aku mau menjemput istriku."
"Iya." sahut Charles seakan ini sudah menjadi kebiasaannya di tinggalkan oleh Navier padahal lelaki itu sendiri yang selalu mengajaknya kemana-mana dan berakhir dengan dirinya pulang sendiri menggunakan taxi.
"Teman pengertian, kalau begitu pulanglah ... ibumu pasti sudah menunggumu pulang."
"Sampai jumpa."
Navier segera menuju mobil miliknya yang terparkir rapi di depan gedung itu, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya. Hampir setiap saat ia merindukan Larenia begitupun sebaliknya.
Mereka saling merindukan satu sama lain. Cinta keduanya bahkan terlihat, walau Larenia tidak semesra seperti wanita pada umumnya tapi jika wanita itu cemburu sifatnya akan menjadi sangat lucu bagi Navier.
Tidak butuh waktu lama, Navier menepikan mobilnya di depan pintu perusahaan ayah mertuanya, setelah identitas Larenia terungkap semua pegawai di sana tidak ada yang berani macam-macam lagi, mereka tidak ingin berakhir seperti Amanda.
Larenia baru saja keluar dari kantor langsung menghampiri suaminya yang sudah menunggunya di depan kantor bersandar di pintu mobil terlihat sangat tampan.
"Aku merindukanmu sayang." Navier langsung memeluk istrinya dan menyelimuti tubuh Larenia dengan tubuhnya yang dua kali lebih besar.
Aroma khas dari tubuh Navier selalu membuat Larenia menikmati pelukan hangat dan nyaman itu, hingga kehadiran Louis seketika kemesraan mereka terbuyar.
"Daddy, ais ganggu aja." decak Larenia kesal.
"Putri Daddy sudah dewasa, rupanya kalian cukup mesra." ujar Louis tersenyum aneh, sebagai orang yang sudah menikah bertahun-tahun tentu saja Louis paham semuanya.
Ia melirik Navier dan memperhatikan tubuh pria itu dari atas hingga ujung kaki, tiba-tiba saja Louis memukul paha Navier hingga membuat menantunya itu kaget.
Larenia yang terima suaminya di pukul oleh sang ayah langsung memberi tatapan horor kepada Louis.
"Daddy, jangan menyakiti suamiku."
"Astaga sayang, tidak mungkin Dad menyakiti menantu Daddy sendiri."
"Terus kenapa Daddy memukul pahanya?"
Louis tersenyum, Larenia mengerutkan kening heran akan ayahnya.
"Larenia, jangan salah paham mengira jika Daddy memukul suamimu." Louis sesaat menjeda perkataannya, ia mengambil napas.
"Begini sayang, dengarkan tapi kalian jangan malu, daddy bisa melihatnya."
"Apa Dad?"
Louis hanya menunjukkan senyum, ia tidak menjawab pertanyaan Larenia dan apa yang hampir saja ia katakan tadi. Louis harus bisa mengontrol isi pikirannya sendiri agar tidak ia ucapkan terlebih kepada anak dan menantunya.
"Sayang, Dad pamit ... mommy sepertinya sudah. aku menunggu, oh iya kapan-kapan kalian berdua datanglah, kami semua selalu menunggu."
"Daddy sangat mencintaimu."
Larenia melambaikan tangan untuk ayahnya sebelum ia masuk kedalaman mobil bersama dengan suaminya.
.
.
Next eps. Mikelnya nongol πΆ maaf mah baru bisa up setelah beberapa hari, tanganku keseleo sedikit.