
Amanda di bawa dan kurung dalam ruangan bawa tanah oleh Louis, pria itu tidak akan membiarkan anaknya untuk mengotori tangannya, Amanda juga sudah mengatakan segalanya kepada Louis karena sebelum itu dirinya di siksa hingga membuat Amanda mengatakan semua kepada Louis dari pada ia harus menderita sendiri ia juga akan membawa Navier kedalam masalah ini.
Navier yang terpaksa mengaku telah memberi obat pengugur kandungan kepada Larenia sehingga mereka hampir saja kehilangan anak yang belum lahir tersebut. Pria itu mengerang kesal sepertinya masalah kedepannya akan semakin rumit. Ia tidak menduga jika Louis akan berkunjung.
Louis mendengar semua pengakuan itu marah besar, kali ini Louis tidak akan mengampuni Amanda maupun Navier, walau Navier adalah menantunya namun pria itu juga yang hampir membunuh calon cucunya dalam kandungan Larenia, setelah mendengar pengakuan pria itu yang terjadi sebenarnya, satu tonjokan Louis berikan kepada Navier walau rasanya itu tidak cukup.
Kekecewaan terpancar di wajah Louis, ia sungguh tidak menyangka Navier adalah orang yang sangat mudah terpengaruh dengan perkataan seseorang.
"Apa kau tidak punya hati nurani Navier!" ucap Louis menatap tajam Navier yang tertuduk.
"Maaf, saya terpengaruh oleh perkataan wanita sialan itu."
"Dasar gila, aku tidak tau apa yang ada dalam pikiranmu Navier, seburuk apapun dirimu kau tidak boleh membunuh anak sendiri, seekor singapun tidak akan menyakiti anaknya sendiri walau dia seorang predator sadis." ucap Louis nada suaranya meninggi dari sebelumnya.
"Maaf." hanya kata maaf yang bisa Navier katakan, ia sadar dirinya bersalah sehingga tidak melakukan pembelaan.
Louis sinus melirik Navier, lalu memalingkan wajah kearah Larenia yang mematung di tempatnya. Ia menatap kearah Louis dengan takut, ayahnya sangat marah kepada suaminya.
"Dad." lirih Larenia berlinang air mata.
"Larenia! ikut Daddy pulang kerumah." ucap Louis menarik tangan putrinya.
"Aku tidak mau Dad, tolong maafkan suamiku ... aku tidak mau berpisah dengannya." tolak Larenia menggeleng.
"Kau tidak boleh di sini, ayo ikut Daddy pulang. Jangan membantah!"
"Daddy salah telah menikahkan mu dengan orang seperti dirinya, orang yang tidak punya hati nurani dan tega ingin membunuh anaknya sendiri." lanjur Louis menunjuk Navier yang tidak melakukan perlawanan atau menyela ucapannya.
"Tidak Dad, aku justru beruntung bisa menikah dengannya, tolong jangan pisahkan kami."
"Larenia dengarkan Daddy! jangan keras kepala."
Louis menarik tangan Larenia memaksa putrinya itu mengikuti langkahnya walau Larenia berteriak dan menolaknya, namun Louis tidak peduli, ia akan tetap membawa putrinya pergi dari rumah itu. Larenia terus memberontak namun ia dibawa paksa oleh ayahnya di bantu dengan Anton, tangan kanan Louis.
Navier di beri hukuman selama dua bulan agar tidak mengunjungi Larenia sementara waktu sampai keadaan membaik, dan Navier juga akan kehilangan haknya atas anaknya kelak, Louis akan mengambil seluruh tanggung jawab cucu pertamanya akan tinggal bersama dengannya. Mungkin ini yang terbaik untuk semua orang.
Walau Larenia tidak terima, apa boleh buat Louis adalah orang yang tidak bisa Larenia lawan dan ia hanya bisa pasrah.
Larenia memandang rumah suaminya, ia harus pergi selama dua bulan lamanya. Larenia sadar jika ayahnya marah besar.
***
Sepanjang malam Larenia tidak bisa tidur, untuk pertama kalinya ia akan tidur tanpa ada suaminya di sisinya. Larenia tidak menangis karena tidak mau terlihat lemah di depan keluarganya.
Jika dirinya menangis, ayahnya akan marah kepada Navier dan malah memperpanjang perpisahan sementara mereka. Sebenarnya bukan hanya Navier yang di hukum namun dirinya juga tengah di hukum oleh ayahnya dengan memisahkan dirinya dari Navier.
Mungkin suaminya melakukan kesalahan, bukankan wajar jika seseorang memiliki kesalahan. Larenia merasa jika ayahnya bertindak egois.
Ia merebahkan tubuhnya lalu mengelus perutnya yang mulai membuncit, sayang sekali dirinya yang saat ini sedang hamil tidak mendapat perhatian dari suaminya sendiri, Larenia hanya menghela napas.
Ceklek.
Pintu kamarnya terbuka karena memang dari dulu kamarnya itu tidak pernah terkunci.
"Ada apa?" tanya Larenia tanpa melihat orang yang masuk ke kamarnya.
"Mommy mencari kakak, di dapur sudah di tunggu." sahut Leo.
"Baiklah." Larenia berkata dengan singkat, kembali iya bangun dan mengikuti Leo menuju dapur.
Tiba di sana, Larenia tersenyum tipis kepada ibunya.
"Sayang mendekatlah." Zenia mengerakkan tangan memanggil putrinya agar mendekat.
"Iya mom, ada apa?" tanya Larenia.
Zenia tiba-tiba memeluk tubuhnya sembari mengusap punggungnya dengan lembut.
"Nak, jangan terlalu sedih, semuanya akan baik-baik saja, percaya kepada mommy yah." ucap Zenia menepuk-nepuk punggung Larenia, sebagai ibu ia bisa merasakan kesedihan anaknya.
"Iya mom." sahut Larenia suaranya terdengar tidak bersemangat.
Zenia menghela napas melepas pelukannya, lalu menatap kedua mata Larenia begitu intens.
"Humm ... sebenarnya mommy juga kecawa kepada Navier, tidak seharusnya dia melakukan itu bagaimanapun keadaannya tapi mommy juga salut karena dia sudah jujur."
"Tenanglah sayang, Daddymu marah tidak akan lama." ucap Zenia mengelus pipi putrinya.
"Iya Mom." sahut Larenia pelan.
Larenia melirik arah meja makan yang penuh dengan masakan ibunya.
"Mom, yang masak?" tanya Larenia.
"Iya sayang, ayo kita makan malam." ajak Zenia menuntun Larenia duduk di kursi makan dan duduk di sampingnya.
"Mau apa? biar mommy yang ambilkan."
"Tidak perlu mom, aku sudah dewasa bisa mengambil sendiri."
"Baiklah sayang, makan yang banyak yah, mommy panggil Daddy dulu."
Larenia mengangguk pelan, kondisinya sekarang tidak bisa di katakan baik-baik saja, ia harus rela di pisahkan oleh suaminya selama dua bulan. Navier harus menjalani hukuman yang di berikan oleh Louis.
Larenia mulai menyantap makan malam yang di siapkan oleh ibunya, tidak lama berselang kedua orangtuanya dan adik-adiknya ikut bergabung.
"Ehem." Louis berdehem, Larenia hanya menunjukkan senyum tipis kepada ayahnya.
Semuanya duduk di kursi masing-masing, hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar, suasananya hening dan menikmati makanan masing-masing, sesekali mereka melirik kearah Larenia dan Louis secara bergantian.
Zenia menggeleng, sangat susah membuat putri dan suaminya kembali rukun, karena mereka sama-sama keras kepala dan mempunyai temperamen sangat buruk, bisa-bisa keadaan akan semakin kacau dari saat ini.
Leo dan Lyra saling memandang, suasana mencekam mereka berdua rasakan, ayah dan kakaknya memiliki kadar kemiripan hampir seratus persen dan keduanya sangat tau jika tidak akan ada yang mau mengalah.
"Mom, aku mau kembali kekamar, sudah kenyang." ucap Larenia berdiri dari kursi.
"Baik sayang, selamat malam, jangan bersedih kami ada di sini bersamamu."
"Iya, selamat malam."
Setelah Larenia beranjak pergi dari sana, Louis melempar sendok makan.
"Anak keras kepala, kenapa dia masih marah kepadaku, apa salahku." ucap Louis merasa frustrasi.
"Berkacalah, kalian berdua itu sama-sama keras kepala dan sebaiknya kau meminta maaf kepada putriku Louis." kata Zenia dingin.
"Kenapa harus aku honey, yang bermasalah adalah suaminya bukan aku."
"Iya, Navier memang bersalah di sini, tapi pikirkan perasaan putriku, dia itu hamil empat bulan dan selama dua bulan ia tidak akan bertemu dengan suaminya dan ini semua karena gara-gara kamu."
"Seharusnya dulu aku tidak setuju menikahkan putriku untuk menikah di usianya yang masih muda dan yang meyakinkanku itu adalah kamu."
"Honey, kenapa kau ikut marah, Larenia itu bukan hanya putrimu tapi dia anak kita berdua, jangan berkata seperti itu lagi."
"Memang kenapa? aku yang mengandung dan melahirkannya."
"Honey, maaf."
"Sudah diamlah dan kembalikan Larenia bersama suaminya."
"Tidak akan sampai dua bulan."
"Jangan egois, Larenia sedang hamil dan ia tidak boleh stres, bukannya Navier sudah menyesali perbuatannya dan sudah berkata jujur."
"Honey jangan marah, anak-anak masih di sini." ucap Louis.
"Aku tidak peduli, biarkan mereka melihat bagaimana dirimu."
"Ahhh, sudah ... aku mau bekerja saja." Louis mengakhiri perdebatan dengan segara pergi ke ruangan kerja.
.
.
.